Saturday, January 2, 2016

MAQAMAT (7) LATHIFATUL KULLU JASAD


Maqam ini adalah maqam ketujuh dalam kajian Tarekat An-Naqsyabandi dan lebih di kenal pada wilayah kami dengan nama Zikir Sebelas Ribu, jika seseorang mendalami pelajaran zikir dalam ajaran tasawwuf atau sufi, maka jika seseorang telah berzikir pada maqam sebelumnya, maka  pada tempat inilah zikir kepada Allah yang ketujuh, ini sangat berguna untuk pengubatan pembersihan penyakit rohani secara bertahap dan menyeluruh di berbagai tingkatan pembersihan penyakit batin.


Pembersihan penyakit batin di sini ialah mengubati seluruh penyakit batin yang buruk pada diri manusia secara bertahap, jika seseorang hamba ingin menuju kepada khalik-Nya, sudah tentu penyakit batin harus di ubati terlebih dahulu, sebab jika seseorang hamba yang menuju kepada tuhannya tetapi masih ada penyakit batinnya maka tiada akan dapat sampai (ma’rifat) kepada tuhannya, sebab Allah adalah zat yang Maha Suci. 

Batin pada manusia umumnya penuh dengan penyakit yang berupa sifat mazmumah (sifat yang buruk), artinya batin di penuhi dengan penyakit sifat yang buruk, nah sifat buruk pada manusia ini harus di ubati dulu sebelum dapat menuju kepada tuhannya, seseorang hamba tiada akan semudah itu akan dapat mengenal khalik-Nya tanpa batinnya bersih dari sifat buruk tersebut. 

Sifat buruk pada batin manusia di wilayah ini adalah suka lalai dalam beribadah dan selalu jahil dan lalai, sifat ini paling dominan di bisiki oleh iblis dan syaitan bagi manusia yang sudah cukup mengerti akan agama, akibatnya manusia sering melalaikan ibadah, seperti melalaikan shalat wajib, yang seharusnya bisa di awal waktu malah di tunda pelaksanaannya kerana waktu shalat masih panjang, nah ini contoh daripada suka melalaikan ibadah yang dapat menyebabkan nantinya akan meninggalkan shalat tersebut jika hal ini di biarkan berlarut–larut dalam batin manusia, guna menumpas keberadaan syaitan yang suka membisikkan kelalaian, ini maka lazimkanlah zikrullah pada wilayah ini dengan senjata kalimah Allah…Allah…Allah… , dengan harapan para iblis dan syaitan dapat keluar dari rumah atau istananya tersebut dari dalam diri manusia, jika sudah demikian maka tentu sifat tersebut sudah jauh berkurang bahkan hilang sama sekali dari dalam diri batinnya tersebut, yang tinggal hanyalah kalimah Allah saja yang menempatinya, hal demikianlah merupakan pintu dasar keenam menuju dan mendekatkan diri kepada Allah serta dapat mengenalnya. 

Maqam ketujuh dari cara berzikirnya seorang hamba untuk mengubati penyakit batin ini adalah di sebut dengan LATHIFATUL KULLU JASAD dengan pengertian yang di jabarkan dan di ajarkan zikirnya sebagai berikut: Maqam ini berhubungan dengan seluruh badan atau jasad zahir, berzikir pada maqam ini dalam sehari semalam sekurang-kurangnya 11,000 kali, ini adalah tempatnya sifat buruk manusia, yaitu:

1. Jahil;
2. Lalai.

Seseorang yang zikirnya ikhlas pada tempat ini dapat menimbulkan ilmu dan amal yang di redhai oleh Allah. Zikir ini di sebut juga dengan zikir sultan aulia Allah, artinya raja sekalian zikir dan di jalankan melalui seluruh badan, tulang belulang, kulit, urat dan daging di luar maupun di dalam, di tempat ini zikir Allah…Allah…Allah pada penjuru anggota badan beserta ruas dari ujung rambut sampai ujung kaki hingga tembus keluar yakni bulu roma pada sekujur tubuh atau badan, agar dapat menghilangkan sifat malas dan lalai dalam beribadah kepada Allah.

Untuk menghantam seluruh sifat malas dan lalai tersebut haruslah di laksanakan dengan sepenuh hati yang ikhlas, menurut kajian pengamal ajaran cara ibadah tasawwuf bahwa iblis dan syaitan bisa masuk melalui dan menetap pada seluruh bagian tubuh, kerana itu perlu di getar dengan zikirullah, sehingga zikirullah menetap di tempat itu dengan sendirinya dan tentu saja tidak ada lagi jalan iblis atau syaitan untuk dapat memasuki tubuh zahir dan merasuk kedalam batin manusia untuk membisikkan segala perbuatan jahat yang tercela di hadapan Allah.

