Sunday, April 17, 2016

UMUR SYAIDATINA AISYAH KETIKA BERKAHWIN

Umur Syaidatina Aisyah Ketika Berkahwin Dengan Nabi Muhammad s.a.w.

Oleh : Ustaz Muhammad Husni Ginting

Seorang ulama di india yang bernama Habibur Rahman Shiddiqi al-Kandahlawi telah menulis sebuah buku tentang umur Sayyidah Aisyah kawin dengan Rasulullah s.a.w mungkin tujuan orang tersebut baik, tetapi jika dilihat dari efek negatifnya lebih besar dan menghancurkan sendi agama islam, kenapa saya katakan demikian? sebab beliau telah membuat orang islam ragu dengan kesohihan kitab Sohih Bukhari, sebahagian teman yang membaca permasalahan ini hanya memikirkan tentang satu permasalahan akal dan adat kebiasaan, tetapi permasalahannya adalah mencakup keberadaan pembesar-pembesar ulama islam yang telah dipercaya berabad-abad untuk di ikuti, hal ini dianggap mempermainkan sunnah dan menolak kitab Sohih Bukhari. 

Kita masih ingat tentang hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam permasalahan di sihirnya Rasulullah s.a.w ada sebahagian orang yang tidak mempercayai hal tersebut dan bahkan menolak hadis tentang tersihirnya Rasulullah adalah hadis yang dibuat-buat, tetapi ulama ahli sunnah wal jama`ah telah menolak seluruh dakwaan mereka dan menjelaskan bahwa hadis itu sohih, terlebih-lebih terdapat di dalam sohih Bukhari, yang jelasnya anda perlu melihat kembali kedudukan Sohih Bukhari didalam pandangan ulama ahlu Sunnah wal Jama`ah, Bagaimana pendapat anda jika seorang tidak percaya dengan Sohih Bukhari, saya kira orang tersebut tidak pantas di gelar ahlu sunnah wal jama`ah, mari kita lihat komentar Imam al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitabnya al-Isobah fi Tamyizi Sohabah :

Berkata al-hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani: “Aisyah binti Abu Bakar as-Shiddiq - telah terdahulu nasabnya didalam biografi ayahandanya Abdullah bin Abu Qahafah r.a, ibunya bernama Ummu Rumman binti `Aamir bin Uwaimir al-Kinaniyyah, dilahirkan setelah diutusnya Rasulullah s.a.w sebagai Rasul empat tahun atau lima tahun, telah tsabit didalam Sohih al-bukhari bahwa Rasulullah saw telah mengawininya ketika beliau berumur enam tahun, menurut satu pendapat tujuh tahun, dan mungkin dapat digabungkan perselisihan pendapat ini dengan cara bahwa umur beliau telah sempurna enam tahun dan masuk kepada tujuh tahun, dan Rasulullah tinggal serumah dengan Sayyidah Aisyah ketika umurnya sembilan tahun. (lihat Isobah fi Tamyizi as-Sohabah:4/478).

Lihat juga ungkapan Al-Hafizh Ibnu Katsir seorang ulama yang sangat benci dengan syiah: “Adalah umur Sayyidah `Aisyah ketika kawin enam tahun, kemudian Rasul serumah dengannya ketika beliau (Aisyah) berumur sembilan tahun”. (lihat Bidayah Wa an-Nihayah:8/8 , terbitan Darul Manar Cairo). Lihat juga ungkapan dan nukilan Imam al-Hafizh Ibnu Abdul Bar (wafat 463 H) di dalam kitabnya al-Isti`ab: ”Aisyah Binti Abu Bakar shiddiq r.a. isteri Nabi Muhammad s.a.w, telah terdahulu kisah ayanya didalam bab yang khusus, ibunya Ummu Rumman binti `Aamir bin Uwaimir bin Abdu Syamsi bin`Attab bin Adzinah bin Saba` bin Dahman bin al-Harits bin Ghanam bin Malik bin Kinanah.

