Thursday, June 23, 2016

RAHSIA PARA AWLIA

(Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani, Philadelphia 10.5.’94). Sayyidina Abdul Qadir Jailani kala itu sedang berada di Baqhdad. Beliau dengan murid terbaiknya mendaki bukit yang sangat tinggi. Beliau ingin mengujinya. Didorongnya murid itu agar jatuh ke sungai. Murid itu menyerah, tunduk pada syaikhnya. Dia adalah bayangan syaikhnya. “Bayangan” berarti kalian menyerah, namun tidak secara total. Masih ada keraguan di dalam hati . Apakah yang dimaksud sebagai ‘menyerah secara total’? Para syaikh mengatakan: “ Kami tidak ingin seseorang datang pada kami seperti mayat, karena meskipun sudah jadi mayat, mereka masih menyimpan keinginan.”

Ketika kalian meninggal, kalian masih mempunyai keinginan dan belum menyerah secara total. Nabi (kedamaian tercurah pada beliau) bersabda bahwa ketika seseorang meninggal dan kalian memandikannya dengan air dingin, maka jasad itu akan mengatakan: “ Ini terlalu dingin. Buatlah hangat sedikit.” Jika terlalu panas, jasad itupun mengatakan: “ Buatlah agak dingin sedikit.” Dan jika kalian menggosok mayat itu dengan kasar, diapun bisa merasakan sakit. Itulah mengapa Nabi mengatakan, ” Sayangilah jasad orang mati, karena meskipun tidak bisa bicara, dia bisa merasakan.”

Itulah mengapa dalam Islam tidak diizinkan memotong jasad atau melakukan otopsi apalagi membakarnya. Mereka merasakan apapun tanpa kalian sadari. Walaupun dalam keadaan seperti ini, mayat itu masih belum ada penyerahan total. Penyerahan diri yang benar adalah ibarat selembar daun. Jika mengering, diapun jatuh dan daun itu pergi kemanapun angin membawanya, ke utara atau selatan atau barat. Bahkan jika angin itu terseret ke dalam api, daun itu tidak mengatakan apapun. Menyerah total seperti inilah yang kami inginkan dari para murid. Tidak ada keinginan lagi. Ketika sayyidina Abdul Qadir mendorong muridnya, maka yang terjadi adalah dia memang menyerah, namun masih ada tanda tanya di dalam hatinya, “ Atas alasan apa syaikh mendorongku terjun ke sungai?” Murid itu menerima apapun, jika syaikhnya menginginkan dia mati, diapun rela mati demi syaikhnya. Tapi dia masih bertanya: atas alasan apa? apakah kearifan dibalik ini?

Kearifannya, hai kalian murid-murid yang idiot! adalah untuk memberikan rahasia kalian. Segera setelah murid sampai ke air, tangan syaikh berada di bawahnya. Syaikh mampu mendeteksi apa yang ada didalam hati muridnya. Itulah mengapa kami mengatakan bahwa duduk didekat syaikh seperti duduk di dekat api. Satu kesalahan saja mampu membakar kalian. Dan itulah sebabnya murid sayyidina ‘Ubaydu-l-Lah al-Ahrar selalu memilih duduk didekat deretan sepatu-sepatu daripada di dekat syaikhnya. Mereka sadar akan maqamnya, biarkan yang lain ingin mengambil apa yang ingin diambil, aku tidak tertarik. Batasku masih sampai sepatu, aku tidak lebih baik dari sepatu. Itulah maqamku di hadapan syaikhku, yaitu membersihkan sepatu.

Maqam seperti itulah yang dibutuhkan. Bukannya duduk dengan sombong agar dikira seorang alim besar. Kalian belum sampai tingkatan itu. Jika waktunya sampai, syaikh akan memberikan kekuatan itu. Jika belum siap, syaikhpun tidak akan memberikannya. Kalian masih harus berjalan terus sampai meraih pemahaman yang benar tentang syaikh. Bay’at sebenarnya bukanlah sesuatu yang mudah untuk diberikan. Di abad ini, sebagaimana saya katakan, para awliya bertanya pada Nabi: Ya Rasulullah, apa yang bisa kami lakukan? ini sungguh sulit.

Para awliya ada di seluruh penjuru dunia. Sedikitnya sekali dalam seminggu, setiap manusia, walaupun dia sedang duduk di puncak gunung manapun pasti bertemu dengan seorang wali yang datang mengucapkan salam padanya. Kadang hanya melihatnya dan pergi. Kalian bahkan tidak sadar bahwa dia adalah seorang wali. Beliau mendatangi kalian dengan berbagai macam samaran. Beliau memandang kalian, mengambil dosa-dosa kalian dan pergi. Itulah tugas seluruh awliya dan mereka ada dimana-mana.

Ketika para awliya ini melihat segala macam kegelapan dan ketidak pedulian menutupi dunia ini, mereka meminta dan memohon pada Nabi dan Nabi memohonkannya pada Allah SWT agar diberi izin lebih dan kekuatan lebih bagi para wali untuk menanggung berbagai tanggung jawab murid-muridnya. Wa min Allah at-Tawfiq bi hurmat al-Fatiha.

No comments:

Post a Comment