Saturday, January 2, 2016

MAQAMAT (2) LATHIFATHUL RUH


Maqam ini adalah maqam kedua dalam kajian Tarekat An-Naqsyabandi jika seseorang mendalami pelajaran zikir dalam ajaran tasawwuf atau sufi, maka jika seseorang telah berzikir pada maqam sebelumnya, maka pada tempat inilah zikir kepada Allah yang kedua di sandarkan dengan makna adalah pembersihan rohani secara bertahap-tahap dan berbagai tingkatan pembersihan penyakit batin.

Pembersihan rohani di sini maksudnya ialah mengubati seluruh penyakit batin yang buruk pada diri manusia secara bertahap, jika seseorang hamba ingin menuju kepada khalikNya, sudah tentu penyakit batin harus di ubati terlebih dahulu, sebab jika seseorang hamba yang menuju kepada tuhannya tetapi masih ada penyakit batinnya maka tiada akan dapat sampai (ma’rifat) kepada tuhannya, sebab Allah adalah zat yang Maha Suci. 

Batin pada manusia umumnya penuh dengan penyakit yang berupa kotoran-kotoran sifat mazmumah, artinya selalu di penuhi dengan penyakit batin yang buruk, seperti ; iri hati, dengki, penghasut, loba, tamak, serakah, penipu alias munafik dan lain sebagainya yang sifatnya buruk, nah sifat buruk pada manusia ini harus di ubati dulu sebelum dapat menuju kepada tuhannya, tiada akan semudah itu seseorang manusia akan dapat mengenal khalik-Nya tanpa batinnya bersih dari sifat buruk tersebut. 

Sifat buruk pada batin manusia ini di wilayah ini adalah tamak, rakus dan bakhil yang menungganginya yaitu iblis dan syaitan, pada diri batin manusia para iblis dan syaitan pada bidang penyakit ini rumah atau istana pada rabu jasmani manusia, untuk selalu membisikkan berbagai tipu daya dan hasut agar manusia selalu dalam kemaksiatan di bidang tamak, rakus dan bakhil, untuk menumpas keberadaan syaitan ini maka lazimkanlah zikrullah pada wilayah ini dengan senjata kalimah Allah…Allah…Allah… , dengan harapan para iblis dan syaitan dapat tunggang langgang lari terbirit-birit dari rumah atau istananya tersebut dalam diri manusia, jika sudah demikian maka tentu sifat tersebut sudah jauh berkurang bahkan hilang sama sekali dari dalam diri batinnya tersebut, yang tinggal hanyalah kalimah Allah saja yang menempatinya, hal demikianlah merupakan pintu dasar kedua menuju dan mendekatkan diri kepada Allah serta dapat mengenalnya.

Maqam kedua dari cara berzikirnya seorang hamba untuk mengubati penyakit batin ini adalah di sebut dengan LATIFATUL RUH dengan pengertian yang di jabarkan dan di ajarkan ialah : Maqam ini berhubungan dengan rabu pada jasmani dengan posisi maqamnya adalah dua jari di bawah susu sebelah kanan tubuh jasmani atau zahir, pada maqam ini menurut ketentuan jumlah zikirnya sekurang-kurangnya 1000 kali dalam sehari semalam, maqam ini secara batiniahnya pada manusia adalah wilayahnya zikir Nabi Ibrahim As dan bercahaya merah secara ghaib, dan maqam ini berasal dari api. Maqam ini adalah tempatnya sifat mazmumah (Buruk) pada batin manusia adalah:

1. Tamak;
2. Rakus;
3. Bakhil.

Jadi jika seorang hamba ingin dekat kepada Allah, maka haruslah menghilangkan sifat buruk ini, jika secara terus menerus dan ikhlas zikirnya pada maqam ini, maka masuklah dan berganti dengan sifat mazmudah (baik), yaitu: Khana’ah dalam arti kata memadai ianya akan apa ada adanya yang telah di tentukan oleh Allah akan dirinya di dunia ini. Sifat buruk ini seperti, loba, tamak, rakus dan bakhil adalah salah satu sifat yang tidak di sukai oleh Allah dan Rasul-Nya, sifat batiniah yang buruk seperti ini tidak ubahnya seperti binatang yang suka menurut akan hawa nafsunya, jadi dengan rajinnya mengubati sifat ini dengan zikir pada maqam tersebut di atas adalah dapat berganti sifat yang di sukai Allah dan Rasul-Nya, seperti merasa selalu bersyukur dan menerima apa adanya yang telah di tetapkan oleh Allah, usaha untuk merubah sifat ini adalah dengan cara yang wajar melalui zikir kepada Allah dengan seperti cara yang di ajarkan oleh ajaran Tarekat An-Naqsyabandi.