Rasulullah saw mengawininya di Makkah dua tahun sebelum hijrah, ini adalah pendapat Abu Ubaidah, sementara pendapat yang lainnya mengatakan tiga tahun sebelum hijrahnya nabi, ketika itu beliau (Aisyah) masih berumur enam tahun, dalam satu pendapat mengatakan tujuh tahun dan Rasulullah mulai hidup bersamanya di kota Madinah ketika beliau berumur sembilan tahun, Aku tidak pernah mengetahui adanya perselisihan pendapat diantara ulama dalam permasalahan ini (permasalan tinggal bersamanya Rasul beserta Aisyah). (Lihat al-Isti`ab Fi Asma`i al-Ash-Hab:4/171, terbitan Maktabah Mesir).

Penulis (Muhammad Husni Ginting) cukupkan nukilan tiga orang tokoh ahli sejarah dan ahli hadis yang profesional dan terpercaya dalan nukilannya, agar anda melihat siapa yang sebenarnya berbicara dengan fakta yang nyata, tidak perlu menggunakan akal dan adat karena adat berbeda setiap saat, waktu dan tempat, sementara akal membenarkan terjadinya pernikahan Rasulullah. Didalam ungkapan Imam al-hafizh Ibnu Abdul Bar sangat nyata sekali bahwa beliau memutuskan tidak adanya perbedaan pendapat didalam masa tinggal bersamanya Rasulullah dengan Aisyah di kota Madinah.

Setelah itu mari kita lihat hadis-hadis yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari didalam Sohihnya, adapun sebab saya belakangkan riwayat Sohih Bukhari karena kita mesti melihat komentar ulama besar yang hidup setelahnya, adakah disana terdapat kritikan dalam masalah tersebut atau tidak, ternyata seluruh ulama sepakat dengan kesohihan hadis yang terdapat di kitab Sohih Bukhari, perlu kita ketahui bahwa Imam Bukhari telah menyebutkan tentang permasalahan ini didalam kitabnya lebih dari enam tempat diantaranya:

1- Kitab Manaqib al-Ansor, Bab Tazwiji an-Nabi saw Aisyah Wa Qudumiha Ila al-Madinah Wa Bina`ihi Biha, hadis nomor 3894.

2 - Kitab Manaqib al-Ansor Bab Tazwiji an-Nabi saw Aisyah Wa Qudumihi Ila al-Madinah Wa Bina`ihi Biha, hadis nomor 3896.

3 - Kitab an-Nikah , Bab Inkahi ar-Rajul Waladahu as-Shighar, nomor 5133.

4 - Kitab an-Nikah, bab Tazwiji al-Abi Ibnatahu Min al-Imam, nomor 5134.

5 - Kitab an-Nikah, bab Man Bana Bi Imara`atihi wahiya binti Tis`a Sinin, nomor 5158.

Mari kita lihat salah satu hadis yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari :

قال البخاري : حدثنا محمد بن يوسف : حدثنا سفيان عن هشام، عن أبيه ،عن عائشة رضي الله عنها : أن النبي صلى الله عليه وسلم تزوجها وهي بنت ست سنين ، وأدخلت عليه وهي بنت تسع، ومكثت عنده تسعا

Artinya: Berkata Imam Bukhari: Menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf, berkata ia: Menceritakan kepada kami Sufyan dari riwayat Hisyam, dari riwayat ayahnya, dari riwayat Aisyah r.a: Bahwasanya Nabi s.a.w menikahinya ketika umur beliau enam tahun dan hidup serumah dangannya ketika umur beliau (Aisyah) sembilan tahun, dan beliau hidup beserta Rasul selama sembilan tahun. (H.R Bukhari:5133).

Adapun pendapat Syeikh Habibur Rahman al-Kandahlawi mengenai hadits yang telah Imam Bukhari sebutkan bukan hadis Rasul sehingga boleh di tolak lihat kata-kata beliau: Berkata Habibur Rahman al-Kandahlawi: “Kami telah mengkaji dengan terperinci hadis yang di riwayatkan oleh Hisyam. Untuk kajian ini kami telah mengumpulkan bukti-bukti dari pada kitab Sohih Bukhari, Sohih Muslim , Sunan Abu Daud, Jami` Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Darimi dan Musnad al-humaidi, setelah menela`ah kitab-kitab tersebut, sesuatu kemusykilan telah timbul, sebahagian perawi mengatakan riwayat tersebut sebagai kata-kata Aisyah, sedangkan setengah yang lain mengatakannya sebagai kata-kata Urwah. 

