Friday, March 7, 2014

MEMORI SEORANG PURITAN

“Pemuda harus dikuasai dan menjadikan mereka sebagai budak-budak konspirasi dengan jalan penyebarluasan dekadensi moral dan paham yang menyesatkan (Protokol zionis poin ke 23)”
  
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warrohmatullahi wabarakatuh.

Saudaraku, setiap orang mempunyai kisah hidupnya masing masing. Pahit manis getirnya kehidupan yang membuat kita belajar dan memperbaiki diri di dalam hidup ini. Ini adalah sepenggal kisah seorang anak manusia. Sepenggal kisah seorang anak Adam yang pernah di tipu mentah mentah oleh Iblis Laknatullah. Sepenggal kisah seorang anak manusia yg menjadi korban sebuah konspirasi agenda besar para zionis. Sepenggal kisah seorang yg telah menjadi boneka kayunya Dajjal dan agen agennya. Sepenggal kisah pemuda yang tersesat namun kemudian menemukan kembali fitrahnya sebagai seorang Muslim. Inilah sepenggal kisahku.

Aku terlahir dari sebuah keluarga yg biasa biasa saja. Mempunyai seorang ibu yg biasa biasa saja pula. Mempunyai ayah dan kakak serta adik yg biasa biasa juga. Hidup juga dilingkungan yg biasa saja dan bersekolah di sekolah yg sangat sangat biasa pula. Masa remaja ku pun tergolong biasa biasa saja. Intinya semua hal  dalam hidupku ini biasa dan normal normal saja. Aku hanyalah seorang anak laki laki yg tumbuh normal dlm sebuah keluarga yg hangat, di besarkan oleh seorang ibu yg mengasihiku lebih dari dirinya sendiri dan seorang ayah yg mendidikku dgn penuh teladan agar aku bias menjadi orang yg baik.

Namun ada hal yg mungkin tidak biasa di dlm hidupku jika disbandingkan dgn anak anak seumurku saat itu. Aku tertarik dgn sebuah hal yg dikemudian hari LAZIm kusebut sbg “youth culture”. Dari sekian banyak youth culture aku memilih untuk menjadi seorang skinhead. Alasanku memilih skinhead saat itu simple sekali, skinhead itu gagah. Itu saja. Aku ingat saat aku mendapatkan sumber pertama ttg skinhead ini, yaitu sebuah buku  berjudul “Spirit of 69 a skinhead bible” sebuah buku ttg sejarah perkembangan budaya skinhead dari era pertengahan 60an hingga pertengahan 90an yg ditulis oleh George marshall. Buku itu kubaca samapai tuntas, kutelaah dan ku ulang membacanya sampai berkali kali krn hal ini adalah hal yg sangat penting bagiku. Sedari awal aku sudah memahami bahawa ini adalah jalan hidupku dan aku tdk mau bermain main dengannya.

 Perkenalanku dengan skinhead yg dimulai dari musik dan buku tersebut telah mengantarkanku bertemu dgn teman2 sejenisku, sebuah komunitas youth culture. Mulailah kegiatan nongkrong di jalanan kujalani. Sedikit demi sedikit namun pasti semua hal yg berkaitan dgn youth culture dan segala variannya kulalap habis. Kami bahas dan kami diskusikan bahkan sering kali kami perdebatkan mulai dari band favorit sampai pahlawan pahlawan youth culture kami. Perlahan namun pasti juga youth culture (skinhead) menjadi semacam pandangan hidup bagiku dan bagi seorang kawan dekatku yg bernama Jamal (kebetulan dia juga admin di group ini. Alhamdulillah kami kini diperemukan kembali dlm persaudaraan sesama Muslim). Bagi kami saat itu skinhead adalah segala galanya. Skinhead adalah satu satunya solusi dlm menghadapi hidup ini. Sebuah jalan keluar kami dari segala kemuakan kami terhadap hidup yg datar datar saja. Sebuah pemberontakan yang sempurna yg datang langsung dari jalanan tempat dimana kami tumbuh dan dibesarkan.

Skinhead adalah pintu bagiku untuk mulai mempelajari isme isme yg berkaitan dan mendasarinya. Dan dengan basic skinhead sebagai budaya kelas pekerja-buruh-proletar maka Sosialisme komunisme adalah satu satunya ideologi yg betul betul menarik perhatianku saat itu. Segala macam informasi ttg hal tersebut kulahap habis dgn tuntas dan aku tdk pernah puas dalam mempelajarinya. Jamal adalah kawan berdiskusi, berdebat bahkan terkadang menjadi “musuh"segala sudut pandangku ttg skinhead dan marxisme saat itu. Jalanan adalah forum diskusi bagi kami. Jalanan adalah bentangan luas ladang tempat mempraktekkan segala hal yg kami pahami ttg skinhead. Jalanan adalah tempat kami mengenal hidup dan kehidupan nyata. Namun jalanan jugalah yg memperkenalkan kami pada hal hal negative seperti minuman keras dan terkadang perkelahian. Namun buat kami saaat itu itulah hidup ideal seorang pemberontak. Were a rebels and we not afraid to fight this world with our hands.