Hasil puncaknya pada zikir ini adalah merasakan maqam fanafil ‘asma dan mati ma’nawi, artinya semua sifat keinsanan manusia telah lebur dan lenyap dan di ganti oleh sifat ketuhanan yang biasa di sandarkan kepada manusia, artinya fana dan menyadari akan sifat-sifat kebaikan Allah, seperti sifat sayang, kasih, pemaaf dan lain sebagainya yang baik, hal ini ada pada manusia yang beriman dan di namakan dengan sifat fanafii’asma (fana akan nama Allah).

Pendengaran dan penglihatan lahir menjadi hilang lenyap, yang tinggal hanyalah pendengaran batin dan penglihatan batin yang memancarkan nur illahi, yang terbit dari dalam hati yang dapat memancarkan ilham dari Allah, merasakan akan mati ma’nawi, ini artinya pintu fana yang kedua dan di terima oleh seseorang berzikir, ini merupakan hasil mujahadahnya dan merupakan rahmat dan kurnia dari Allah jika ikhlas zikirnya. Jika seseorang hamba tiada mau berzikir pada wilayah ini, maka menurut kajian tasawwuf sangatlah susah untuk membuat seseorang hamba dapat sampai dan mengenal akan tuhannya, sebab dengan sifat loba, tamak, rakus dan bakhil ini selalu mengikut akan petunjuk atau bisikan dan sifat yang di benci Allah serta hanya ada pada iblis dan syaitan juga pada orang yang tidak beriman.

Untuk hal yang demikianlah maka oleh para guru tasawwuf sangat menekankan pengubatan penyakit batin ini, jika ingin menjadi manusia yang beraqidah akhlak yang baik serta mendapat keredhaan dari-Nya, jika seseorang hamba betul-betul ikhlas dan rajin berzikir pada wilayah ini dan beristiqamah, maka insya Allah terbukalah rahsia ghaib akan kebenaran dengan izin dan kehendak-Nya, dia mendapatkan ilham dan kurnia daripada-Nya, dan itu ini di katakan sunnah dan tarekatnya Nabi Ibrahim As, sebab dengan akal dan pikiran batin yang bersihlah yang dapat menerima kurnia, taufik, hidayah dan ilham dari Allah, hal demikianlah yang merupakan nur illahi terbit dari hati orang yang berzikir, sehingga hatinya muhadharoh (hadir) bersama Allah. Mati ma’nawi juga merupakan lompatan dari pintu fana yang kedua, oleh sebab di terimanya zikir seorang hamba oleh Allah, dan ini merupakan hasil dari mujahadahnya (perjuangan) dan merupakan rahmat dan kurnia dari Allah, juga merupakan fanafillah di mana gerak dan diam tidak ada kecuali dari Allah, tata cara zikir ini dalam Tarekat An-Naqsyabandi ini telah di atur secara turun menurun secara silsilah dan sampai kepada kami adalah sebagai berikut: Pelaksanaan zikir ini menurut yang kami pelajari untuk di terapkan sewaktu melaksanakannya dan yang bisa di jabarkan oleh tuan guru atau mursyid adalah:

1. Wuquf Qalbiy, artinya kuatkan konsentrasi pikiran hanya kepada Allah yang tiada berwujud dan berbentuk dari segala sesuatu apapun di dunia ini, tetapi ianya hanyalah tunggal dan esa, dalam pelaksanaan ini ini sekurang-kurangnya buatlah pikiran itu memikirkan akan keberadaan kekuatan dan kesempatan kita saat berzikir ini hanyalah merupakan kekuatan (hidayah) dari Allah, hal ini termasuk dalam kategori ingat kepada Allah secara af’al (perbuatan).

2. Setelah dapat membuat pikiran yang sedemikian di atas, maka usahakanlah agar selalu ucapan zikir tersebut masuk pada wilayah maqam yang telah di sebut di atas secara terus menerus laksana tembakan mitraliur yang tiada putusnya seraya memusatkan pikiran bahwa Allah sentiasa mengawasi kita dalam keadaan apapun juga.

3. Jika masih terasa susah juga, maka cobalah buat ingatan rajah dari pada tulisan nama Allah dalam bayangan kita saat dalam berzikir terus masukkan tulisan Allah tersebut pada maqam yang telah tersebut di atas, tapi ingat ini ada unsur syiriknya jika tiada hati-hati dalam menerapkannya dan ini tergolong kepada selemah-lemahnya seorang hamba dalam berzikir kepada Allah, tetapi jika hanya mampu demikian maka memadailah secara tahap awal tetapi harus berusaha dengan keras agar jangan dengan cara ini, tetapi pakailah cara yang 2 (dua) di atas.

4. Setiap selesai berzikir harus selalu menyampaikan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah atas kurnia-Nya yang telah memberikan kekuatan dan kesempatan dalam ingat kepada-Nya. Wallahu’alam.


No comments:

Post a Comment