Wednesday, June 22, 2016

HAKIKAT AMARAH AWLIYA

Suhbat Kamis, 20 Oktober 2005 di Dergah Shaykh Nazim, 277 St Ann’s road London. Mawlana Shaykh Hisham Kabbani q.s. Assalamu ‘alaykum wa rahmatullah wa barakatuh. Allah Allah Allah Allah Allah Allah Sulthan Allah. Allah Allah Allah Allah Allah Allah Subhan Allah. Allah Allah Allah Allah Allah Allah ‘Aziiz Allah. Allah adalah Sang Sultan. Pertama-tama, kita mesti memohon dukungan dari Syaikh kita, Mawlana Syaikh Muhammad Nazim ‘Adil Al-Haqqani q.s. Adalah sulit untuk dapat memahami Awliya’ullah. Bila amat sulit bagi kalian untuk memahami diri kalian sendiri, maka tentulah lebih sulit lagi untuk memahami orang lain; maka lebih mustahil untuk memahami Awliya’ullah, para kekasih Allah. Dan jauh lebih mustahil untuk memahami para Sahabat Nabi s.a.w.

Nabi s.a.w bersabda, “Siapa yang tahu limit/batasan dirinya, hendaklah berdiri di batasan dirinya tersebut.” Setiap orang memiliki limit-nya masing-masing, dan tak semestinya ia melangkahi limitnya tersebut. Karena itulah Allah Ta’ala berfirman, “Yaa Ayyuhal ladziina Aamanuu in jaa-akum faasiqun bi naba-in fatabayyanuu an tushiibuu qawman bi jahaalatin fatushbihuu ‘ala maa fa’altum naadimiin” [QS Al-Hujuraat (49): 6] “Wahai orang-orang beriman, jika seseorang datang pada kalian dengan suatu pesan yang dipelintir, yang ditambah-tambahi, atau yang dikorupsi, kalian mesti mem-verifikasi-nya, agar diri kalian tak terperangkap oleh shaytan. Jika kalian tidak memaksakan diri kalian untuk menempuh kesulitan tersebut, untuk memeriksa berita tersebut, maka kalian akan menyesalinya di kemudian hari”. Sayyidina ‘Ali r.a adalah seorang sahabat, menantu Nabi (s), sekaligus seorang khalifah (penerus). Nabi (s) tak akan memberikan putri beliau (s) bagi dirinya, jika beliau (s) tidak akan menjadikan dirinya sebagai seorang khalifah (penerus) beliau (s). Jadi, di antara diri saya dan X, tak ada masalah apa-apa. Jika kalian menceburkan diri kalian pada masalah ini, kalian akan membakar diri kalian sendiri.

Di zaman para Sahabat, pernah terjadi perselisihan di antara sayyidina ‘Ali r.a dengan Sayyidina Mu’awiyah r.a. terutama terkait dengan kasus pembunuhan sayyidina ‘Utsman r.a.. Sayyidina ‘Ali adalah seorang menantu, sahabat, sekaligus seorang khalifah dari Nabi (s). Sementara Sayyidina Mu’awiyah r.a. adalah seorang sahabat Nabi (s) dan khalifah. Saat Al Quran di taruh di atas, mereka pun menghentikan perselisihan mereka. Ia yang bijaksana adalah ia yg salat di belakang sayyidina ‘Ali r.a. namun memakan dari makanan yg dibagi-bagikan oleh sayyidina Mu’awiyah r.a. Mereka saat itu berkata kepada org tersebut, “Kau munafiq! Mengapa kau salat di belakang sayyidina ‘Ali tapi makan dari makanan yg dibagikan oleh Mu’awiyah?” Dan org tersebut menjawab, “Mengapa tidak? Aku salat di belakang sayyidina ‘Ali karena salatnya lebih diterima di Hadirat Ilahi, dan aku makan dengan makanan Mu’awiyah, karena makanannya lezat dan ni’mat.”

