Wednesday, March 9, 2016

MEMAHAMI MAKNA TAWADUK

Fudhail bin Iyadh mengatakan bahwa orang yang selalu mengadu kepada Allah adalah orang yang khusuk dan tawaduk, sedangkan orang yang mengadu kepada hakim (pemerintah) adalah orang yang tinggi hati dan sombong.

Dan, siapa yang melihat dirinya sendiri berharga, maka ia tidak akan mendapat bagian tawaduk. Menurut Fudhail, rendah hati itu bertujuan untuk kebenaran, menyelamatkan diri untuk kebenaran dan menerima kebenaran dari orang lain.

Junaid Al-Baghdadi mengatakan, tawaduk itu adalah merendahkan lambung dan berlemah lembut pada orang lain. Sedangkan Yahya bin Muadz mengatakan, tawaduk adalah kebaikan yang dapat dikerjakan oleh setiap orang, tetapi apabila dikerjakan orang kaya tentu akan lebih baik. Sombong adalah keburukan yang dapat dikerjakan setiap orang, tapi apabila dilakukan oleh orang fakir tentu akan lebih buruk. (Disarikan dari Risalah Qusyairiyah, Imam Al-Qusyairi). 

MENGAJAK HATI BERSIKAP TAWADUK

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memberi nasehat: “Tawaduk adalah perasaan rendah hati seseorang ketika melihat orang lain. Seorang yang memiliki sifat ini, ia akan berbisik dalam hatinya, 'Barangkali ia lebih baik dan lebih tinggi daripada aku di sisi Allah.' Ketika ia melihat orang yang lebih muda ia berujar, 'Dia belum bermaksiat kepada Allah, sementara aku telah bergelimang dosa. Dia lebih baik daripada aku.'

Bila bertemu dengan orang yang lebih tua, ia berkata, 'Inilah hamba Allah yang lebih dahulu hidup di dunia ini.' Bila bertemu dengan orang berilmu, ia berucap, 'Orang ini mendapat anugerah yang tidak kudapat. Dia memperoleh apa yang tidak kuperoleh. Dia berilmu, sementara aku bodoh. Dia pun mengamalkan ilmunya.'

Kemudian, jika ia bertemu dengan orang bodoh, ia berkomentar, 'Dia bermaksiat kepada Allah karena tidak tahu, sedangkan aku bermaksiat padahal aku tahu bahwa itu maksiat. Aku tidak tahu bagaimana hidupku berakhir dan tidak tahu pula bagaimana hidupnya berakhir.' Jika seorang hamba telah seperti itu, dia akan selamat dari siksa Allah”. (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Futuh Al-Gayb). 

No comments:

Post a Comment