Pelan namun pasti aku mulai menganggap skinhead sebagai agamaku. Perlahan otak ini mulai menghitam oleh ide ide kuffurnya Marx, Nietsche dan Darwin. Bahkan dlm perkembangan selanjutnya seringkali aku dgn bangganya mengatakan, "Skinhead itu udah lebih daripada agama buat gue". Jika dipikirkan memang seperti itulah aku saat itu, aku lebih memilih untuk memakai boots 10 holes selama 20 menit ketimbang wudhu dan solat yg hanya 10 menit saja misalnya. Aku semakin jauh meninggalkan Islam dan ajarannya. Aku bahkan mulai jijik dgn aktifitas aktifitas  Ibadah seperti solat, aku mulai merasa bodoh jika aku masih beragama sementara aku adalah seorang yg progresif revolusioner. Lenin mengatakan AGAMA (ALLAH) ADALAH CANDU BAGI MASYARAKAT dan aku menelan itu sebagai dogma. Kelak saat berada dipuncak kekafiranku aku meragukan bahkan mengingkari adanya Allah yg sangat sangat tidak “material dan tidak “ilmiah"buatku. Penuhanan kepada sebuah hal yg bernama Allah atau apapun nama Tuhan adalah sebuah konsep yg menjijikkan buatku. Tuhan apapun namanya adalah sebuah hal yg di ada adakan saja di dlm otak orang orang yg kerjanya Cuma boleh berhalusinasi di dlm hidup ini. Tuhan hanyalah buat orang orang lemah bagiku sedangkan aku seorang skinhead warrior, seorang materialis dialektis, seorang progresif revolusioner dan seorang Leftist radikal yg berpengetahuan luas tentunya tidaklah pantas berTuhan. TUHAN ITU TIDAK ADA BAGIKU saat itu.

Semakin hari aku semakin lepas dari fitrahku. Hidupku seperti tidak ada kontrolnya, semua hal sah sah saja bagiku. Nilai nilai moralku berbeda dgn orang lain. Aku tdk segan segan membuat intrik dan berkonspirasi dlm mencapai tujuan tujuan hidupku. Selama itu baik dan bermanfaat demi mencapai dan mewujudkan idealismeku maka itu sah sah saja. Ganyang siapapun yg tidak sepaham denganmu. Jadilah orang yg kuat kerana hanya yg kuatlah yg boleh bertahan hidup di dunia ini dan jangan pernah punya belas kasihan kepada musuh musuhmu. Jika kau dimusuhi oleh seseorang atau sekelompok orang maka musuhilah dan bencilah mereka seribu kali lebih dahsyat dari kebencian dan permusuhannya kepadamu.

Inilah nilai moral yg kupegang teguh saat itu. Seperti itu jugalah yg kuterapkan di komunitas saat terjadi  perselisihan masalah Idealisme ttg skinhead yg pro media mainstream dan yg anti media mainstream. Aku tentu saja berdiri di garis depan perlawanan skinhead thd media mainstream. Skinhead ya hanya untuk skinhead saja buatku. Media mainstream sejatinya adalah tentakel kapitalisme global dan musuh alami dan abadi Leftist-Maxist-Leninist seperti diriku. Media mainstream hanyalah alat pemerah yg akan menjadikan kami badut badut jalanan bahan tontonan orang orang awam di TV.  Skinhead itu adalah budaya pemberontakan maka berlakulah layaknya seorang pemberontak. Skinhead adalah sebuah budaya perlawanan, budaya tandingan dan bukannya budaya “sandingan"yg berdampingan dengan budaya budaya pop dan mainstream.

Perbedaan ini menjadi sebuah konflik yg berlarut larut  dikomunitas. Ketegasan dan sikapku yg puritan membuat orang orang memusuhiku mulai dgn cara yg verbal sampai fisik. Dan disaat aku ditekan seperti ini aku bukannya takut, namun aku malah menjadi semakin berani. Aku gunakan kemampuanku yg cukup prima dlm berbicara untuk mempropagandakan, mengagitasikan dan bahkan memaksakan fahamku kepada orang orang. Dan tiba tiba saja aku menjadi pusat perhatian komunitas. Buat sebahagian orang aku adalah figure yg menakutkan dan harus di jauhi krn aku selalu berusaha mencuci otak mereka, sedangkan bagi sebahagian lainnya aku adalah seorang yg di anggap tutor dan ditunggu tunggu “sabda”nya. 