Saya (yaitu Mawlana Shaykh Hisham Kabbani, red.) kini berusia 60 tahun, dan sudah selama 50 tahun saya mengikuti Mawlana Shaykh Nazim, sejak diri saya berusia 10 tahun. Kalian tahu kuku dari Mawlana Shaykh Nazim? Saya dan saudara saya, Shaykh ‘Adnan, biasa memakan kuku beliau! Saat Mawlana Shaykh Nazim melakukan operasi Hernia di tahun 1973, di mana kalian?! Saya dan saudara saya, biasa meminum urine (air kencing, red.) Mawlana Shaykh Nazim, bahkan kami mengusap-usap botol penampungan urine Grandshaykh dan Mawlana Shaykh dan meminum sampai tak tersisa urine di botol itu. Ini kami lakukan saat masa recovery (pemulihan selepas operasi) mereka, di rumah kami di Beirut. Saat perang saudara pecah di Beirut, dan api melalap keseluruhan bangunan di sekelilingnya, namun bangunan berlantai 4 di mana kamar pemulihan Grandshaykh dan Mawlana Shaykh berada, tetap berdiri dengan kokohnya. Saya masih memiliki fotonya, jika ada di antara kalian yang berminat.

Jangan bakar jari tangan kalian pada apa yang bukan tanggung jawab kalian, pada apa yang bukan urusan kalian!! Mawlana Shaykh Nazim, semoga Allah melimpahkan barakah-Nya bagi beliau dan memberikan baginya umur panjang. Saat itu, kami, saya dan saudara saya, Shaykh Adnan, datang dari Beirut ke Damaskus mengendarai mobil, mengetuk pintu Mawlana Shaykh pukul 2 di pagi hari, kemudian kami pergi bersama ke rumah Grandshaykh untuk melakukan salat Najat, salat Tasbih, salat Syukur, dan kemudian salat Fajar, dan Isyraq. Lalu kami pulang ke Beirut. Demikian kami lakukan hampir tiap hari selama bertahun-tahun di masa itu. Jangan pikir jika Mawlana Shaykh Nazim tengah berteriak pada seseorang, berarti beliau tengah marah pada orang tersebut. Tidak! Mawlana tengah memikul beban orang tersebut, dan mengambil semua dosa-dosanya. Karena cinta-lah, beliau berteriak.

Saat itu, permulaan bulan Juni. Kami (Shaykh Hisham dan Shaykh ‘Adnan) menikah pada 5 Juni. Saat itu masa Mawlid (Rabi’ul Awwal, red.). Ketika kami melintasi area di bawah pagar kamar Grandsyaikh ‘Abdullah, kami mendengar Grandshyakh berteriak dan berteriak serta memaki. Begitu menakutkan sebab saat Grandshaykh berteriak, beliau berteriak dengan Keagungan (Jalal). Tak pernah saya menjumpai Mawlana Shaykh Nazim berteriak seperti Grandshaykh melainkan dalam 5-6 tahun terakhir ini. Sebelumnya, Mawlana Shaykh Nazim selalu penuh dengan Jamaliy, dengan keindahan, selalu tersenyum. Jika Grandshaykh berteriak seperti itu kepada kami, tentulah kami sudah habis dan berlari tunggang langgang.

“Pergi! Jangan datang lagi ke tempatku! Jika kau datang lagi ke sini, aku akan tendang dirimu keluar!” teriak Grandshaykh saat itu. “Kepada siapa Grandshaykh berteriak dan marah-marah?” pikir kami. Kemudian kami melihat Mawlana Shaykh Nazim datang dari dalam arah kamar Grandsyaikh, sambil tersenyum. Kami bertanya pada beliau, “Wahai Mawlana, apakah yang tengah terjadi? “Tak ada apa-apa” jawab beliau. “Pergilah kalian ke atas, dan jumpai Grandshaykh! Aku akan pulang ke rumahku sekarang” lanjut beliau. Kami pun pergi masuk ke dalam rumah, dan melihat banyak murid tengah berkumpul di sana. Mereka berkata, “Lihat, Grandsyaikh tengah marah pada Syaikh Nazim!” Inilah murid-murid yang suka akan fitnah. “Jangan pergi ke dalam…” kata mereka pada kami. “Hisham! Adnan! Masuk ke sini!” teriak Gransyaikh kepada kami dari balik pintu kamarnya yang masih tertutup. Beliau bahkan tak perlu membuka pintu untuk sekedar mengetahui kehadiran kami.

