Tuesday, January 5, 2016

MENATA HATI MENGGAPAI REDHA ALLAH

Manisnya hawa nafsu yang ada dalam hati, adalah penyakit yang sulit disembuhkan. Hati itu tempat bertahtanya Iman dan Makrifatnya keyakinan. Dan semua ini adalah ubat bagi penyakit yang di akibatkan oleh hawa nafsu dan syahwat.  Hawa nafsu dan syahwat badani termasuk penyakit hati yg menghinggapi manusia. Apabila hawa nafsu itu telah masuk dan menusuk hati, maka rusaklah hati. Dan apabila dibiar kan saja ia akan membusuk dan sukar untuk disembuhkan. 

Dosa kerana hawa nafsu itu ibarat setitis kotoran yang jatuh diatas lembaran hati manusia, sekali manusia berbuat dosa, satu titik kotoran melekat di atas hati. Apabila tidak dicegah titisan dosa itu lama kelamaan akan menutup seluruh permukaan hati, maka gelaplah hati.  Hawa nafsu memang selalu mengajak kepada keburukan, ia akan menghinggapi manusia ketika yang kosong dari Iman dan Zikir. Hawa nafsu tidak akan mampu berhadapan dgn hamba Allah yg selalu zikrullah. Manusia beriman selalu dilindungi zikrullah sehingganya jiwanya tenang dan waspada oleh Nafsu Muthmainnah. Nafsu Muthmainnah adalah nafsu yang tenang dan damai dalam hati manusia. Menjaga dan memelihara kebersihan hati adalah sifat org beriman dan para hamba yg soleh. 

Hati itu adalah cahaya dalam diri manusia. Ia adalah pelita kehidupan manusia beriman. Jagalah jangan sampai pelita yang sedang bercahaya itu redup. Jikalau cahaya pelita itu redup adalah alamat ia sedang sakit. Ketika pelita hati sedang redup, dekatilah Allah, tingkatkan ibadah zikir, jauhilah perkara syubhat dan dosa-dosa walaupun kecil. Penuhi kembali hati dengan siraman iman dan zikrullah, itu adalah salah satunya ubat hati. Jangan biarkan nafsu dan syahwat itu mengendap di dalam hati. Usir syahwat itu dari dalam hati, bentengilah dengan iman dan zikir yang tak putus-putus. Hawa nafsu itu memang memiliki kekuatan, apalagi hati sudah ditaklukkan, maka kekuatan akan berlipat-lipat. Yang akan mampu mengusir kekuatan hawa nafsu adalah petunjuk yang datang dari Allah swt.  Wallahua’lam.



No comments:

Post a Comment