Tuesday, January 1, 2013

KISAH UMAR AL-KHATTAB

Masih ingatkah kita kisah tentang seorang ibu yang terpaksa memasak batu untuk anak-anaknya karena sulitnya kehidupan ketika itu? Saat itu hujan abu meliputi jazirah Arab, pohon-pohonan kering dan hujan tak kunjung datang.

Seorang gadis kecil menangis meminta makan kerana rasa lapar, sebab sejak pagi belum makan hingga petang, sementara sang ibu, seorang janda, terpaksa memasukkan batu ke dalam periuk untuk menghibur anaknya yang kelapran.

Malam itu Amirul mukminin Umar bin Khattab sedang keluar memantau dan mencari mana rakyatnya yang kelaparan dan tidak makan. Di depan pintu rumah itu Umar bin Khattab mendengar tangisan gadis kecil yang kelaparan itu, sementara seorang ibu dari gadis kecil itu di dapur sedang membalik balikan sesuatu yang ada di dalam panci, Umar bin Khattab berkata: "Apa yang anda masak wahai ibu?" "Lihatlah sendiri!" Jawab ibu itu. Ketika Umar bin Khattab melihatnya ternyata ibu itu sedang memasak batu untuk anaknya yang kelaparan. 

Umar bin Khattab menangis, air matanya terus mengalir, sementara ibu dari anak itu tidak tahu kalau yang ada di depan matanya adalah Amirul Mukminin. Ibu itu terus memaki-maki Umar bin Khattab sebagai pemimpin yang tidak bertanggung jawab. Umar bin Khattab terus menangis, Ia kemudian pulang ke Madinah dan malam itu juga ia memikul gandum dengan bahunya sendiri dalam perjalanan yang cukup jauh.

Umar bin Khattab sangat takut kalau kerana hal itu dia dimasukkan ke dalam neraka. Duhai Al Faruq betapa mulianya akhlakmu, seorang khalifah Islam yang keluar setiap malam untuk menyaksikan sendiri kehidupan rakyatnya.

Sekilas kisah di atas hanya sekadar ingin menggambarkan tentang tanggungjawab yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin. Namun jika difahami lebih dalam kita akan mendapati bahawa kisah di atas selain mengandung kewajiban seorang pemimpin untuk memperhatikan keadaan bahwahannya atau orang yang menjadi tanggung jawabnya, terdapat pesan pula kepada seluruh orang beriman untuk memperhatikan antara satu sama lain.

Mengapa demikian? Kerana datangnya Umar bin Khattab ke rumah ibu tersebut tidak hanya karena keimanan beliau sebagai pemimpin yang bertanggugjawab di kala itu, namun lebih kepada sikap untuk saling tolong menolong antara sesama manusia. Kalaupun ia melakukan hal itu karena sekadar ingin menjalankan tugas sebagai khalifah, maka mudah saja baginya untuk melibatkan pengawal atau bawahan beliau untuk keluar di malam hari dan tidak perlu memikul gandum dengan bahunya sendiri.

Kisah ini harusnya menjadi pelajaran buat setiap orang mukmin, para ulama, ustad yang ada ramai pengikut, Juga tentunya para pemimpin umat. Perhatikanlah bagaimana ekonomi teman dan saudara kita, murid-murid pengajian. Apakah anak-anak mereka dalam keadaan kenyang, isteri dan anak mereka yang sedang sakit sudahkah kita menjenguknya? Lebih baik lagi jika kita memegang dana untuk meringankan beban bila mereka memerlukan.

Perhatikanlah hadith yang menjelaskan tentang keutamaan menolong dan memperhatikan saudara sesama muslim, yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda:

مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ ، يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَمَنْ سَتَـرَ مُسْلِمًـا ، سَتَـرَهُ اللهُ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَاللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ.

"Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah s.w.t memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allah akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)

Ketika seorang mukmin ingin urusan dunia akhiratnya dipermudah maka cara yang dianjurkan Rasulullah s.a.w adalah hendaknya ia membantu meringankan keperluan saudaranya, menjadi penolong ketika saudara sesama muslim memerlukan pertolongannya. Sebab Allah akan sentiasa membantu orang yang membantu saudaranya.

Keutamaan lainnya disebutkan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah beliau berkata:

ﺭُﺑَّﻤَﺎ ﺗَﻨَﺎﻡُ ﻭَﻋَﺸَﺮَﺍﺕُ ﺍﻟﺪَﻋَﻮَﺍﺕِ ﺗُﺮْﻓَﻊُ ﻟَﻚَ ﻣِﻦْ ﻓَﻘِﻴْﺮٍ ﺃَﻋَﻨْﺘَﻪُ ﺃَﻭْ ﺟَﺎﺋِﻊٍ ﺃَﻃْﻌَﻤْﺘَﻪُ ﺃَﻭْ ﺣَﺰِﻳْﻦٍ ﺃَﺳْﻌَﺪْﺗَﻪُ ﺃَﻭْ ﻣَﻜْﺮُﻭْﺏٍ ﻧَﻔَﺴْﺖَ ﻋَﻨْﻪُ ﻓَﻼَ ﺗَﺴْﺘَﻬِﻦَ ﺑِﻔِﻌْﻞِ ﺍﻟﺨَﻴْﺮِ ﺃَﺑَﺪﺍً .

"Boleh jadi engkau sedang tidur namun doa-doamu dikabulkan, karena orang fakir yang engkau tolong, orang yang lapar yang engkau beri makan, orang yang sedih yang engkau bahagiakan, orang yang sedang kesusahan yang engkau beri penyelesaian kepadanya, maka janganlah sekali-kali diremehkan dengan perbuatan baik."(Ad Da’ Wa Ad Dawa’, Ibnu Qayyim Al Jauziyah)

Cukuplah seseorang dikatakan sebagai orang zalim ketika ia malam harinya telah kenyang bahkan makanan dirumahnya masih tersisa, padahal jirannya tidur dalam keadaan menahan lapar karena tidak ada makanan.

Cukuplah seseorang dikatakan zalim ketika ia mampu tertawa terbahak-bahak padahal jirannya sedang dirundung kesedihan sedang dia pun acuh tak acuh dengan keadaannya.

Mari kita belajar dengan kisah sahabat mulia Umar bin Khattab dan mampu melakukannya di dalam kehidupan nyata. Semoga Allah satukan kita dalam jalinan yang kuat dalam suka dan duka. Wallahu a’lam.

No comments:

Post a Comment