Saat kami masuk ke dalam, dan menjumpai Gransyaikh tengah terbaring di tempat tidurnya. Beliau tertawa terbahak-bahak, “Ha…ha…ha…” Beliau demikian bahagianya, dan berkata, “Aku hanya dapat mengeluarkan bebanku padanya (yaitu Mawlana Syaikh Nazim), beban ummah yang Nabi (s) telah busanakan pada diriku untuk kupikul.” Jadi, Awliya’ullah, karena mereka memikul tanggung jawab yang demikian besar untuk mengurus ummah ini, terkadang mereka memerlukan untuk melepaskan beban tersebut dengan cara berteriak. Pastilah ada seseorang murid yang menjadi tempat pelampiasan teriak tersebut, yang biasa disebut sebagai drainage (saluran pembuangan) dari sang Syaikh.

Saat kami masuk dan menemui Grandsyaikh, beliau berkata, “Subhanallah, Nazim effendi ini, berapa banyak aku telah mengujinya, meneriakinya, sambil melihat ke dalam qalbunya, apakah cintanya akan berubah, ataukah cintanya justru akan bertambah dan bertambah lagi.” Amarah Mawlana adalah Rahmah (Kasih sayang). Allah Ta’ala berfirman (dalam suatu hadits Qudsi), “Sabaqat rahmatii ‘ala ghadhabii” “Rahmat-Ku mendahului Amarah-Ku”. Awliya’ullah adalah pewaris Nabi (s). Mereka tak akan membiarkan bahkan satu helai rambut pengikutnya terambil oleh shaytan, tak pula keseluruhan badan fisik mereka; apatah lagi ruh dan jiwa mereka. Awliya’ullah adalah bagaikan para jenderal yang tak akan membiarkan seorang-pun anggota pasukannya tertawan oleh musuh.

Awliya’ullah, mereka memiliki banyak transformer, merekalah para wakil atau representative. Setiap transformer memiliki kapasitasnya masing-masing. Transformer dengan kapasitas 1000 W tak akan pernah mampu bertanya pada transformer dengan kapasistas 100 kW atau 1 MW. Tidak. Itu bukan urusan kalian. Saat, di tahun ini, saya berkunjung ke Indonesia, kemudian pergi ke Cyprus. Mawlana Shaykh berkata pada saya, “Aku mengirimkan dirimu untuk melakukan Khalwah.” Dan saya pun menjawab, “As you like” “Sebagaimana keinginanmu, wahai Syaikh-ku”. Namun, bagaimana pun, perintah khalwat ini terasa seperti halilintar bagi diri saya. Kemudian, saya pun bertanya, apakah saya dapat berkunjung ke Indonesia lagi (sebelum Rajab) karena Presiden dan Wakil Presiden Indonesia adalah murid dari Mawlana Syaikh dan mereka amat mencintai Mawlana Syaikh Nazim.

Maka, saya pun kemudian pergi ke Damaskus. Dan Mawlana memberikan pada diri saya niat untuk khalwat kali ini: “Aku mengirimkanmu untuk berkhalwat; di antara 124.000 Wali, bahwa mereka melakukan khalwat mereka secara tersembunyi, kaulah yang paling penting bagi kami. Perintah ini datang secara pribadi dan langsung dari Nabi (s) kepada Grandsyaikh dan kemudian kepada diriku.” Jika Mawlana tengah marah pada diri saya, mengapakah kalian pikir beliau tetap mengirim diri saya untuk berkhalwat? Mawlana Syaikh Nazim berkata, “Aku mengirimkanmu berkhalwat untuk satu alasan utama. Aku ingin agar kau bangun tiap malam selepas Isya’ untuk melakukan rabithah (ikatan batin/spiritual, red.) dengan diriku; karena aku akan mengirimkan bagimu pesan-pesan. Setelah pukul 1.30 di tengah malam, bangunlah! Setelah melakukan berbagai doa yang berbeda, kau mesti melakukan munajat. Aku akan pergi dengan dirimu, begitu pula Grandshaykh akan bersamamu pergi ke hadirat Nabi (s), dan melakukan munajat itu langsung di hadapan hadirat suci beliau sall-Allahu ‘alayhi wasallam!”

