Thursday, January 14, 2016

ZIKIR SIRR MENURUT SYEIKH IBNU ATHA'ILLAH

Sebagai tanda bahawa sebuah zikir sampai pada sirr (nurani terdalam pada jiwa yang kelak menjadi tempat cahaya penyaksian) adalah saat penzikir dan objek zikirnya lenyap tersembunyi. Zikir sirr terwujud ketika seseorang telah terliputi dan tenggelam di dalamnya. Tandanya, apabila engkau meninggalkan zikir tersebut, ia takkan meninggalkanmu. Zikir tersebut terbang masuk ke dalam dirimu untuk menyedarkanmu dari keadaan tidak sedar kepada keadaan hudhur (hadirnya kalbu). 

Salah satu tandanya, zikir itu akan menarik kepalamu dan seluruh organ tubuhmu sehingga seolah-olah tertarik oleh rantai. Indikasinya, zikir tersebut tak pernah padam dan cahayanya tak pernah redup. Tetapi, engkau menyaksikan cahayanya selalu naik turun, sementara api yang ada di sekitarmu sentiasa bersih menyala. Zikir yang masuk ke dalam sirr terwujud dalam bentuk diamnya si pelaku zikir seolah-olah lisannya tertusuk jarum. Atau, semua wajahnya adalah lisan yang sedang berzikir dengan cahaya yang mengalir darinya.

Ketahuilah, setiap zikir yang disedari oleh kalbumu didengar oleh Para Malaikat penjaga. Sebab, perasaan mereka beserta perasaanmu. Di dalamnya ada sirr sampai saat zikirmu sudah ghaib dari perasaanmu kerana engkau sudah sirna bersama Tuhan, zikirmu juga ghaib dari perasaan mereka. Sebagai kesimpulan tentang tahapan zikir, Ibnu Atha’illah mengatakan, berzikir dengan ungkapan kata-kata tanpa rasa hudhur disebut zikir lisan, berzikir dengan merasakan kehadiran kalbu bersama Allah disebut zikir kalbu, sementara berzikir tanpa menyedari kehadiran segala sesuatu selain Allah disebut zikir sirr. Itulah yang disebut dengan zikir khafiy.

Rezeki lahiriah terwujud dengan gerakan badan. Rezeki batiniah terwujud dengan gerakan kalbu, rezeki sirr terwujud dengan diam, sementara rezeki akal terwujud dengan fana dari diam sehingga seorang hamba tinggal dengan tenang untuk Allah dan bersama Allah. Nutrisi dan makanan bukanlah rohani, melainkan makanan untuk badan. Adapun yang menjadi makanan rohani dan kalbu adalah mengingat Allah Zat Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib. Allah berfirman, “Orang-orang beriman dan kalbu mereka tenteram dengan mengingat (zikir kepada) Allah.”

Semua makhluk yang mendengarmu sebenarnya juga ikut berzikir bersamamu. Sebab, engkau berzikir dengan lisanmu, lalu dengan kalbumu, kemudian dengan nafs-mu, kemudian dengan rohmu, selanjutnya dengan akalmu, dan setelah itu dengan sirrmu. Jika engkau berzikir dengan lisan, pada saat yang sama semua benda mati akan berzikir bersamamu. Jika engkau berzikir dengan kalbu, pada saat yang sama alam beserta isinya ikut berzikir bersama kalbumu. Jika engkau berzikir dengan nafs-mu, pada saat yang sama seluruh langit beserta isinya juga turut berzikir bersamamu.

Jika engkau berzikir dengan rohmu, pada saat yang sama singgasana Allah beserta seluruh isinya ikut berzikir bersamamu. Bila engkau berzikir dengan akalmu, Para Malaikat pembawa arasy dan roh orang-orang yang memiliki kedekatan dengan Allah juga ikut berzikir bersamamu. Bila engkau berzikir dengan sirrmu, arasy beserta seluruh isinya turut berzikir hingga zikir tersebut bersambung dengan zat-Nya”. (Syeikh Ibnu Atha’illah dalam Miftah al-Falah wa Misbah al-Arwah).

No comments:

Post a Comment