Disinilah syeitan berdansa dansi dengan bebasnya dihatiku. Aku mulai menjadi orang yg over PD, sombong dan bahkan menganggap diriku sebagai Tuhan bagi diriku sendiri (untungnya tdk bagi orang lain). Aku percaya betul dan bangga betul dgn pengetahuan dan kemampuanku dan membuang jauh jauh bisikan kalbuku bahawa itu hanyalah titipan dan cobaan Allah kepadaku. Dimasa inilah Allah mengirimkan teguran-Nya kepadaku berupa seorang wanita yg kucintai, namun alih alih sadar aku malah menantang-Nya untuk mendatangkan cobaan bahkan azab yg lebih dahsyat kepadaku jika DIA memang ada. Mulai hari itu buatku tengah berlangsung pertempuran antara aku dan Allah (nauzubillahi min zaliq,  lihatlah betapa jahil, dungu dan disesatkannya aku saat itu).

Lalu aku kembali bertemu dgn Jamal setelah kami berpisah kurang lebih 5 tahunan. Jamal yg kulihat saat itu sudah berbeda 180 darjat dgn Jamal yg kukenal dulu. Jamal kini bergamis dan berjenggot dan dlm setiap kalimatnya dia tdk pernah lupa mengucapkan asma Allah, ya, Cahaya hidayah Allah telah menyentuhnya.  Aku tahu betapa sedihnya Jamal saat melihat aku telah sedemikian jauhnya dari Allah dan mungkin sudah menjadi seorang yg kafir saat itu. Aku ingat dia selalu mendengarkan segala keluh kesahku dan segala permasalahanku, tdk ada yg berubah antara aku dan dia saat itu walau saat itu pandangan hidup kami bagaikan bumi dan langit. Namun ada satu hal yg paling aku ingat di masa ini, suatu hari Jamal mengirimiku sebuah sms berbunyi: “Assalamualaikum saudaraku. Aku datang menawarkan sesuatu yg lebih berharga dari emas kepadamu yg  jika kau ambil maka kau akan selamat dunia dan akhirat, rangkullah dan kembalilah kepada Iman Islam, Ingat ga, ada darah dai yg mengalir deras di dalam darah lu”. Demi Allah sebenarnya hatiku seperti ditampar saat itu, terbayang olehku wajah kakekku yg bersurban dan berbaju putih sedang menangis menatapku, namun ego dan pengaruh syeitan lebih dominan saat itu dan sms itupun kuanggap sebagai angin lalu.

“Pertempuran” ku dengan Allah pun berlanjut. Aku semakin larut dalam kekafiranku. Betapapun Jamal berusaha mengingatkan ku dan Allah berkali kali menegurku namun aku tetap saja sombong. Aku bagaikan seorang Abu jahal yg di anugerahi pengetahuan luas oleh Allah namun menolak bersujud kepadanya dgn sombong. Di masa inilah Jamal mengingatkan kepadaku lagi ttg betapa sebenarnya aku adalah korban sebuah konspirasi kelam di ranah youth culture (kami berdua sebenarnya sering membahas masalah NWO dan konspirasinya semenjak tahun 2003). Aku lagi lagi sebenarnya sadar bahawa aku adalah korban dan boneka kayu Dajjal yg di adu adu seenaknya dgn saudara saudara muslimku sendiri oleh si laknat bermata satu itu sampai sampai aku dgn entengnya memutuskan tali persaudaraan dgn bbrp teman baikku. 

Tapi kesombonganku yg sudah mencapai tingkat akut telah membutakan dan menulikanku. Tengkuk ini semakin kaku untuk bersujud kepadanya, lidah ini semakin kelu untuk menyebut dan mengakui kebesaran-Nya. Namun Allah tak henti hentinya memanggil manggil namaku. Mengirim tanda tanda kepadaku. Salah satunya adalah entah kenapa aku selalu tak kuasa membendung tangisku saat aku mendengarkan orang membaca Al-Quran padahal aku tidak mengerti satu patah katapun dari ayat tsb, sungguh sebuah hal yg aneh sekali. Hati yg keras bagai batu dan telah menghitam kerana dosa dosa ini bagaikan di cabik cabik oleh lantunan firman firman Allah yg maha suci itu. Namun, sekali kali hal itupun tidak sanggup menghilangkan kakunya tengkukku untuk bersujud kepada-Nya.

Lalu, tibalah saat itu, Allah menegurku dengan sangat keras. Ia memecutku kerana aku tergolong kepada hamba yg pembangkang. Ia mengirimiku sebuah hal seperti selayaknya Allah mengirimkan seekor nyamuk kepada Namruz untuk mempreteli kesombongannya. Dan nyamuk itu (lagi lagi) adalah seorang wanita muda, polos dan nasrani pula. Melalui dialah Allah mempreteli dan menelanjangi kesombonganku dan melemparkanku ke lembah kehinaan di mata orang orang yg dulu menghormatiku dan mengagumi kepintaran serta sifatku yg puritan (maaf, soal bagaimana wanita ini menjadi sebab kehinaanku tdk boleh kuceritakan di sini krn aku terlalu jijik untuk menuliskannya). 

