Thursday, January 28, 2010

RENCONG: MY WEAPON OF CHOICE

Rencong atau Rincong atau Rintjoeng adalah senjata pusaka bagi rakyat Aceh dan merupakan simbol keberanian, keperkasaan, pertahanan diri dan kepahlawanan Aceh dari abad ke abad. Menurut salah satu sumber, Rencong telah dikenal pada awal Islam Kesultanan di abad ke-13. Aceh sebagai sebuah kekuatan tentera terpenting di dunia Melayu dengan persenjataan yang lengkap. Kerana hubungan antarabangsa dengan dunia barat, bentuk rencong juga mulai mengikuti perkembangannya, terutama Turki dan anak benua India.

Rencong juga mempunyai kesamaan dengan blade yang dipakai oleh prajurit Turki di masa Sultan Mahmud kerajaan Ottoman Turki dan juga Mughal scimitar dengan gaya rapiers dan daggers yang di ikat pinggang. Di masa lalu, simbolisme Islam dari rencong telah dihubungkan dengan Perang Suci atau jihad. Dengan kekuatan senjata ditangan dan keyakinan pada kuasa Allah. Rencong seperti memiliki kekuatan yang ghaib sehingga masyarakat Aceh sangat terkenal dengan pepatah:


"Tatob ngon reuncong jeuet Ion peu-ubat, nyang saket yang tapansie Haba."


Di masa Aceh mengusir Portugis dari seluruh tanah sumatra dan tanah Melaka serta masa penjajahan Belanda, rencong merupakan senjata yang membunuh disamping pedang dan bedil yang digunakan di medan perang, tidak hanya oleh para Sultan, Laksamana, Pang, Pang sagoe, Uleebalang, Teuku, Teungku Agam, Sayed, Habib Cut Ampon, Cut Abang namun juga oleh Teungku Inong, Syarifah, Cut Kak, Cut Adoe, Cut Putroe dan Cut Nyak. 


Senjata ini diselipkan di pinggang depan setiap lelaki dan wanita perkasa Aceh sebagai tanda keperkasaan dan ketinggian martabat, sekaligus simbol pertahanan diri, keberanian, kebesaran dan kepahlawanan ketika melawan penjajah Belanda.


Dalam perjuangan dan pertempuran melawan Portugis dan Belanda, sejarah mencatat nama-nama besar pahlawan-pahlawan dan srikandi Aceh, seperti Tgk Umar, Panglim Polem, Teungku Chik Ditiro, Laksamana Malahayati, Pocut Meurah Intan, Pocut Baren, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia dan Teungku Fakinah yang tidak melepaskan rencong dari pinggangnya.


Rencong memiliki makna filosofi religius dan keislaman. Gagangnya yang berbetuk huruf Arab diambil dari padanan kata Bismillah. Padanan kata itu boleh dilihat pada hulu yang melekuk kemudian menebal pada bagian sikunya. Hulu rencong berbentuk huruf BA, hulu tempat genggaman merupakan aksara SIN, bilah yang menurun ke bawah pada pangkal besi dekat gagangnya merupakan aksara MIM, pangkal besi bilan dekat gdengan hulu yang menyerupai lajur-lajur besi dari pangkal hulu hingga dekat hujungnya melambangkan aksara LAM, bahagian bawah sarung memiliki bentuk huruf HA, sehingga keseluruhan hurup "BA, SIN, MIM, LAM, HA", susunan huruf yang terbaca membentuk kalimat Bismillah. Ini merupakan lambang yang memperlihatkan karakteristik masyarakat Aceh yang sangat berpegang teguh pada kemuliaan ajaran Islam.



No comments:

Post a Comment