Wednesday, July 27, 2016

HUBUNGAN HAMBA DENGAN ALLAH

Bagi mereka yg dicahayai oleh Allah maka digambarkan oleh Ibnu Atha'illah dlm Al-Hikam: “Telah terpancar cahayanya dan jelaslah kegembiraanya, lalu ia pejamkan matanya dari dunia dan berpaling darinya, sama sekali dunia bukan tempat tinggal dan bukan tempat ketenteraman. Namun ia jiwanya bangkit di dlm dunia itu, semata menuju Allah Ta'ala, berjalan di dalamnya sembari memohon pertolongan dari Allah utk dtg kpd Allah. Hamparan tekadnya tak pernah terhenti dan selamanya berjalan, sampai lunglai di hadapan Hadratul Quds dan hamparan kemeseraan denganNya, sbg tempat Mufatahah, Muwajahah, Mujalasah, Muhadatsah, Musyahadah, dan Muthala'ah."

Ibnu Atha'illah menyebutkan 6 hal dlm soal hubungan hamba dgn Allah di hadapan Allah, yg harus dimaknai dgn rasa terdalam, utk memahami dan membedakan satu dgn yang lain. Bukan dengan fikiran:

1) MUFATAHAH, artinya permulaan hamba menghadap-Nya di hamparan remuk redam dirinya dan munajat, lalu Allah membukakan tirai hakikat Asma', Sifat dan keagungan Dzat-Nya, agar hamba luruh di sana dan lupa dari segala yang ada bersama-Nya.

2) MUWAJAHAH, artinya saling berhadapan, adalah sikap menghadapnya hamba pada Tuhannya tanpa sedikit dan sejenak pun berpaling dari-Nya, tanpa alpa dari mengingat-Nya. Allah menemui dengan Cahaya-Nya dan hamba menghadapnya dengan Sirr-nya, hingga sama sekali tidak ada peluang untuk melihat selain-Nya, dan tidak menyaksikan kecuali hanya Dia.

3) MUJALASAH, artinya menetap dalam majlis-Nya dengan tetap teguh terus berdzikir tanpa alpa, patuh tunduk tanpa lalai, beradab penuh tanpa tergoda, dan hamba memuliakan-Nya seperti penghormatan cinta dan kemesraan agung, lalu disanalah Allah SWT berfirman dalam hadits Qudsi, "Akulah berada dalam majlis yang berdzikir pada-Ku."

4) MUHADATSAH, maknanya dialog, yaitu menempatkan sirr (rahasia batin) dgn mengingatNya dan menghadapNya dgn hal-hal yg ditampakkan Allah pada sirr itu, hingga cahayaNya meluas dan rahasia2 Nya bertumpuan. Inilah yg disabdakan Rasulullah Saw, "Pada umat2 terdahulu ada kalangan disebut sebagai kalangan yg berdialog dgn Allah, dan pada umatku pun ada, maka Umar diantaranya."

5) MUSYAHADAH, adlh ketersingkapan nyata, yg tidak lagi butuh bukti dan penjelasan, tak ada khayalan maupun keraguan. Dikatakan, "Syuhud itu dari penyaksian yg disaksikan dan tersingkapnya Wujud."

6) MUTHALA’AH, adalah keselarasan dengan Tauhid dalam setiap kepatuhan, ketaatan dan batin, semuanya kembali pada hakikat tanpa adanya kontemplasi atau analisa, dan setiap yang tampak senantiasa muncul rahsiaNya kerana keparipurnaan-Nya.

Maka Hadrat Ilahi, telah menjadi kehidupan hatinya, dimana mereka tenteram dan tinggal. Dan marilah kita renungkan semua ini dengan hati yang suci.

No comments:

Post a Comment