Tuesday, August 23, 2016

SEBUAH KISAH PARA SUFI

Diriwayatkan oleh Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi bahwa suatu hari ketika Syaikh Abu Yazid al-Busthami sedang dalam perjalanan menuju Mekah untuk menunaikan ibadah Haji, beliau mengunjungi seorang Sufi di Bashrah. Sufi itu menyambut kedatangan beliau dengan sebuah pertanyaan: “Apa yang anda inginkan hai Abu Yazid?”. Syeikh Abu Yazid pun segera menjelaskan: “Aku hanya berhenti sejenak, kerana aku ingin menunaikan ibadah Haji ke Mekah”. “Cukupkah bekalmu untuk perjalanan ini?” tanya Sang Sufi. “Cukup!” jawab Syaikh Abu Yazid. “Ada berapa?” Sang Sufi bertanya lagi. “200 dirham!” jawab Syeikh Abu Yazid. 

Sang Sufi itu kemudian dengan serius menyarankan kepada Syaikh Abu Yazid: “Berikan saja wang itu kepadaku, dan bertawaflah di sekeliling hatiku sebanyak 7 kali”. Ternyata Syeikh Abu Yazid masih saja tenang, bahkan patuh dan menyerahkan 200 dirham itu kepada Sang Sufi tanpa ada rasa ragu sedikitpun. Selanjutnya Sang Sufi itu mengungkapkan: “Wahai Abu Yazid, HATIKU adalah Rumah Allah, dan Ka’bah juga Rumah Allah. Hanya saja perbedaan antara Ka’bah dan HATIKU adalah, bahwasanya Allah tidak pernah memasuki Ka’bah semenjak didirikanNya, sedangkan Dia tidak pernah keluar dari HATIKU sejak dibangun oleh-Nya”. Syeikh Abu Yazid hanya menundukkan kepala, dan Sang Sufi itupun mengembalikan wang itu kpd beliau dan berkata: “Sudahlah, lanjutkan saja perjalanan muliamu menuju Ka’bah!” perintahnya. 

Syeikh Abu Yazid al-Busthami adalah seorang Wali Agung yang sangat tidak asing lagi di hati para penimba Ilmu Tasawuf, khususnya Tasawuf Falsafi. Beliau wafat sekitar tahun 621 H. Sedangkan Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi (yang meriwayatkan kisah di atas) adalah juga seorang Wali Besar (wafat tahun 645 H.) ya telah banyak menganugerahkan inspirasi dan motivasi spiritual kpd seorg Wali hebat sekaliber Syaikh Jalaluddin Ar-Rumi, pengasas Tarekat Maulawiyah (wafat tahun 672 H.).

No comments:

Post a Comment