Wednesday, April 6, 2016

KEHEBATAN CINTA BESAR SETENGAH ZARAH

Dikisahkan di dalam sebuah kitab karangan Imam Al-Ghazali, seorang pemuda mendatangi Nabi Isa yang sedang menyiram air di kebun. Pemuda itu membuat permintaan yang begitu mustahil dan sangat sukar ditunaikan oleh Nabi Isa sendiri. Melihat Nabi Isa yang hanya mendiamkan diri, pemuda itu berkata berulang kali kepada Nabi Isa, “Wahai Nabi Isa, kamu mintalah dari Tuhamu agar Dia memberi kepadaku sebesar zarah cintaku kepada-Nya. Moga-moga aku dapat merasa bagaimana ketinggian nilai cinta kepada Tuhan.”

Nabi Isa hanya menjawab, “Wahai saudaraku, jangan kau teruskan niatmu itu. Kamu tidak akan terdaya menanggung cinta Tuhan walau sebesar zarah.” Tetapi pemuda itu masih tidak berputus asa. Dimohonnya lagi pada Nabi Isa,“Jika aku tidak berdaya untuk satu zarah, mintalah untukku setengah beratnya zarah cinta itu.”

Melihat kesungguhan dan keinginan pemuda itu, Nabi Isa pun mengalah. Benarkah pemuda ini ingin sekali mendapatkan kecintaannya kepada Allah? Maka Nabi Isa pun menadah tangan dan berdoa agar Allah memperkenankan permintaan pemuda itu. Selesai berdoa, Nabi Isa pun berlalu.

Selang beberapa lama, Nabi Isa datang semula ke tempat dia mendoakan pemuda itu. Puas dicari pemuda itu ke sana ke mari tetapi tidak juga berjumpa. Nabi Isa bertanya kepada orang yang lalu lalang di situ berkenaan pemuda yang dimaksudkan.

“Oh, lelaki itu sudah menjadi gila dan sekarang dia berada di atas gunung sana,” jawab seorang lelaki. Nabi Isa terkejut mendengarnya. Apakah lelaki itu sudah gila setelah mendapat kecintaan kepada Allah seperti yang dimintanya?

“Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku dimana dan bagaimana keadaan pemuda itu sekarang.” Permohonan Nabi Isa dikabulkan ketika itu juga. Pada pandangannya, kelihatanlah pemuda itu sedang berada di antara gunung-ganang dan sedang duduk di atas sebuah batu besar sambil matanya memandang ke langit tanpa berkelip.

Aneh sekali keadaan pemuda itu. Nabi Isa menghampirinya dan memberi salam. Namun salamnya tidak berjawab, malahan pemuda itu tidak bergerak sedikitpun. “Wahai pemuda, jawablah salamku. Aku ini Isa as.” Suara Nabi Isa bagai dibawa angin lalu. Pemuda itu terus diam membatu sambil mendongak ke langit.

Ketika itu turunlah wahyu dari Allah SWT yang bermaksud, “Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar perbicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat kadar setengah berat Zarrah cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, kalau engkau memotongnya dengan gergaji sekalipun nescaya tentu dia tidak akan menyedarinya.”

No comments:

Post a Comment