Thursday, July 28, 2016

ILMU DAN MAKRIFAT

Ilmu menyadarkan manusia akan adanya Allah, sedangkan makrifat membawa manusia kehadirat-Nya. Ilmu diperoleh dgn mencari, mempelajari, menelaah sehingga memperoleh sebuah kesimpulan dan kesimpulan tersebut disebut sbg pengetahuan. Utk mendapatkan ilmu diperlukan panca indera sebagai media penerimanya.  

Makrifat tidak diperoleh lewat pencarian ataupun penelitian, tidak lewat hasil diskusi dan tidak pula lewat kajian2. Berpuluh tahun kita mempelajari makrifat dan beribu buku yg kita baca tidak akan mengantarkan kita kpd makrifat. Kalau ada sebuah tulisan/ karangan/ buku yg mengupas ttg makrifat adalah suatu ilmu. Itu hanyalah ilmu makrifat bukan makrifat itu sendiri, yg tentu saja tidak bisa membawa rohani kita sampai ke alam makrifat.

Makrifat yang dimaksudkan adalah "Makrifatullah" , yang sering disederhanakan maknanya menjadi "mengenal Allah". Makrifat bisa diartikan sebagai kondisi dimana manusia benar2 telah mengenal Tuhan sehingga tidak ada keraguan sedikitpun dalam hati bahwa sesuatu yang diyakini itu benar2 Allah adanya. Seperti ungkapan Syeikh Abu Yazid Al-Bustami tentang makrifat, “Tiada keraguan sedikitpun bahwa yang aku saksikan adalah Allah”. Makrifat dalam pandangan Syeikh Abu Yazid Al-Bustami adalah Penyaksian (Musyahadah), sebagai syarat awal untuk bisa dikatakan seseorang telah mengenal Tuhannya. 

Syarat seseorang bisa disebut sebagai muslim apabila telah mengakui Allah dan Rasul-Nya dlm sebuah kalimat pendek, “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Aku bersaksi Muhammad adalah Rasul-Nya”. Dlm tahap selanjutnya tentu kalimat itu bukan sekedar diucapkan belaka, tapi kita benar2 telah menyaksikan Allah SWT dan telah menyaksikan Muhammad sebagai Rasul sehingga kita tidak tergolong sebagai orang yang bersaksi palsu atau hanya sekedar mengaku-ngaku.

Rasulullah SAW bersabda: "Awaluddin makrifatullah, akhiruddin makrifatullah" (Awal beragama adalah mengenal Allah dan akhir beragama adalah menyaksikan Allah)

Imam al-Ghazali mengatakan: “Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengenal (Allah) yang wajib disembah”.

Makrifat hanya bisa didapat lewat mujahadah dalam dzikir dan ibadah, sehingga akan sampai rohaninya kepada Alam Rabbani sehingga sang hamba menyaksikan keagungan Dzat Allah yang sulit diungkapkan lewat kata-kata. Tahap ini hanya bisa diperoleh dgn bimbingan seseorang yg lebih dulu telah ber-Makrifatullah, yg "kamil mukamil". Dlm alam makrifat (metafisika sufisme) yg sgt halus, pembimbing rohani sangat dibutuhkan, agar salik dapat membedakan mana hawathif2 (bisikan2 lembut) yg datang dari Allah, dari malaikat, atau syetan, atau dari jin, sehingga tidak tersesat dalam perjalanannya. 

Pendapat Imam al-Ghazali, makrifat ialah mengetahui rahasia Tuhan dan mengetahui peraturan2Nya, mengenal segala yang ada. Selanjutnya al-Ghazali menjelaskan bahwa orang yang mempunyai makrifat tentang Tuhan, atau ‘arif, tidak akan mengatakan kata-kata Ya Allah (يَا اللهُ) atau Ya Rabb (يَا رَبُّ), karena memanggil Tuhan dengan kata2 serupa itu menunjukkan bahwa Tuhan masih berada dibelakang tabir (berada ditempat yg jauh). Org yg duduk berhadapan dgn temannya tidak akan memanggil temannya dgn kata2 spt itu.

Makrifat bagi al-Ghazali juga mengandung arti memandang kepada wajah Tuhan. Namun bagi al-Ghazali makrifat itu lebih dahulu urutannya daripada mahabbah, karena mahabbah timbul dari makrifat, dan mahabbah baginya bukan mahabbah sebagai yang diucapkan oleh Rabi’ah Adawiyah, tetapi mahabbah dalam bentuk cinta seseorang kepada yang berbuat baik kepadanya, yaitu cinta yang timbul dari kasih dan rahmat Tuhan kepada manusia, yang memberi manusia hidup, rezeki, kesenangan dan lain-lain. 

Menurut al-Ghazali bahwa makrifat dan mahabbah adalah setinggi-tingginya tingkat yang dapat dicapai oleh seorang sufi. Pengetahuan yang diperoleh dari marifat menurutnya lebih bermutu dan lebih tinggi daripada pengetahuan yang diperoleh dengan akal. Dan kebahagiaan yang sejati menurutnya ditemukan melalui makrifat. Makrifat atau ilmu sejati bukan di dapat semata-mata melalui akal atau panca indera. Ma’rifah itu sebenarnya adalah mengenal Tuhan (Hadrat Rububiyah), dengan kesenangan hati yang hanya di dapat setelah diperoleh pengetahuan yang belum diketahui.

Jalan makrifat itu tidak bisa begitu saja ditempuh dgn mengandalkan pengetahuan akal rasional, kecuali hanya akan meraih Ainul Yaqin saja, belum sampai pada tahap Haqqul Yaqin. Ukuran (standar) bagi seseorang telah mencapai derajat Makrifatullah atau belum, bukan dgn menggunakan standar rasional-intelektual atau standar empirisme (seperti ketenaran, kehebatan, kesaktian, kepiawaian berdakwah, kejeniusan atau pengetahuan ensiklopedis). 

Ttpi dgn penguasaan wilayah spiritual yg sgt halus dan suci, dimana logika2nya hanya bisa diterima dgn mukasyafah kalbu atau hati. Lebih lanjut Al-Ghazali berbicara ttg teori kebahagiaan. Menurutnya bahwa kebahagiaan itu ada 2 macam, yaitu: lazat (kepuasan) dan sa’adah (kebahagiaan). Dgn bertambah banyak yg diketahui, bertambah pula kepuasan dan kebahagiaan, itulah sbbnya org yg lebih luas ilmunya pastilah lebih merasa berbahagia dpd org yg kurang ilmu.

No comments:

Post a Comment