Saturday, March 8, 2014

PARA USTAZ YANG JUGA PEROSAK

Sudah tidak asing bagi kita, diantara sekian banyak ustaz-ustaz yang memiliki niat yang besar untuk memperbaiki umat ini, diantaranya tidak sedikit juga yang mencari peruntungan disana. Dilihat dari kaca mata pelaku bisnis, status ustaz memang cukup layak dijadikan komuditas usaha. Banyaknya permintaan dari mesjid dan musholla hampir-hampir tidak dapat terpenuhi. Tak ayal lagi untuk mencarter seorang ustaz terkenal di masyarakat harus jauh-jauh hari sebelum hari H nya. 

Hal ini pulalah yang menyebabkan bermunculan badan-badan atau organisasi-organisasi yang mengumpulkan para ustz dalam sebuah wadah formal. Dengan adanya wadah ini para pengurus musholla atau mesjid tidak direpotkan lagi untuk mencari ustaz-ustaz untuk mengisi wirid mingguan atau bulanannya. Pengurus mesjid tidak perlu susah payah lagi mencari khatib tiap Jumaatnya. Panitia romadhon musholla atau mesjid tidak kasak kusuk menghubungi ustaz untuk mengisi santapan rohani romadhon tiap malam di bulan romadhon. 

Wadah-wadah seperti ini patut diacungkan jempol ditengah-tengah kehidupan umat islam yang cenderung hedonis ini. Dimana umat islam sudah semakin jauh dari nilai-nilai agama, umat islam tidak punya waktu untuk menggali islam kerana disibukkan oleh aktifitas dunia, semuanya sibuk mencari kesenangan dan kenikmatan hidup didunia. 

Namun saat ini ada pergesaran nilai diantara ustaz-ustaz, unsur bisnisnya terkadang lebih dominan dari pada unsur agamanya. Penyakit umat pun telah menular ke beberapa ustaz. Pernah seorang ustz berucap didepan pengajian wirid ibu-ibu bahawa ia tidak akan datang jika di undang ceramah tapi tidak diberikan amplop. Beberapa kali saya mengikuti ceramahnya, ustaz ini cukup terkenal ditengah masyarakat dan ceramahnya cukup menarik.

Ada lagi ustaz terkenal lainnya, diundang untuk ceramah bada ashar, pada pembukaan ceramahnya ia sudah mengatakan bahawa ia saat itu harus mengisi ceramah didua tempat, jika ditotalkan waktu ceramahnya, mulai pembukaan sampai salam tidak sampai 20 menit, ia kemudian minta maaf untuk menyudahi ceramahnya. Dengan rasa kesal seorang utusan dari jemaah menemani ustaz keluar dari mesjid dan memberikan “salam tempel"kepada ustaz tersebut. semakin kesal tatkala melihat muka tidak bersalah ustaz tersebut ketika menerima amplot tersebut. 

Dua contoh diatas merupakan potret dari sebahagian ustaz saat ini. Kita tidak boleh lantas menyalahkan para ustaz ketika ia mulai berprinsip ekonomi. Juga tidak boleh menyalahkan wadah-wadah penyalur ustaz. Menurut salah satu ustaz yang tergabung dalam salah satu wadah penyalur ustaz, saat ini tidak boleh terlalu ketat menyeleksi ustaz untuk bergabung, kerana peminatnya pun sedikit, sementara permintaan kebutuhan ustaz di masyarakat cukup banyak. 

Hal ini memang cukup terasa ditengah masyarakat, kalau diperhatikan tiap Jumaat, sekitar 1 dari 5 ustaz saja yang memiliki kompetensi sebagai ustaz, baik dilihat dari segi kedalaman materi atau sifat dan sikapnya. Bahkan beberapa kali ditemui ustaz yang tidak mencukupi rukun khutbahnya ketika menjadi khatib yang sepertinya kerana kedangkalan ilmunya. 

Dari beberapa hal yang telah dipaparkan diatas, ada yang lebih menyedihkan lagi yang terjadi dikalangan para ustaz. Yakni adanya perasaan bersaing atau disaingi oleh ustaz dan para pendakwah agama yang murni ingin menegakkan islam. Para ustaz atau pendakwah agama ini tidak meminta upah dari seruannya bahkan menolaknya. Bahkan lagi sampai-sampai kalau perlu hartanya juga ikut berkurang dalam rangka menyampaikan seruan agama. Seseorang telah meyampaikan bahawa ia pernah mendengar percabila tersebut dari ustaz-ustaz di salah satu sekretariat wadah penyalur ustaz. Ustaz-ustz ini merasa kehadiran para ustaz tanpa bayaran ini sebagai perusak harga pasar dan menjadi saingan berat di pasaran jika semakin banyaknya para ustaz gratisan ini. Ironis.. sungguh ironis. 

Memang tidak dipungkiri sudah mulai banyak para pendawah agama yang murni berkorban diri dan hartanya. Bahkan beberapa ustaz yang pada mulanya masih mengambil upah terhadap ceramahnya, kini dengan hidayah dan penuh kesadaran ia mulai tidak mengambil upah dari seruannya. Sebenarnya ustaz-ustaz ini bukannya tidak berkeinginan mendapat imbalan dari apa yang ia serukan, namun ia lebih memilih imbalan itu disimpan di kehidupan yang abadi nanti dari Tuhannya. 

Sebagai penutup saya kutip ceramah seorang kiyai di tanah jawa: 

Dahulu, ketika seorang ustaz pulang dari memberi seruan agama, maka istrinya menyambutnya dengan pertanyaan: “Wes muleh mas, entok piro? (udah pulang bang, dapat berapa?) 

Kemudian setelah suaminya menjadikan dirinya dai agama ini, maka istrinya menyambutnya dengan pertanyaan:  “Wes muleh mas, entek piro? (udah pulang mas, habis berapa?) 

No comments:

Post a Comment