Saturday, March 7, 2015

YANG SERING NAIK PESAWAT, WAJIB BACA!

Allah Sang Faktor Penentu 

Kalau anda naik Biman Air, Bangladesh, melalui pengeras suara acap terdengar tuntunan doa: ‘Bismillahi majrihaa wamursahaa’ dan seterusnya, ditambah lagi, ‘Subhanallazi sakhhoro lanaa haazaa wamaa kunnaa lahuu muqriniin’, ‘wainnaa ilaa robbinaa lamunqolibuun’ (Maha suci Allah yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami tidak sanggup mengendalikannya dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami’). Mungkin, Biman satu-satunya (ditambah beberapa penerbangan dari dan ke Saudi Arabia) yang masih konsisten mengajarkan  lafaz doa itu kepada penumpang.  

Kebanyakan pesawat cuma mengandalkan jasa pramugari untuk memperagakan cara-cara menyelamatkan diri ketika pesawat dalam bahaya. Padahal, diri pramugari itu sendiri yang paling rawan kecelakaan apabila terjadi ‘apa-apa’ terhadap pesawat. Karena memakai rok mini ketat dan sepatu hak tinggi dan terbukti setiap kecelakaan pesawat terbang, hampir dipastikan pramugari ikut tewas.  Jadi cara tersebut tak terbukti kehandalannya  bagi keselamatan penumpang.

Artinya, dalam setiap gerak kehidupan, termasuk safar (perjalanan), di sana ada peranan atau faktor Allah.Tidak dapat mengandalkan kecanggihan teknologi dan ketepatan teknis belaka. Coba kita semak ungkapan-ungkapan ini: ’Jadi semua bingung. Itu pesawat super canggih. Kenapa bisa ada kejadian seperti ini,’ ujar konsultan PT Trimarga Rekatama, Sunaryo di sini manusia lupa, siapa sesungguhnya yang Super Canggih, manusia atau Allah.  

‘Ini kan be or not to be, ini menyangkut jiwa manusia dan bisnis. Jadi apa saja pasti dipertimbangkan,’  Jusuf Kalla, di Lanud Halim Perdanakusumah.

Beberapa pesawat seperti Boeing dan Airbus, juga mengalami. Pun halnya dengan pesawat CN buatan Indonesia. Katanya, ‘Kecelakaan Sukhoi merupakan masalah teknis teknologi’. Teknis teknologi?  Kalau JK benar, mungkin ia lupa, siapa menciptakan awan? Siapa menciptakan udara? Apa Sukhoi dapat terbang tanpa udara? Kalau  tiba –tiba cuaca buruk? Apakah maskapai Sukhoi dan para pemegang saham bisa menciptakan atau mengubah cuaca?  Di mana Allah? ‘Minta izin orbit ke kanan. Jadi selama pesawat itu bermanuver di atas Atang Sendjaja, itu wilayah aman,"kata Mulya Abdi Deputi Senior General Manager PT Angkasa Pura Cabang Bandara Soekarno-Hatta.

‘Pantauan dari radar ATC, saat pilot meminta izin untuk turun ke 6 ribu kaki dan kemudian bermanuver, pesawat berada di zona aman.  Zona aman? Andaikata mata pilot beberapa detik saja tidak dikedipkan Allah, sehingga ia tak dapat melihat wilayah aman, bagaimana? Dan kotak hitam pasti tak dapat merekam kedipan mata!

Semua pernyataan itu kalau diperas intinya bahawa manusia selalu meyakini, faktor kecanggihan teknologi, teknis teknologi dan human error. Coba analisis kata-kata ini, ‘Kecelakaan itu bisa manusia dan teknis’.Hanya manusia dan teknis? Allah dikemanakan? Demikian juga dalam musibah lain seperti tsunami, mereka sebut itu bencana alam. Padahal itu bencana Allah. Banjir, lahar, lumpur, gempa bumi dan sebagainya, mereka sebut bencana alam. Padahal semua itu bencana Allah.

