Wednesday, May 25, 2016

SULUK SYEIKH SITI JENAR

Suluk Syeikh Siti Jenar menceritakan nasib Siti Jenar yang mirip dengan nasib Al-Hallaj. tetapi dalam beberapa hal terdapat perbedaan mendasar tentang penghukuman itu di dalam pembahasan ini digunakan sebuah Serat yang berjudul Suluk Syeikh Siti Jenar (alih aksara oleh Sutarti, 1981). Suluk ini menceritakan Syeikh Siti Jenar yang di anggap sebagai wali yang sakti yang berasal dari bangsa sudra. Dia mendapat ilmu ketika mendengarkan ajaran Sunan Bonang kepda Sunan Kalijaga waktu Sunan Bonang mengajarkan ilmu di pesisir pantai naik perahu. Syeikh Siti Jenar lalu mendapatkan Ilham yang kemudian mendirikan ajaran. Ajaran Syeikh Siti Jenar ini disebut sebagai Tekad Kajabariyah Kodariyah yang mengakui adanya dzat Allah. Allah mempunyai 20 sifat dianggap melekat dengan dunia dan menjadi zat Allah (Wujud Mutlak).

Menurut ajaran ini manusia terdiri atas dua anasir, yakni: 

1) Aku (diri) yang sementara yang busuk menjadi tanah. 
2) Aku (Yang Haq) yang Abadi yang hidup dengan Kayad Hayun, yang tidak merasa sakit dan susah yang mempunyai 20 sifat. Aku mempunyai sifat Jalal dan Kalam. Inilah yang dianggap sebagai Tuhan. Wujud Aku bersama aku, tetapi juga terpisah dengan aku. sifat-sifat-Nya menyusup dalam aku.

 Ajaran Syeikh SitiJenar mengangggap bahwa raga yang digunakan untuk hidup ini adalah bangkai. ia mengatakan bahwa hidup ini adalah “mati” yang mendapatkan siksa (karena merasa sakit, susah dan sebagainya) hal ini seperti di ungkapkan dalam suluk Syeh Siti Jenar sebagai berikut :

Siti Jenar pemengkuning urip
Nyipta rinten-ratri maot purwaning kuna idhup
Ngunandika pangeran Siti Brit
Ngungun rumaket pejah
Kyeh nraka kerasuk
Lara lapa adhem panas
Putek bingung risi susah jroning pati
Seje urip kang mulya

(Siti Jenar memandang bahwa dunia ini adalah Kematian, siang-malam memikirkan maut, tetapi merupakan awal dari kehidupan. Berfikir Pangeran Siti Brit, terheran bahwa dekat dengan mati banyak yang masuk neraka, merasa sakit susah, panas dingin, kebingungan, risi, susah di dalam mati). Karena hidup di dunia dianggap sebagai mati, tujuan di dunia ini ialah mencapai kehidupan yang lepas, yakni kehidupan dengan kayad kayun, suatu kehidupan yang sejati, hidup sebagai Aku, yang bersifat ilahi. Urip Sak jroning Pati, Pati Sak Jroning Urip ( Sumber: Sastra Sufistik: Bani Sudardi: Hal 102).

No comments:

Post a Comment