Saturday, March 7, 2015

JAMAAH TABLIGH DI MATA ANAK PUNK

Jika Allah swt dan Islam ajarannya sesempit yang mereka andaikan terhadap dakwah ini dan segala perkara bid’ah yang mereka fitnahkan, lebih baik saya menyembah ibu saya yang sangat bijaksana.

Maulana Zakariya Al-Kandahlawi rah katakan, "Seseorang berubah bukan karakternya melainkan arah hidupnya, sebagaimana kerasnya watak Umar r.a dimasa jahiliyah yang tidak berubah saat ia memeluk islam". Namun karakter beliau dalam Islam terarah kepada maksud Dakwah, yakni menyeru kepada kebenaran dan kebaikan (Menyeru kpd Tauhid dan Sunnah). Percuma berkarakter baik kalau tidak di redha Allah? Disekitar kita banyak Mahatma Gandhi juga seorang yang baik tapi sama-sama kita tahu dia mati tanpa iman (Tauhid), bukan? Percuma sekali.

Dan saya menyaksikan sendiri kematian seorang rakan yang wataknya sangat keras dalam urusan agama. Saya pernah merasakan langsung kekerasan wataknya, namun melihat jasadnya bikin saya merinding, begetar hati saya lihat senyum indah di wajahnya. Bahkan bukan hanya saya dan kalangan karkun saja yang merasakan apa yang saya rasakan, kebetulan pada saat itu saya duduk di samping kepala almarhum dan saya yang membuka penutup wajah beliau apabila ada tamu yang mau melihat wajah beliau. SubhanAllah, Allahu Akbar, masyaAllah, kalimat itulah yang spontan keluar dari mulut tetangga, kerabat, saudara almarhum, ketika melihat wajah beliau dan hati saya tak henti-henti bergetar, seorang kerabat (bukan karkun) almarhum berujar, “masya Allah saya ingin meninggal seperti ini”.

Masya Allah! Padahal beliau kan ahli bid’ah kerana sering keluar 3 hari, 40 hari, 4 bulan. Padahal beliaukan juga bodoh kerana baca Al-Qurannya belum benar. Padahal beliaukan tegas dan keras dalam dakwah, kadang bicaranya suka menyakitkan menyinggung orang yang dengar, kok bisa ya orang yang menyaksikan kematiannya terkagum-kagum lantaran melihat jasadnya saja?

Beliau seorang mu’alaf usia 65 tahun, hari-harinya beliau habiskan hanya untuk urusan-urusan agama, berkhidmat di Markas Kebun Jeruk, silahturahmi di sekitar rumahnya setiap hari, mengadakan musyawarah setiap pagi di masjid dekat rumahnya dan amalan-amalan lain termasuk menyempurnakan bacaan Al-Qurannya yang masih berantakan. Ia meninggal di kamarnya dalam keadaan tidur pukul 03.00 dini hari, anaknya berkata “Itu waktu ia istiqamah melaksanakan solat Tahajjud”. Sebelumnya ia berniat untuk ambil sambutan kerja (Takazza) untuk berkhidmat di markas Masjid Jami' Kebun Jeruk selama sebulan. Padahal dia baru saja pulang dari 4 bulan jalan kaki dengan tujuan dan waktu keberangkatan yang sama namun beda rombongan jamaah dengan saya. Bukankah Allah Swt mencatat niat seseorang, sekalipun ia belum mengamalkannya. Semoga ia mendapat gelar syahid atas niatnya berkhidmat untuk urusan agama.

Jadi ingat kisah Khalid bin Walid r.a yang tetap digelari syuhada sekalipun kematiannya di tempat tidur. Sebab niatnya ingin mati fi sabilillah. Ada kesamaan dgn almarhum ya’ni dalam riwayat Khalid bin Walid pun hanya baru dapat menghafal 3 surat pendek (Al-Ikhlas, Al-Falaq, Annas) Hayatus Shahabah. Rasulullah s.a.w bersabda, "Barang siapa yang berdoa kepada Allah dengan benar untuk mendapatkan mati syahid, maka Allah akan menyampaikannya kedudukan para syuhada walau pun dia mati di atas tempat tidur". (HR Muslim)

Saya hairan dan kasihan kepada orang yang terpengaruh dalam fitnah mengenai cap bid'ah kepada usaha dakwah ini yang mereka baca dari buku-buku yang telah banyak diedarkan oleh oknum dari golongan (Harokah/Firqah) yang saya anggap memiiliki sentimental dan memandang usaha dakwah ini sebagai saingan terbesarnya dan kepada orang-orang yang selalu memandang remeh kepada oknum-oknum dalam usaha dakwah ini dengan menganggap karkun-karkun adalah orang-orang malas, bodoh, tidak berilmu, tidak ada dalilnya dll. Tidakkah semua telah terbantah so cari kekurangan dan kesalahan apa lagi? Klau hanya melihat dan menilai karakter Oknum, saya pun memiliki penilaian yg bahkan lebih parah dari mereka, jadi tidak ada habis nya kan. Ketika mereka sibuk berfitnah ria dan asik menilai kelemahan dan keburukan orang lain, tapi disini saya justeru semakin betah akan bukti-bukti.

Sementara usaha dakwah ini semakin meluas seiring penyaringan seleksi tarbiyah mana yang mutu imannya betul dan mana yang tidak, mana yang betul-betul mencari redha Allah swt serta niat perbaikan diri dan mana yang ada maksud selain itu, serta mencari kelemahan juga kesalahan orang lain. Mudah-mudahan Allah tetapkan saya selamanya dalam Dakwah ini walupun masih terseyok-seyok, saya sangat mengkwawatirkan diri saya.

Wa'allahu a'lam bissawab, mungkin yang Allah azza wa jalla inginkan kepada kita ialah keberadaan kita dalam kerja dakwah sebagai Da’i (penyeru) dengan melalui proses tarbiyah dalam kerja dakwah tersebut dan yang Allah swt kehendaki ialah keikhlasan kita (hal ini hanya Allah yang tahu), bukan semata amal-amal kita. Sungguh dalam amal itu ada perangkap syaitan (Ingat Muzakarah 7 tipu daya Setan) dan jika kita sadari, kita tak luput dan cendrung terjebak dlm perangkap itu.

Jika Allah swt dan Islam ajarannya sesempit yang mereka andaikan terhadap dakwah ini dan segala perkara bid’ah yang mereka fitnahkan, lebih baik saya menyembah ibu saya yang sangat bijaksana. Selamat jalan Pa Ikhsan. Semoga Allah memaafkan saya atas prasangka dan andaian buruk saya terhadap bapak waktu itu dan semoga tidak ada lagi beban bagi Bapak di akhirat kelak, sebab ketersinggungan saya. Wassalam.

No comments:

Post a Comment