Friday, March 25, 2016

MUHASABAH SUFI DI DUNIA MAYA

Muhasabah diri memang tak cukup sekali dua kali. Tapi, harus dilakukan berulang-ulang dan rutin. Dan, pelajaran hidup kadang muncul dalam berbagai warna dan rasa. Karena itu, Rasulullah SAW dan para sahabat mencontohkan muhasabah setiap hari. Guru spiritual seperti mursyid, wakil talqin atau khalifah dalam suatu tarekat memang penting dalam membimbing batin kita. Melalui nasihat, ceramah, dan pewarisan zikir atau wirid, kita sebenarnya diajak untuk mengikat secara batin agar kita tetap pada satu bahtera.

Namun persoalannya, kita tak berada di sisi sang guru dalam 24 jam. Kita mungkin bertemu sebulan sekali, dua bulan sekali, atau mungkin setahun sekali pun susah untuk bertemu. Kadang, pertemuannya pun tak eksklusif, beramai-ramai, hingga kita tak dapat bertanya tentang banyak hal. Padahal, kita kadang tak hanya memerlukan simpul batin, tetapi juga simpul zahir: bertemu, bertatap muka, dan bercengkrama.

Tak hanya itu. Muhasabah bagi diri kita juga memerlukan ilmu. Tak cukup hanya dengan perenungan semata. Kita juga memerlukan nutrisi ilmu pengetahuan sesuai pengembaraan ilmu dan batin kita. Karya-karya para sufi dari zaman ke zaman yang telah menjadi rujukan ilmu tasawuf pun harus dipelajari agar kita tak salah jalan serta dapat memenuhi dahaga spiritual kita. Rangkaian ilmu yang turun temurun ini tak cukup hanya dengan menunggu ceramah guru di pondok, madrasah, masjid atau kampus, sebab hal itu terbatas ruang dan waktu.

Untungnya, perkembangan teknologi dan informasi memudahkan kita untuk mendekat kepada guru-guru itu, bisa melalui telpon, wattsapp, BBM, email, facebook, dan media lainnya. Misalnya, kerinduan kita kepada Ramadhan Al-Buthy, cukup hanya dengan googling, buka youtube, dan membaca karya-karyanya melalui e-book. Kita bisa mendapat obat penawar rindu dari internet. Semua menjadi semakin mudah. Jarak dan waktu tidak menjadi penghalang rindu kita. Mereka yang merindukan sosok Syekh Abdul Qadir Al-Jailani bisa berselancar dengan mudah menyelusuri mesin pencarian google, yahoo dan sejenisnya. Sehingga, nasihat-nasihat guru dan mursyid melalui acara bulanan seperti Manaqib, khataman, haul dan sebagainya menjadi mudah dicerna, sebab kita dapat melongok melalui jendela-jendala dunia maya di facebook, twitter, instagram, dan sebagainya.

Praktis, ilmu tasawuf dapat diserap melalui dunia maya dengan mudah. Ribuan naskah-naskah klasik para sufi dari berabad-abad yang lalu dapat dijumpai di sosial media. Tentu, hal ini tak sesukar dan seberat seperti yang dilakukan Syekh Ibnu Atha'illah ketika berguru kepada Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili. Perjuangan mereka di zaman itu tak sebanding dengan kita saat ini, yang hanya menyentuh layar android langsung dapat membaca Kitab Al-Hikam. Kita dengan mudah membaca karya Imam Al-Ghazali dan Imam Nawawi melalui website dan media sosial dari genggaman tangan kita.

Maka, mari kita maknai jalinan persahabatan melalui Tasawuf Underground ini dengan tradisi ilmu dan berbagi pengetahuan hikmah untuk menguatkan keimanan dan ketakwaan. Di tengah hingar-bingar dunia dan semarak warna gaya hidup sosial media, kita masih bisa mengkaji, merenung, dan mempelajari makna-makna hikmah tasawuf yang berguna untuk meningkatkan kualitas ruhani sebagai hamba.

Tanpa kesadaran untuk terus belajar dan beramal, kita hanya akan semakin menjauh dari keridhaan Ilahi. Melalui ilmu, kita bisa membedakan hijab-hijab kalbu yang mengotori karena ragam duniawi dalam berbagai bentuknya. Termasuk dunia maya dengan segala atribut yang negatif tentunya. Mari, jadikan forum ini sebagai media muhasabah dan pembelajaran bagi jiwa-jiwa kita yang selalu merindukan pelukan cinta Allah dan rasul-Nya.

Syekh Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam mengatakan:

كَيْفَ يَشْرُقُ قَلْبٌ صُوَرَ اْلأَكْوَانِ مَنْطَبِعَةً فِى مِرْآتِهِ؟ أَمْ كَيْفَ يَرْحَلُ اِلَى اللهِ وَهُوَ مِكْبَلُ بِشَهَوَاتِهِ؟ أَمْ كَيْفَ يَطْمَعُ أَنْ يَدْخُلَ حَضْرَةِ اللهِ وَهُوَ لَمْ يَتَطَهَُّرْ مِنْ جِنَاَبة غَفِلاَتِهِ؟ أَمْ كَيْفَ يَرْجُو أَنْ يَفْهَمَ دَقَائِقَ اْلأَسْرَارِ وَهُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَفَوَاتِِهِ؟

"Bagaimana hati yang seperti cermin itu dapat bercahaya,  bila dipenuhi aneka rupa gambar yang berserak; Bagaimana bisa sampai kepada-Nya,  bila hati masih terbelenggu ragam keinginan; Bagaimana hati dikatakan menggebu hadir kepada-Nya,  bila diri masih enggan bersuci dari kelalaian; Bagaimana hati mampu memahami kelembutan segala rahasia,  bila diri ini tak pernah menghampiri gerbang tobat dari kesalahan."

Semoga persahabatan kita di dunia maya ini diberkahi dan diridhai Allah SWT. Mari bermuhasabah tiada henti, memperbaiki diri dan merenungi kesalahan diri, sambil terus mengkaji dan mengkaji nasihat dan ajaran para sufi. Semoga Allah selalu menganugerahkan kedekatan, serta membuka pintu-pintu makrifat-Nya bagi kita yang selalu belajar memahami diri.

No comments:

Post a Comment