Tuesday, July 5, 2016

AL GHAZALI, PERGULATAN DLM DIRI SEBELUM MEMASUKI TASAWWUF

Al Ghazali atau Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad, beliau digelari “Hujjatul Islam”. Nama Al Ghazali diambil dari pekerjaan ayahnya sebagai pemintal wol. Lahir di Thus di kawasan Khurasan tahun 450 H. Al Ghazali semasa kecil belajar Fiqih pada Ahmad al-Radzkani. Ketika masih belia dilanjutkan belajar kepada Imam Abu Nashr al-Isma’ili di Jurjan. Al Ghazali belajar kepada Abu al-Ma’ali al-Juwaini yang bergelar Imam al-Haramain. Kemudian beliau mengajar di Baghdad pada tahun 484 H. Dalam karyanya 'Al-Munqidz min-al-Dhalal', diuraikan kegelisahan jiwa Al Ghazali yang menggelora sampai Al Ghazali tertimpa krisis jiwa yang kronik. Akibat krisis ini Al Ghazali mulai meninggalkan jabatannya sebagai pengajar pada Perguruan al-Nizhamiah di Baghdad.

Mengenai krisis diri ini Al Ghazali, mengungkapkan: “Lalu keadaan diriku pun kurenungi, dan ternyata aku telah tenggelam dalam ikatan2 duniawi yang meliputi diriku dari segala sudut. Amalku pun kurenungi, khususnya amalku yang terbaik, iaitu mengajar, dan ternyata aku pun hanya menerima ilmu2 yg ringkas dan tidak berguna. Aku pun lalu memikirkan niatku dalam mengajar dan niatku tidak ikhlas demi Allah. Bahkan hanya didorong keinginan terhadap jabatan serta terkenal. Akupun menjadi yakin bahwa aku hampir mengalami kehancuran dan aku benar2 tidak terlepas dari neraka, andai saja aku tidak meninggal kan hal-hal mudah tersebut. 

Aku tetap dalam keadaan ragu, di antara daya tarik pesona duniawi dengan seruan akhirat, hampir selama enam bulan. Bulan ini, keadaan memaksaku untuk mengambil keputusan, sbb Allah telah mengunci lidahku sampai tidak bisa mengajar. Keadaan yg menimpaku itu lalu menimbul kan derita dalam kalbu. Hancurlah dengannya daya cerna, dan lenyaplah nafsu makan atau minum. Ketika itu, setitis minuman atau sesuap makanan tidak terasakan. Keadaan ini berlanjut dgn melemahnya semua daya dan kekuatan, sehingga para doktor pun merasa tidak mampu menyembuhkannya."

Kata mereka: keadaan ini pertama-tama mengenai kalbu, lalu dari situ menjalar ke seluruh tubuh. Maka kini tidak ada jalan menyembuhkannya, kecuali dgn perginya rahasia terpendam fikiran yang menderita. Maka ketika aku menyadari ketidak mampuanku, dan hilang seluruh kesanggupanku untuk memutuskan, akupun menuju Alah sebagaimana kembalinya orang tersudut dan tanpa daya.” Period awal kehidupan spiritual Al Ghazali tersebut merupakan persiapan jiwa baginya dalam menempuh Jalan Tasawwuf. Period spiritualnya itu ditandai dengan berbagai kondisi intuitif, seperti keraguan, kegelisahan, rasa bosan, rasa sedih yang mendalam, rasa takut terhadap sesuatu yg tidak diketahui, upaya memahami realiti alam dan menyingkapkan yg disebaliknya dan perasaan samar lainnya, yang kesemuanya itu akhirnya menuju kepada Allah. Mungkin anda mengalami seperti yang dialami Al Ghazali jika memang begitu sudah saatnya anda untuk lebih mendekatkan diri pada Allah swt.

No comments:

Post a Comment