Dulu, Kan’an menolak untuk naik ke dalam kapal ketika ayahnya Nuh as memerintahnya naik ke kapal, ia jawab, ‘Aku pandai berenang, aku akan naik ke atas gunung.’ Kata Nuh, ‘Jangan nak, ini bukan banjir biasa, ini azab Allah’ dijawab, ‘Tak mengapa, aku pandai berenang, aku bisa naik ke puncak gunung.’ Menurut keyakinan Kan’an, banjir biasanya tidak setinggi gunung. Kan’an yakin dengan pengalaman. Tapi akhirnya kuasa Allah juga yang berlaku. Semua kaum Nuh as, termasuk Kan’an,tenggelam dan hanya 82 di kapal yang selamat.

Inilah yang disebut Nabi saw , keyakinan yang salah. Yakni, ketika manusia meyakini, kebahagiaan dan keselamatan terletak pada benda-benda yang nampak. Padahal faktor tidak Nampak, atau faktor kuasa Allah,  lebih besar. Kalau usaha manusia sudah sangat sempurna, baik teknologi dan teknis, katakanlah sudah 99 persen.Maka jangan lupa, masih ada satu persen factor ‘x’ dan itulah Allah SWT. Sebenarnya Allah itu bukan factor ’x’, tapi Ia segala-galanya. Tidak dapat dikatakan satu persen. Sesungguhnya, kekuasaan Allah itu Maha Sempurna. Keyakinan kita yang salahlah, yang meletakkan seakan kekuasaan  Allah itu hanya sedikit.

Contoh, pesawat itu bisa terbang karena adanya tekanan udara dari dalam pesawat yang menerjang udara di luar pesawat dengan kecepatan tertentru, maka dengan dorongan udara yang disemprotkan itu membuat rangka berton-ton dengan penumpang ratusan orang bisa terbang ratusan Km perjam.Itulah kemudian disebut teknologi. Tapi jangan lupa, pesawat itu terbang di udara Dan udara bukan bikinan manusia. 

Nabi saw ditegur karena menjawab pertanyaan tentang jumlah Ashhabul Kahfi, dikatakan,’Besok aku lakukan’. Turun ayat,’Jangan bilang besok aku lakukan’ sebelum menyebut ‘insya Allah’(jika Allah menghendaki).Meski 99 persen zhahirnya sudah siap, tinggal satu persen lagi ketentuan Allah.Sebenarnya, satu persen yang ada pada anggapan manusia, itu, adalah 100 persen dan sempurna dalam pandangan Allah. Yang 99 persen itu adalah zero atau nihil. Maksudnya segala kecerdasan otak manusia menciptakan benda-benda yang mereka namakan sendiri sebagai teknologi canggih, terbukti tidak bermakna apa-apa jika Allah tak menghendaki.

Memang hukum Allah itu sunnatullah dengan menyesuaikan faktor-faktor alam manusia dapat menguasai alam.Itu namanya sunnatullah. Tapi sunnatullah dapat berubah dengan qudrotullah (kuasa Allah). Misalnya, Allah menerbitkan matahari dari Timur dan tenggelam di Barat. Tapi Allah juga berkuasa penuh untuk mengubah matahari terbit dari Barat dan tenggelam di Timur (nanti menjelang kiamat).

Allah mampu melahirkan manusia dengan sebab ayah dan ibu. Tapi Allah juga mampu menciptakan tanpa ayah-ibu seperti Adam as. Juga hanya dengan ibu tanpa ayah seperti Isa as. Selain itu, ketika empat bulan dalam kandungan ibu, ditiupkan ruh dan ditulis empat ketetapan, nasibnya, rezekinya, jodoh/ keturunannya dan ajal/ kematiannya. Dalam konteks ini kematian sudah ditentukan, kapan, di mana dan bagaimana caranya. 

Malaikat Izrail ditugaskan sebagai eksekutor, cuma Allah merahasiakan dengan membuat penyebab-penyebab kematian. Misalnya karena sakit, kecelakaan dan sebagainya. Agar manusia tidak marah terhadap Izrail, sang pencabut nyawa dan agar manusia sentiasa bersiap-siap dengan bekal akhiratnya, iaitu iman dan amal saleh.Makanya untuk itu diperlukan usaha mendapatkan iman yang sempurna, memahami siapa Allah, memahami kekuasaan-Nya dan kehendak-kehendak-Nya. Ya Allah, terimalah amal kebaikan orang-orang yang Engkau beri musibah. 

(Abdul Rahman Lubis, Penulis dan Pemerhati Masalah Keislaman).

No comments:

Post a Comment