Wednesday, May 25, 2016

SULUK LINGLUNG SUNAN KALIJOGO

Suluk Linglung adalah wejangan Nabi Khidir kepada Kanjeng Sunan Kalijogo. Ketika itu Sunan Kalijogo akan pergi ke Mekkah, tapi Sunan Kalijogo dicegah oleh Nabi Khidir, karena bila Sunan Kalijogo pergi maka penduduk Pulau Jawa akan kembali kafir. Akhirnya Sunan Kalijogo membatalkan kepergiannnya. Inilah kutipan wejangannya:

birahi ananireku, 
aranira Allah jati. 
Tanana kalih tetiga, 
sapa wruha yen wus dadi, 
ingsun weruh pesti nora, 
ngarani namanireki

Timbullah hasrat kehendak Allah menjadikan terwujudanya dirimu; dengan adanya wujud dirimu menunjukkan akan adanya Allah dgn sesungguhnya; Allah itu tidak mungkin ada dua apalagi tiga. Siapa yg mengetahui asal muasal kejadian dirinya, saya berani memastikan bahwa orang itu tidak akan membanggakan dirinya sendiri.

Sipat jamal ta puniku, 
ingkang kinen angarani, 
pepakane ana ika, 
akon ngarani puniki, 
iya Allah angandika, 
mring Muhammad kang kekasih.

Ada pun sifat jamal (sifat terpuji/bagus) itu ialah, sifat yang selalu berusaha menyebutkan, bahwa pada dasarnya adanya dirinya, karena ada yang mewujudkan adanya. Demikianlah yang difirmankan Allah kepada Nabi Muhammad yang menjadi Kekasih-Nya

Yen tanana sira iku, 
ingsun tanana ngarani, 
mung sira ngarani ing wang, 
dene tunggal lan sireki iya Ingsun iya sira, 
aranira aran mami

Kalau tidak ada dirimu, Allah tidak dikenal/disebut-sebut; Hanya dengan sebab ada kamulah yang menyebutkan keberadaan-Ku; Sehingga kelihatan seolah-olah satu dengan dirimu. Adanya Aku, Allah, menjadikan dirimu. Wujudmu menunjukkan adanya Dzatku.

Tauhid hidayat sireku, 
tunggal lawan Sang Hyang Widhi, 
tunggal sira lawan Allah, 
uga donya uga akhir, 
ya rumangsana pangeran, 
ya Allah ana nireki.

Tauhid hidayah yang sudah ada padamu, menyatu dengan Tuhan. Menyatu dengan Allah, baik di dunia maupun di akherat. Dan kamu merasa bahwa Allah itu ada dalam dirimu

Ruh idhofi neng sireku, 
makrifat ya den arani, 
uripe ingaranan Syahdat, 
urip tunggil jroning urip sujud rukuk pangasonya, 
rukuk pamore Hyang Widhi

Ruh idhofi ada dalam dirimu. Makrifat sebutannya. Hidupnya disebut Syahadat (kesaksian), hidup tunggal dalam hidup. Sujud rukuk sebagai penghiasnya. Rukuk berarti dekat dengan Tuhan pilihan.

Sekarat tananamu nyamur, 
ja melu yen sira wedi, 
lan ja melu-melu Allah, 
iku aran sakaratil, 
ruh idhofi mati tannana, 
urip mati mati urip.

Penderitaan yang selalu menyertai menjelang ajal (sekarat) tidak terjadi padamu. Jangan takut menghadapi sakratulmaut, dan jangan ikut-ikutan takut menjelang pertemuanmu dengan Allah. Perasaan takut itulah yang disebut dengan sekarat. Ruh idhofi tak akan mati; Hidup mati, mati hidup.

Liring mati sajroning ngahurip, 
iya urip sajtoning pejah, 
urip bae selawase, 
kang mati nepsu iku, 
badan dhohir ingkang nglakoni, 
katampan badan kang nyata, 
pamore sawujud, pagene ngrasa matiya, 
Syekh Malaya (Sunan Kalijogo) den padhang sira nampani, 
Wahyu prapta nugraha.

Mati di dalam kehidupan. Atau sama dengan hidup dalam Kematian. Ialah hidup abadi. Yang mati itu nafsunya. Lahiriah badan yang menjalani mati. Tertimpa pada jasad yang sebenarnya. Kenyataannya satu wujud. Raga sirna, sukma mukhsa. Jelasnya mengalami Kematian! Syeh Malaya (Sunan Kalijogo), terimalah hal ini sebagai ajaranku dengan hatimu yang lapang. Anugerah berupa wahyu akan datang padamu.

Dari wejangan Nabi Khidir kepada Sunan Kalijogo, kita bisa lebih mengenal  Allah swt dan seharusnya manusia tidak takut untuk menghadapi Kematian. Disamping itu juga terdapat wejangan tentang bagaimana seharusnya tafakur yg disebut “mati sajroning ngahurip” dan bagaimana dlm menjalani kehidupan di dunia ini.

No comments:

Post a Comment