Yang pasti ia bukan kata-kata Nabi Muhammad s.a.w sendiri. ia sama ada kata-kata `Aisyah ataupun kata-kata Urwah yang merupakan seorang tabi`in, jika riwayat ini adalah perkataan Urwah , ia tidak mempunyai apa-apa nilai dalam Syari`ah. Dan kita juga tahu bahwa apabila berlaku perbedaan pendapat sama ada suatu riwayat itu Muttashil (bersambung) atau Mauquf (terputus) ulama hadis pada umumnya akan mengatakan ianya sebagai Mauquf. Berdasarkan prinsif ini bolehlah disimpulkan bahwa riwayat ini adalah cerita sejarah oleh Urwah (dan bukan hadis) dan tidak berdosa menolak kata-kata Urwah.

Komentar penulis (Muhammad Husni Ginting) : Hadis ini sebenarnya telah diriwayatkan oleh Urwah dan disandarkan ceritanya kepada Sayyidah `Aisyah sebagimana yang tertulis didalam Sohih Bukhari dan telah diceritakan oleh Urwah juga tanpa menyandarkan cerita itu kepada `Aisyah, cerita yang telah diungkapkan oleh Urwah bukanlah Mauquf tetapi Mursal sebab cerita ini ada kaitannya dengan Rasulullah s.a.w karena setiap hadis yang bersangkut paut dengan perkataan, perbuatan, keadaan sifat dan sebagainya yang diriwayatkan oleh Tabi`in tanpa menyebutkan sahabat dihukumkan Mursal oleh ulama hadits, sementara didalam riwayat yang lain Urwah telah menyandarkan riwayat tersebut kepada `Aisyah, dengan begitu jadilah riwayat Mursal tadi menjadi Mausul (bersambung), sebab itulah Imam Bukhari keluarkan didalam kitabnya, bukan seperti apa yang di ungkapkan oleh Syeikh Habibur Rahman, kalaupun ungkapan itu adalah kata-kata `Aisyah tetap saja hadis itu dihukumkan hadis Marfu` sebab hadis ini menceritakan hal keadaan Rasulullah.

Anda mesti memahami kaedah yang telah ulama hadis tentukan dalam memahami muttashil atau munqathi`nya tersebut, sebahagian dari kaedah tersebut adalah:

1 - Jika seorang perawi meriwayatkan hadis yang terdapat didalamnya cerita atau kejadian, maka jika yang diriwayatkan terjadi diantara Nabi s.a.w dan para sebahagian sahabat, sementara si perawi seorang sahabat dan menyaksikan kejadian tersebut maka hukumnya adalah Muttashil. Kaedah ini seperti kejadian diatas, perawinya `Aisyah, kejadian tersebut diantara Nabi dan `Aisyah, dan `Aisyah menyaksikan kejadian tersebut.

2 - Jika perawinya Sahabat tetapi tidak menyaksikan kejadian tersebut maka dihukumkan Mursal Sahabat, dan mursal sahabat boleh di jadikan hujjah.

3 - Jika perawinya seorang Tabi`in maka dihukumkan Munqati` (terputus sanadnya).

4 - Jika perawi seorang Tabi`in meriwayatkan dari pada seorang Sahabat dan ia menyaksikan kejadian tersebut maka dihukumkan Muttashil, jika perawi tidak menyaksikan kejadian tersebut tetapi kejadian tersebut disandarkan kepada seorang sahabat maka hukumnya hukum Muttashil.

5 - Jika perawi seorang Tabi`in yang tidak menyaksikan kejadian dan tidak menyandarkan kejadian tersebut kepada sebahagian sahabat maka hukumnya hukum Munqati`. (Lihat al-Mulah Min Masa`ili al-Musthalah : 126, DR. Nasir Abdul Aziz al-Kamar). Dari kaedah ini kita mengetahui betapa jauhnya dugaan Syeikh Habibur Rahman al-Kandahlawi. Dengan begitu hadis yang telah diriwayatkan oleh Urwah dihukumkan Muttashil sebab beliau telah sandarkan kepada Sayyidah `Aisyah. 

