Thursday, January 30, 2014

CARA UNIK SEMUT MATI MEMBERITAHU KAWANNYA

Para semut pekerja mendeteksi kematian semut lain dan menarik mereka keluar dari sarang, biasanya dalam satu jam setelah kematian. (National Academy Sciences dan PNAS). 

Para semut pekerja mendeteksi kematian semut lain dan menarik mereka keluar dari sarang, biasanya dalam satu jam setelah kematian. (National Academy Sciences dan PNAS). Ketika satu semut mati, semut-semut lain dengan cepat bisa mendeteksinya, lalu bergerak mengangkat serangga yang mati itu keluar dari sarangnya. Perilaku ini menarik para ilmuwan, bagaimana para semut segera mengetahui dengan pasti semut lain sudah mati.

Seorang ilmuwan baru-baru ini memaparkan cara untuk menjelaskan perilaku semut. Dong-Hwan Choe adalah seorang ahli ilmu biologi, seorang ilmuwan yang belajar tentang mahluk hidup di Universitas California. Choe menemukan semut-semut Argentina memiliki bahan kimia di luar tubuh mereka, sebagai sinyal kepada semut-semut yang lain, “Aku sudah mati, bawa saya jauh-jauh.”

Tetapi ada sebuah simpul pada penemuan Choe. Semut-semut ini sedikit seperti zombi. Choe mengatakan bahawa semut-semut yang hidup juga mempunyai bahan kimia ini. Dengan kata lain, selagi satu semut merayap berkeliling, juga memberi sinyal.

Lebih jauh lagi, Choe menemukan bahawa semut-semut Argentina mempunyai dua bahan kimia tambahan di tubuh-tubuh mereka, dan ini menyampaikan kepada para semut jarak dekat, ”Tunggu, aku belum mati.”

Maka riset Choe menetapkan dua sinyal kimia di dalam para semut: satu berkata, ”Aku telah mati,” yang satunya lagi artinya, ”Aku belum mati.”

Selain penemuan Choe, para ilmuwan lain telah mencoba untuk memahami bagaimana para semut mengetahui semut lain telah mati. Jika satu semut yang pingsan diketuk rekannya, kemudian semut-semut lain meninggalkannya sendirian sampai ia terbangun, itu berarti para semut mengetahui bahawa semut yang tidak bergerak masih dalam keadaan hidup. Banyak ilmuwan, seperti Choe, berpikir harus ada suatu bahan kimia saat tubuh semut mati.

Choe mencurigai ketika seekor semut Argentina sekarat, bahan kimia berkata “Tunggu, saya belum mati” cepat pergi menjauh, begitu bahan kimia “Aku belum mati” ini lenyap, hanya satu yang dikatakan “Aku sudah mati”. Ketika para semut yang lain hanya mendeteksi bahan kimia “Mati” tanpa bahan kimia “Belum mati”, mereka sudah memastikan bahawa semut itu telah mati dan menarik pergi tubuhnya. Ini adalah hipotesis Choe untuk menguji eksperimennya.

Untuk menguji hipotesisnya, Choe dan timnya menaruh bahan kimia yang berbeda pada semut Argentina. Sebuah kepompong adalah tahap pertama kehidupan semut sebelum menjadi dewasa. Ketika para ilmuwan mengunakan bahan kimia “Aku sudah mati”, semut-semut lain dengan cepat menarik tubuhnya jauh-jauh, ketika para ilmuwan menggunakan bahan kimia “Tunggu, saya belum mati.” Semut-semut lain meninggalkan tubuh nya sendirian. Choe percaya perilaku ini menunjukan bahawa keberadaan bahan kimia “Belum mati” mengesampingkan bahan kimia “Mati”. Dan ketika pada akhirnya semut itu mati, bahan kimia “Belum mati”-nya menghilang. Semut-semut yang lain lalu mendeteksi bahan kimia “Mati” dan mengangkat tubuhnya dari sarang.

Pemahaman akan perilaku ini bisa membantu para ilmuwan memahami bagaimana menghentikan semut-semut Argentina untuk menguasai tempat-tempat baru dan menimbulkan permasalahan. Bahan kimia yang ditemukan Choe akan dikembangkannya menjadi semacam insektisida.

Ketika ada semut mati, ia segera dipindahkan, perilaku ini penting bagi seluruh kesehatan sarang semut, perilaku mereka tidak berbeda dengan kita: ketika seseorang meninggal, jenazah itu lalu dikubur, tidak dibiarkan membusuk didalam rumah.

“Mampu untuk segera mendeteksi dan memindahkan mahluk yang tak bernyawa lagi adalah satu kemampuan yang sangat penting bagi semua mahluk hidup, termasuk kita,” ujar Patrizia d’Ettorre, dari Universitas Copenhagen. 

No comments:

Post a Comment