Monday, February 15, 2016

MEMANDANG DENGAN HATI

Kalau ditatap mata terhadap gunung-gunung, lautan dan daratan, langit dan bumi tidakkah terasa kebesaran kuasa Tuhan. Jika setiap peristiwa dan kejadian, tidak terasakah ke Agungan-Nya. Setiap nikmat tidak terasakah anugerah Tuhan. Kejadian malam dan siang tidak terasakah pentadbiran dan bijaksana-Nya. Orang yang senang tiba-tiba jadi susah, orang yang susah tiba-tiba jadi senang, hari ini masih punya, besok sudah tak ada, hari ini masih ada jabatan dan besok lepas kuasa, hari ini dan besok adalah penjabaran dari Ketentuan-Nya.

Tidak terasakah ketentuan Tuhan. Orang yang hina jadi mulia, yang mulia jadi hina. Tidak terasakah Qudrat dan Iradat Tuhan. Air banjir, gunung berapi, gempa bumi melenyapkan sekejap mata apa yang ada dan sirna. Tidak terasakah lagi hebatnya Tuhan, kemampuan, Jabbar dan Qahhar-Nya. Kematian yang berlaku setiap hari tidak diambil pengajaran hati.

Apa lagi yang bisa membangunkan jiwa manusia dari tidurnya? 
Apakah lagi yang boleh menyadarkan jiwa manusia dari kelalaiannya? 
Apa lagi agaknya dan bagaimana lagi gerangannya untuk menginsafkan manusia?

Memang tidak ada jalan lagi buat manusia. Segala lorong dan jalan telah buntu. Untuk manusia menempuh jalan kebenaran. Hati memang telah buta. Lebih-lebih lagi hati nuraninya telah mati. Segala yang dilihat daripada berbagai peristiwa tidak merasa apa-apa. Perasaan dan sensitivitinya sudah tiada. Sepertilah anggota lahir yang lumpuh. Apa saja yang disentuhnya sudah tidak terasa apa-apa.

Inilah akibatnya tidak menjaga hakikat mata . Di dalam mencari kebenaran “Bukan mata yang buta tapi hati.” (Al Haj : 46.) Menjadikan mata hati buta atau mati. “Mengapa kamu tidak memandang (dengan hati).” “Mengapa kamu tidak mengambil iktibar.” “Mengapa kamu tidak berfikir.” (Ali Imran : 65.). Berapa lama lagi kamu hidup di dunia ini sahabat.

No comments:

Post a Comment