Beliau melanjutkan, “Munajat ini dilakukan untuk satu tujuan utama: untuk membunuh syaitan, untuk menyelamatkan kemanusiaan dari kejahatan ego mereka”. [catatan penerjemah: dari Shaykh Sahib Mahmud, ada dua interpretasi atas tujuan khalwat ini. Pertama, menyelamatkan kemanusiaan secara fisik dari bencana-bencana yang ada. Kedua, menyelamatkan ruh/jiwa manusia dari kejahatan egonya. Karena pada zaman sayyidina wa imamuna Mahdi ‘alayhissalam, ruh harus berjaya dan menang atas ego dan nafsu] Kemudian saya bertanya, “Bolehkah saya membaca Tafsir Quran?” [catatan penerjemah: yang dimaksud Mawlana Syaikh Hisham dengan Tafsir di sini, bukan sekedar terjemah Al Quran yang satu jilid itu yang lazim kita jumpai, melainkan penjelasan akan ayat-ayat Quran secara lengkap yang bisa mencapai 15 Volume buku tebal, oleh satu pengarang saja].

Mawlana Syaikh Nazim q.s. menjawab: “Jangan membaca! Aku akan mengirimkan pada dirimu inspirasi dan saat itu, kau mesti mengambil penamu. Saat pena itu menyentuh kertas, kau akan mulai ‘menggambar’” (rashamat: menggambar; bukan kitabah: menulis). Karena huruf, esensinya adalah suatu gambar, atau lukisan yang membentuk simbol tertentu. Dan saat 8 Rajab, saya mulai merasakannya. Saya pun mengambil pena dan menaruhnya ke atas kertas, dan saya mulai melihatnya menulis sendiri. Saya menulis 150 halaman. Saya tak percaya bahwa saya dapat menulis seperti itu.

Di Amerika, saya mulai menjelaskan apa yang saya tulis tersebut. Saya begitu terkejut bagaimana huruf-huruf ini berkorelasi satu sama lain, dan membentuk suatu penjelasan yang tak pernah saya punyai sebelumnya. Ini semua saya katakan, bukan dengan niatan membesarkan ego saya, tidak. Tapi, untuk mengatakan pada kalian akan citarasa apa yang saya tulis tersebut. Jadi untuk keseluruhan dari kita, Nabi (s) bersabda, “Laa farqa bayna l-‘Arabi wa l-‘Ajami illaa bi t-taqwa” “Tak ada beda antara Arab dan non-Arab kecuali dengan ketaqwaan/kesalihan”. Allah berfirman pula dalam Quran suci, “Yaa Ayyuhan Naasu innaa khalaqnaakum min Dzakarin wa Untsaa wa ja’alnaakum syu’uuban wa qabaa-ilan lita’aarafuu. Innaa akramakun ‘indAllahi atqaakum” [QS Al-Hujurat (49): 13]. “Wahai manusia, Kami menciptakan diri kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan diri kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian mengenal satu sama lain. Sungguh yang paling mulia di sisi Allah, adalah ia yang paling bertaqwa di antara kalian.”

Kalian mungkin dari bangsa Arab, atau Amerika, atau Turkish, atau bangsa Jerman, bangsa Eropa, tapi kalian semua berada di bawah panji Allah, di bawah panji Mawlana. Dan di bawah panji Mawlana semuanya adalah sama. Mawlana mencintai semua muridnya TANPA membeda-bedakan; bahkan di antara mereka yang lebih lama dalam tariqah dengan mereka yang masih baru. Sebagaimana Nabi (s) bersabda, “Seluruh manusia adalah bagaikan gigi-gigi dari sebuah sisir.” Wahai saudara-saudaraku laki-laki dan perempuan,…semoga Allah memaafkan diri kita semua. Bihurmatil habib Al-Faatihah.

No comments:

Post a Comment