Wednesday, January 13, 2010

KESULTANAN SAMUDERA PASAI

Sebermula maka tersebutlah pada zaman Rasulullah Saw, Baginda bersabda pada segala sahabat, “Pada akhir zaman kelak, ada sebuah negeri di bawah angin, Samudera namanya. Maka apabila kamu mendengar khabarnya isi Samudera itu, Maka segeralah kamu pergi ke negeri itu. Bawa isi negeri Samudera masuk Islam, kerana dalam negeri itu banyak wali Allah akan jadi. Tetapi ada seorang fakir di negeri Mu'tabari namanya, kamu bawa ia berserta kamu”.

Setelah berapa lamanya, kemudian daripada sabda Nabi Saw, maka terdengarlah kepada segala negeri. Datang ke Mekah pun kedengaran nama negeri Samudera itu. Syarif di Mekah menyuruhkan sebuah kapal membawa segala perkakasan kerajaan seraya disuruhnya singgah ke negeri Mu'tabari, adapun nama nakhoda kapal itu Syeikh Ismail.

Maka apabila kapal itu pun belayarlah, ia singgah di negeri Mu'tabari. Adapun raja di dalam negeri itu Sultan Muhammad namanya, maka baginda pun bertanya, "Kapal ini dari mana?” Maka sahut orang dalam kapal itu, "Adalah kami ini kapal dari Mekah, hendak pergi ke negeri Samudera”. Adapun Sultan Muhammad itu daripada cucu Syaidina Abu Bakar As Siddiq RA. Maka ujar orang kapal itu “Kerana kami pergi dengan sabda Nabi Saw”

Setelah didengar oleh Sultan Muhammad sabda Rasulullah Saw itu, maka dirajakannya anaknya yang tua di negeri Mu'tabari akan ganti kerajaannya, maka baginda dengan anakanda baginda yang muda memakai pakaian fakir, meninggalkan kerajaan turun dari istana lalu naik kapal itu. Sultan Muhammad berkata "Kamu bawalah hamba ke negeri Samudera". Maka pada hati orang seisi kapal itu, bahawa "Ini mudah-mudahan fakir seperti sabda Rasulullah Saw itu". Maka fakir itupun dibawanya naik kapal lalu belayar.

Maka kapal itupun belayarlah ke Samudera. Maka fakir itupun naik ke darat. Maka ia bertemu dengan Merah Silu berkarang dipantai. Maka fakir itupun bertanya katanya, "Apa negeri ini?” Maka sahut Merah Silu, "Adapun nama negeri ini Samudera". Maka kata fakir itu, "Siapa nama ketua dalam negeri ini?” Sahut Merah Silu, “Hambalah ketua sekalian mereka itu.” Maka oleh fakir itu diIslamkannya dan diajari kalimah Syahadah. Setelah Merah Silu Islam maka Merah Silupun kembali ke rumahnya.

Shahadan pada malam itu Merah Silu pun tidur, maka ia bermimpi dirinya berpandangan dengan Rasulullah Saw. Maka sabda Rasulullah Saw kepada Merah Silu, "ngangakan mulutmu". Maka oleh Merah Silu dingangakan mulutnya, diludahi oleh Rasulullah Saw mulut Merah Silu. Maka Merah Silu pun terjaga dari tidurnya. Diciumnya bau tubuhnya seperti narawastu. Telah siang hari maka fakirpun naik ke darat membawa Quran disuruhnya baca pada Merah Silu. Maka oleh Merah Silu dibacanya Quran itu. Maka kata fakir kepada nakhoda kapal, “Inilah negeri Samudera seperti sabda Rasulullah Saw itu".

Maka oleh Syeikh Ismail segala perkakasan kerajaan yang dibawanya itu semua diturunkannya dari dalam kapal itu. Maka Merah Silu dirajakannya dinamai “Sultan Malikus Saleh". Maka Syeikh Ismail pun belayarlah kembali ke Mekah, dan fakir itu (cucu kepada Syaidina Abu Bakar As Sidiq) itu tinggallah di negeri Samudera akan menetapi Islam isi negeri Samudera itu.

Keberadaan Kesultanan Samudera Pasai ini diungkapkan oleh pengembara Muslim dari Morocco, Abu Abdullah Ibnu Batuthah (1304-1368 M), dalam kitabnya yang berjudul Rihlah ila I-Masyriq (Pengembaraan ke Timur). 

"Sebuah negeri yang hijau dengan kota pelabuhannya yang besar dan indah,” tulis Ibnu Batutah ketika menggambarkan kekagumannya terhadap keindahan dan kemajuan Kerajaan Samudera Pasai yang sempat disinggahinya selama 15 hari pada 1345M”.

Sementara itu, dalam catatan perjalanan Ibnu Batutah lainnya yang berjudul Tuhfat al-Nazha, ia menuturkan, pada masa itu Samudera Pasai telah menjelma sebagai pusat pengajian Islam di kawasan Asia Tenggara. Jauh sebelum Sang Pengembara Muslim itu menginjakkan kakinya di kerajaan Muslim pertama di nusantara itu, seorang penjelajah asal Venezia (Italia), yang bernama Marco Polo, telah mengunjungi Samudera Pasai pada 1292M.

Marco Polo bertandang ke Samudera Pasai saat menjadi pemimpin rombongan yang membawa ratu dari China ke Persia. Bersama dua ribu orang pengikutnya. Marco Polo singgah dan menetap selama lima bulan di bumi Serambi Makkah itu. Dalam kisah perjalanan berjudul Travel of Marco Polo, pelancong dari Eropa itu juga mengagumi kemajuan yang dicapai Kesultanan Samudera Pasai.

Kesultanan Samudera Pasai terletak di pesisir pantai utara Sumatra-kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe, Aceh Utara sekarang ini. Kesultanan ini didirikan oleh Meurah Silu pada sekitar tahun 1267M. 
Catatan: Sultan Malik Al Saleh menjadi Sultan Kesultanan Pasai yang pertama dan antara raja terawal memeluk agana Islam di Alam MELAYU. 

Makam Sultan Malik al Saleh tercatat tarikh kemangkatannya dalam tahun 676 Hijrah (1297 Masihi). Samudera Pasai mulai berkembang semenjak terdirinya Kesultanan Samudera Pasai di bawah pimpinan Sultan Malik Al Saleh. Ia memerintah selama 29 tahun dan digantikan oleh anakandanya Sultan Muhammad Malik al-Zahir (1297-1326 M) 

Pada batu nisan Sultan Malik al Saleh tertera tulisan yang membawa makna, “Ini kubur adalah kepunyaan almarhum hamba yang dihormati, yang diampuni, yang taqwa, yang menjadi penasihat, yang terkenal, yang berketurunan, yang mulia, yang kuat beribadah, penakluk, yang bergelar dengan Sultan Malikul Salih". (Tanggal wafat, bulan Ramadhan tahun 696 Hijrah atau 1297 Masehi)

Pada di bahagian belakang terpatri ayat, “Sesungguhnya dunia ini fana. Dunia ini tiadalah kekal. Sesungguhnya dunia ini ibarat sarang yang ditenun oleh labah-labah. Demi sesungguhnya memadailah buat engkau dunia ini. Hai orang yang mencari kekuatan. Hidup hanya untuk masa pendek saja, Semua orang di dunia ini tentu akan mati."

Tengku Daeng Mawelle

No comments:

Post a Comment