Sang penentang kalah telak dari Tuhan yg dia ingkari keberadaannya. Sang pemberontak sombong telah dihinakan dan di cabut segala hal hal yg membuatnya bangga. No more skinhead pride to me that day, no more kamerad beside me that day. I was down and out of line. Kepada siapa aku akan mengadu lagi? Bolehkah Marx, Lenin, Nietsche, Jimmy pursey, Darwin, Jhon joseph, Roi pearce Tan Malaka dan seluruh pahlawan pemberontak yg kupuja puja menolongku saat itu? TIDAK!!! Dan jika di dunia ini saja mereka  tdk kuasa menolongku apalagi saat Malaikat Munkar dan Nakir menanyakan kepadaku “Man robbukka ” di alam kubur nanti, apalagi disaat aku terhina dan terlunta lunta kerana digolongkan kepada orang orang kafir di yaumul hisab nanti. Kemana mereka? Mereka gak kemana mana kerana merekapun akan membusuk bersama ku di neraka!! Dan demi Allah tidak ada yg lebih kutakutkan daripada hal itu saat ini.

Menjadi gila atau bunuh diri, hanya itulah pilihanku saat itu. Dan Alhamdulillah. Allah menuntunku untuk bersujud kepada-Nya. Allah menyiram dan mencuci hati dan darahku yg menghitam krn dosa dosa dgn hidayah-Nya. Akupun berserah diri kepada Allah, aku menyerahkan diriku bulat bulat kepada-Nya. Aku bertaubat dan memohon ampunannya. Aku tahu taubat dan hijrahku tidak akan berakhir hingga aku dihampiri Izroil suatu saat nanti, aku hanya boleh berusaha untuk mendekatkan diri kepada-Nya sambil tak henti hentinya menyesali segala dosa dosa ku padanya. Aku yakin Allah maha pengampun dan maha penyayang selama aku juga bersungguh sunguh bertaubat kepada-Nya. Walau masih jatuh bangun dalam prakteknya namun aku insyaAllah tidak pernah berputus asa daan berusaha istiqomah.

Namun jika kawan kawan menganggap komunitas skinheadlah yg telah merusakku maka sebenarnya itu tidaklah tepat. Aku lah yg merusak dan menzolimi diriku sendiri dengan tindakan tindakanku yg berlebihan. Namun tidak dapat dipungkiri juga kalau skinhead adalah salah satu asbab kufurnya diriku. tapi yg perlu kalian ketahui disini adalah komunitas tdk selalu membawa pengaruh buruk dalam episode hidupku ini. Justru di komunitas Punk-skinhead lah aku mempelajari nilai nilai yang luhur seperti militansi dan semangat kemandirian yg sebenarnya juga telah diajarkan oleh Rasulullah kita yang mulia. Singkatnya komunitas adalah tempatku digembleng dan di didik untuk kini berjuang di jalan allah (insyaAllah). Terlalu banyak kenangan manis dan positif dari komunitas lama yg dapat kutulis disini selayaknya lebih banyak lagi hal hal negatif yang kudapat dari sana.

Itulah sepenggal kisahku yag kuharap dapat menjadi ibbrohh bagi kawan kawan semua. Lihatkah betapa konspirasi kelam Zionis telah menyesatkan diriku. Lihatlah betapa syeitan dgn mudahnya membelokkanku dari fitrahku sebagai seorang muslim hanya dengan sebuah kebanggan semu dan pandangan hidup palsu bernama skinhead. Lihatlah betapa isme isme kuffur yg bebas beredar dapat dengan mudahnya mencuci otakku hingga aku berbuat melampaui batas. Lihatlah betapa Dajjal dgn kejinya telah berhasil mengontrol hidupku, bahkan mungkin disaat inipun sebenarnya kontrolnya terhadapku pun belumlah sepenuhnya hilang. Aku beruntung krn Allah menyelamatkanku dgn hidayah-Nya sebelum Izroil datang menjemputku. Tapi bagaimana dengan ratusan bahkan ribuan anak muda lain yg saat ini masih berada di dalam cengkraman konspirasi mereka yg telah ku sebutkan bunyinya di awal tulisan ini? Pertanyaan ini mondar mandir di kepalaku semenjak aku hijrah. Hanya kepada Allah sajalah kita memohon petunjuk agar terhindar dari konspirasi dan fitnah Dajjal di akhir zaman ini. Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment