Sunday, August 7, 2016

INTINYA ILMU

“Semua ilmu yang kita cari, hendaknya ilmu yang lebih mendekatkan diri kita pada Allah swt.” Dalam sebuah hadis Nabi SAW, disebutkan bahwa menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap orang muslim, laki-Iaki dan perempuan. Dari hadis tersebut mungkin akan timbul pertanyaan dalam diri kita: ”Apakah kita (sebagai seorang muslim atau muslimah) sudah melaksanakan kewajiban menuntut ilmu?” Jika sudah, berarti kita sudah berupaya menjadi Muslim yang sejati. 

Namun jika belum, tentunya setiap hari Malaikat pencatat amal akan sibuk 'mengumpul' catatan dosa untuk kita. Hal ini disebabkan kerana dengan meninggalkan menuntut ilmu berarti meninggalkan kewajiban, dan barang siapa meninggalkan kewajiban berarti melaksanakan kemaksiatan, dan barang siapa melaksanakan kemaksiatan maka akan dicatat sebagai dosa. Selanjutnya mungkin juga akan muncul pertanyaan lagi: “Apakah ilmu yang tersebar di muka bumi ini harus kita pelajari semua?”, atau ”sudah gugurkah kewajiban menuntut ilmu dengan belajar di tempat2 kursus, atau sekolah2 formal yang bersifat umum?”

Ternyata ilmu yang dimaksud sebagai suatu hal yang wajib dicari kaum Muslimin adalah ilmu yang diperlukan untuk melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larangan2Nya (pelaksanaan ibadah wajib). Hal ini disebabkan kerana suatu ibadah tidak akan diterima sebagai suatu ibadah jika pelaksanaannya tanpa didasari ilmu, sedangkan Allah SWT menciptakan manusia di dunia ini bertujuan agar beribadah kepada-Nya. 

Allah SWT berfirman dalam surat Ad-Dzariyat ayat 56: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa semua ilmu yang kita cari hendaknya ilmu yang lebih mendekatkan diri kita pada Allah SWT. Barang siapa bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayah (petunjuk) pada dirinya, maka antara ia dgn Allah SWT tidak akan bertambah (dekat), kecuali bertambah jauh. Wal'iyadzu billah.

Syekh Nasr bin Muhammad As-Samarkandh menuqil sebuah hadis yang diriwayatkan Syekh Abdullah bin Masur Al-Hasyimi:  Ada seorang laki-laki datang pada Rasulullah saw dan berkata: “Saya datang kepadamu Ya Rasulullah, agar engkau memberi tahu kepadaku tentang Ghoroibul Ilmi (aneh2nya ilmu atau ilmu2 yg masih asing)”. 

Nabi saw bertanya: “Apa yang telah kamu perbuat pada intinya ilmu?”

Orang tadi kembali bertanya: “Apa itu intinya ilmu?”

Nabi saw berkata: “Apakah kamu mengenal Allah 'Azza wa Jalla?” 

Beliau menjawab: “Ya, aku mengenal-Nya”. 

Nabi saw bertanya: “Apa yang kamu lakukan untuk memenuhi hak-hak-Nya?”

Orang tadi menjawab: “Masya Allah” (Allah berkehendak terhadap segala sesuatu). Dalam hal ini orang itu terkejut (tersadar akan adanya sesuatu yang terlalaikan olehnya) dengan pertanyaan Nabi saw tersebut. 

Nabi saw bertanya lagi: “Apakah kamu tahu kematian?”

Beliau jawab: “Ya, aku mengetahuinya (bhw kematian pasti akan menghampiri siapapun yg bernyawa)”

Nabi saw berkata: “Apa yang kamu persiapkan untuk menyambut kedatangannya?”

Orang tadi menjawab: “Masya Allah."

Kemudian Nabi saw berkata: “Pergilah, dan fikirkan semua (yang telah aku sampaikan), setelah itu kembalilah kepadaku, sehingga aku akan ajarkan kepadamu tentang Ghoroibul Ilmi”.

Ilmu yang dimaksud sebagai suatu hal yang wajib dicari kaum Muslimin adalah, ilmu yang diperlukan untuk melaksanakan perintah2 Allah swt dan menjauhi larangan2Nya. Setelah waklu berjalan beberapa tahun, orang laki-laki tadi kembali mendatangi Nabi saw, lalu Nabi saw menasihati orang tersebut: “Apapun yang tidak kamu sukai jika terjadi pada dirimu maka hendaknya kamu juga jangan berharap hal itu terjadi pada Saudaramu Muslim, dan apapun yang kamu sukai (atau kamu harapkan) boleh terjadi pada dirimu, maka hendaknya kamu juga berharap hal itu boleh terjadi pada Saudaramu Muslim, dan hal inilah termasuk Ghoroibul Ilmi”. Kemudian Rasulullah saw melanjutkan nasihatnya: 

“Bahwa persiapan untuk menyambut kematian adalah intinya ilmu, maka lebih utama jika seseorang selalu sibuk dalam mempersiapkan kematian. Barang siapa dikehendaki Allah swt untuk mendapatkan petunjuk-Nya, maka Dia akan melapangkan dadanya (org itu) dgn Islam. Dan barang siapa dikehendaki Allah SWT menjadi orang yang tersesat, maka Dia akan menyempitkan dadanya dengan kesusahan (jauh dari Islam/ajaran Islam). Adapun ciri orang yang hatinya disinari dengan Nur Islam iaitu apabila orang itu menjauh dari duniawi dan kembali (mendekat) pada kehidupan yang kekal ukhrawi, serta mempersiapkan datangnya kematian”. Semoga Allah SWT mengakhiri kehidupan kita dengan akhir yang bagus dan terpuji (Husnul Khotimah). Aamiin. (Al Habib Hasan Al Jufri, Penjelasan tentang Tanbihul Ghafilin).

No comments:

Post a Comment