Adapun hujjah Syeikh Abdur Rahman al-Kandahlawi yang menyatakan bahwa yang meriwayatkan dari Hisyam adalah ulama-ulama Kufah, sementara ulama -ulama terkenal dengan aqidah mereka yang Syi`ah maka jawabanya sebagai berikut:

Penulis (Muhammad Husni Ginting): Adapun ulama yang meriwayatkan hadis ini dari Hisyam adalah :

1 - Sufyan Bin Unayyah: beliau adalah ulama besar yang agung dan terpercaya seluruh ulama islam memuji dan memulyakannya, berasal dari kufah tetapi tinggal di Makkah, lahir 107 hijriyah meninggal dunia di Makkah tahun 198 hijriyah.

Berkata Imam Syafi`i: Kalaulah tidak karena Imam Malik dan Imam Sufyan niscaya hilanglah ilmu hijaz. Berkata Imam al-`Ijli : Ahli Kufah yang Tsiqah, Tsabat dalam hadis, bagus hadisnya, dia tergolong orang bijaksana dari golongan ahli hadis. berkata Imam `Ali al-Madini  tidak ada diantara muridnya Imam az-Zuhri yang lebih profisional dari Imam Ibnu Uyainah. Berkata Imam Ahmad: Tidak pernah ku lihat seorang ahli fiqih yang lebih mengetahui al-Qur`an dan sunnah kecuali Beliau . (Tahdzibu at-Tahdzib:2/721).

2 - Sufyan Bin Said at-Tsauri: Beliau adalah ulama besar dan kepercayaan umat, meninggal dunia pada tahun 161 hijriyah. Berkata Imam Syu`bah, Ibnu Unayyah, Abu `Ashim, Ibnu Ma`in dan selain mereka: "Sufyan Amirul Mukminin didalam ilmu Hadis. Berkata Imam Ibnu Mahdi: Imam Wahab lebih mengunggulkan Sufyan ats-Tsauri dari Imam Malik dalam hafalan. Berkata Abdullah bin Mubarak: Aku menulis hadis dari seribu seratus Syeikh, tidak ada yang paling afdhol kecuali Sufyan ats-Tsauri. (Tahdzib at-Tahdzib:2/715). Berkata al-Hafizh adz-Dzahabi : Beliau seorang Yang Tsiqah, Tsabat dan al-Hafizh (Al-Kasyif:1/379)

3 - Ali bin Mushir
4 - Abu Mu`awiyah al-Farid.
5 - Waki` bin Bakar .
6 - Yunus bin Bakar.
7 - Abu Salamah.
8 - Hammad bin Zaid.
9 - Abdah bin Sulaiman.

Dan lain-lainnya.

Penulis hanya menyebutkan dua orang ulama saja dengan biografi mereka, sebab mereka berdua adalah ulama umat yang telah sepakat seluruh ulama ahlussunnah dalam keagungan dan ke tsiqahan mereka berdua, bagaimana boleh Syeikh Habiburrahman menuduh mereka dengan pendustaaan dan penipuan, tidak ada satupun ulama islam yang menyebutkan bahwa mereka berdua bermazhabkan syi`ah, bahkan mereka berdua adalah pemimpin ulama ahlussunnah. Sampai disinilah dulu pembahasan dalam masalah perkawinan Sayyidah `Aisyah r.a., insyaallah akan saya sambung kepada hujjah yang berikutnya.

Rujukkan :
1 - al-Jami` Sohih Bukhari terbitan Darus Salam Riyadh.
2 - Kasyif karangan Imam adz-Dzahabi, cetakan Darul Kutub Hadisah, Kairo.
3 - Tahdzibu at-Tahdzib Fi Rijali hadis, karangan al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, Darul Kutubu al-Ilmiyyah Bairut.
4 - Fathu al-Baari , karangan al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, terbitan Dar al-Manar, Cairo.
5 - al-Isti`ab Fi Asma`i al-Ash-Hab, karangan al-Hafizh Ibnu Abdul Bar cetakan Maktabah Mesir Kairo.
6 - al-isobah Fi Tamyizi Sohabah, karangan al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani, terbitan Maktabah Mesir Kairo.

No comments:

Post a Comment