Friday, June 17, 2016

SYEIKH KEPALA IKAN

Seorang nelayan yang Sholeh di Tunisia tinggal di sebuah gubuk yang sederhana dari tanah liat. Setiap hari ia melayarkan perahunya untuk menangkap ikan. Setiap hari, setiap hari menjala ikan sambil berdzikir kepada Tuhan-nya. ia terbiasa menyerahkan seluruh hasil tangkapannya pada orang-orang miskin dan hanya menyisakan sepotong kepala ikan untuk ia rebus sebagai makan malamnya.

Nelayan itu lalu berguru kepada syaikh besar yang Sufi, Syeikh Muhyiddin Ibnu 'Arabi RA . Seiring dengan berlalunya waktu, ia belajar dan sangat bersungguh-sungguh, ia pun dipercaya oleh Guru nya untuk menjadi seorang perwakilan Guru nya di daerahnya, dia menjadi seorang syaikh. Karena dia terkenal selalu makan hanya kepala ikan saja, maka dia pun di kenal sebagai ‘Syeikh Kepala Ikan’. Suatu saat, salah seorang murid Syeikh kepala ikan akan mengadakan perjalanan ke Spanyol. Syeikh Kepala Ikan itu memintanya untuk mengunjungi Syaikhul Akbar Ibn Arabi. Kemudian syeikh itu berpesan agar dimintakan nasihat bagi dirinya dari Gurunya. Ia merasakan kebuntuan dalam jiwanya.

Pergilah murid itu ke kota kediaman Ibn Arabi. Kepada penduduk setempat, ia menanyakan tempat tinggal sang syaikh. Orang-orang menunjukkan kepadanya sebuah puri indah bagai istana yang berdiri di puncak suatu bukit. “Itulah rumah Syaikh,” ujar mereka. Murid itu amat terkejut. Ia berfikir betapa amat duniawinya Ibn Arabi, dibandingkan dengan gurunya sendiri, yang tak lebih dari seorang nelayan sederhana. Dalam bayangan si murid, gurunya sang Syeikh Kepala ikan sangatlah zuhud, tinggal di gubuk dan hanya memakan kepala ikan saja, maka pastilah Syeikh al akbar Ibn Arabi lebih zuhud, lebih miskin lagi. Menurutnya Zuhud adalah meninggalkan dunia dalam arti zahir.

Dengan penuh keraguan, ia pun pergi mengunjungi rumah mewah yang ditunjukkan. Sepanjang perjalanan ia melewati ladang-ladang yang subur, jalanan yang bersih, dan kumpulan sapi, domba, dan kambing. Setiap kali ia bertanya kepada orang yang dijumpainya, selalu ia memperoleh jawaban bahwa pemilik dari semua ladang, lahan, dan ternak itu tak lain ialah Ibn Arabi. Tak henti-hentinya ia bertanya kepada diri sendiri, bagaimana mungkin seorang materialistik seperti itu boleh menjadi seorang guru sufi.

Ketika tiba ia di puri tersebut, apa yang paling ditakutinya terbukti. Kekayaan dan kemewahan yang disaksikannya di rumah sang syaikh tak pernah ia bayangkan, bahkan walaupun hanya dalam mimpinya. Dinding rumah itu terbuat dari marmer, seluruh permukaan lantainya ditutupi oleh karpet-karpet mahal. Para pelayannya mengenakan pakaian dari sutra. Baju mereka lebih indah dari apa yang dipakai oleh orang terkaya di kampung halamannya. Murid itu meminta untuk bertemu dengan sang syaikh. Pelayan menjawab bahwa Syaikh Ibn Arabi sedang mengunjungi khalifah dan akan segera kembali. Tak lama kemudian, ia menyaksikan sebuah arak-arakan mendekati puri tersebut. Pertama muncul pasukan pengawal kehormatan yang terdiri dari tentara khalifah, lengkap dengan perisai dan senjata yang berkilauan, mengendarai kuda-kuda arabia yang gagah. Lalu muncullah Ibn Arabi dengan pakaian sutra yang teramat indah, lengkap dengan surban yang lazim dipakai para sultan.

Si murid syeikh kepala ikan lalu dibawa menghadap Ibn Arabi. Para pelayan yang terdiri dari para pemuda tampan dan gadis cantik membawakan kue-kue dan minuman. kemudian Murid itu pun menyampaikan pesan dari gurunya. Gurunya, syeikh kepala ikan ingin meminta nasihat dari Syeikh Ibn Arabi. Ia menjadi tambah terkejut dan geram ketika Ibn Arabi mengatakan kepadanya,
"Katakanlah pada gurumu, masalah yang ada pada Guru mu adalah, ia masih terlalu terikat kepada dunia. Suruh dia melepaskan dunia secara keseluruhan, dan tinggal lah bersama Allah dan Rasul-Nya saja”. Tatkala murid itu kembali ke kampungnya, Syeikh kepala ikan pun dengan antusias menanyakan apakah ia sempat bertemu dengan Sang Guru, syaikh besar itu. Dipenuhi keraguan, murid itu mengaku bahwa ia memang telah menemuinya. “Lalu?,” tanya Syeikh Kepala ikan, “apakah ia menitipkan kepadamu suatu nasihat bagiku?”

Pada awalnya, si murid enggan mengulangi nasihat dari Ibn Arabi. Ia merasa amat tak pantas mengingat betapa berkecukupannya dan sangat mewah yang ia lihat dari kehidupan Ibn Arabi dan betapa berkekurangannya kehidupan gurunya sendiri, sang Syeikh kepala ikan. Namun karena guru itu terus memaksanya, akhirnya murid itu pun bercerita tentang apa yang dikatakan oleh Ibn Arabi. Mendengar itu semua, Syeikh Kepala ikan itu berurai air mata. Muridnya tambah bingung dan heran, bagaimana mungkin Ibn Arabi yang hidup sedemikian mewah, berani menasihati gurunya bahwa ia terlalu terikat kepada dunia.

“Dia benar,” jawab Syeikh Kepala Ikan, “ia Syeikh Al Akbar Ibn Al Arabi benar-benar tak pernah peduli dengan semua yang ada padanya. Yang datang dan yang pergi, yang di miliki dan yang hilang darinya, semua dia anggap sebagai titipan saja, dia jaga sewaktu ada bersamanya, dan dia tak sesali saat apa saja pergi dan hilang darinya. Dia tak mengejar dunia dengan hatinya, dia mengambil dunia untuk sarana dia berdakwah saja, untuk menjaga keluarganya, dan untuk mensejahterakan ummat. Sedangkan aku, setiap malam ketika aku menyantap kepala ikan, selalu aku berharap seandainya saja itu seekor ikan yang utuh. aku selalu saja membayang-bayangkan rasanya daging ikan yang utuh".

No comments:

Post a Comment