Sifat yang masuk pada maqam ini setelah zikir tersebut adalah ilmu dan amal yang di redhai oleh Allah, dia berilmu sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadist Rasululllah Saw, hakikat cahaya pada maqam ini adalah nuurus samawi dan di katakan dengan sunnah dan tarekatnya orang alim dan ma’rifat kepada Allah, puncak pada zikir ini adalah mati hissi yang perupakan pokok dan mendasari zikir-zikir yang lain di atasnya, kerana itu para pengamal ajaran ini harus mengkhatamkannya sekurang-kurangnya 11.000 sehari semalam.

Zikir lathaif inilah merupakan senjata paling ampuh untuk mengusir dan membasmi sifat mazmumah yang ada pada 7 (tujuh) lathaif yang di bawahnya, segala sifat mazmumah atau sifat buruk ini di tunggangi oleh iblis dan syaitan. Jika seseorang hamba tiada mau berzikir pada wilayah ini, maka menurut kajian tasawwuf sangatlah susah untuk membuat seseorang hamba dapat sampai dan mengenal akan tuhannya, sebab dengan sifat buruk di atas, maka seseorang manusia akan selalu mengikuti akan petunjuk atau bisikan iblis dan syaitan yang lebih menjurus kepada keduniaan dan kelalaian, sifat ini merupakan sifat yang di benci Allah serta hanya ada pada iblis dan syaitan juga pada orang yang tidak beriman.

Untuk hal yang demikianlah maka oleh para guru tasawwuf sangat menekankan pengubatan penyakit batin ini, jika ingin menjadi manusia yang beraqidah akhlak yang baik serta mendapat keredhaan dari-Nya, jika seseorang hamba betul-betul ikhlas dan rajin berzikir pada wilayah ini dan beristiqamah, maka insya Allah terbukalah rahsia ghaib akan kebenaran dengan izin dan kehendak-Nya, dia mendapatkan ilham dan kurnia daripada-Nya, dan ini di katakan sunnah dan cara zikirnya Nabi Musa Klh, sebab hanya dengan akal dan pikiran batin yang bersihlah yang dapat menerima kurnia, taufik, hidayah dan ilham dari Allah, hal demikianlah yang merupakan nur illahi terbit dari hati orang yang berzikir, sehingga hatinya muhadharah (hadir) bersama Allah. 

Oleh sebab di terimanya zikir seorang hamba oleh Allah dan ini merupakan hasil dari mujahadahnya (perjuangan) dan merupakan rahmat dan kurnia dari Allah, juga merupakan fanafillah di mana gerak dan diam tidak ada kecuali dari Allah, tata cara zikir ini dalam Tarekat An-Naqsyabandi ini telah di atur secara turun menurun secara silsilah dan sampai kepada kami adalah sebagai berikut:

1. Menghimpunkan pengenalan kepada hati sanubari, maksudnya menetapkan konsentrasi secara penuh hanya kepada Allah secara keseluruhan.

2. Mengingat zat Allah dengan hati sanubari, ini lebih menekankan kepada ingat terhadap Allah pada maqam yang di tuju untuk berzikir.

3. Mengucapkan Istighfar dengan bilangan yang ganjil, artinya secara syari’ah kita selalu mohon ampun kepada Allah, sama saja artinya dengan lebih mendekatkan diri kepada-Nya melalui istighfar, dan ucapan istighfar ini bilangannya secara ganjil, contohnya 3x, 5x, 7x dan seterusnya berapapun mau asal ikhlas.

4. Membaca Surah Al-Fatiha 1 kali dan Surah Al-Ikhlas 3 kali, dengan membaca ayat Al-Qur’an tentu hati akan lebih mudah menerima hidayah dariNya dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

5. Menghadirkan Masaikh Tarekat di hadapan kita, ini artinya bertawassul kepada Allah melalui keutamaan ulama-ulama ajaran ini yang lebih dahulu telah mendapatkan hidayah dariNya melalui cara zikir ini, pelaksanaanya perlu kehati-hatian penuh, jika tidak akan terjatuh kepada kesyirikan.

6. Menghadiahkan pahala Surah Al-Fatiha 1 kali dan Surah Al-Ikhlas 3 kali kepada para masaikh, maksudnya bacaan yang di baca di atas tadi hadiahkan faedahnya kepada para ulama silsilah yang telah memakai ajaran zikir ini yang lebih dahulu dari pada kita, ini merupakan penguatan terhadap tawassul atau rabithah tadi.

7. Mematikan diri sebelum mati, maksudnya belajarlah mati sebelum di matikan dengan arti kata sentiasalah selalu ingat (zikir) kepada-Nya.

8. Memandang rabithah atau rupa guru, ini penerapannya sangatlah rumit dan penuh hati-hati, jika tidak maka akan tergelincir kepada syirik khafi (tersembunyi), pelaksanaannya adalah tekankan dalam hati akan bersyukur kepada Allah yang telah mengaruniakan hidayah-Nya bahwa ajaran ini di sampaikan Allah kepada kita melalui guru atau mursyid kita, di luar cara ini dalam menerapkannya maka syiriklah yang akan terjadi, bukannya mendapat keredhaan malah kemurkaan Allah-lah yang di dapat.

9. Munajat kepada Allah, artinya sebelum kita mengucapkan zikir Allah…Allah…Allah… terlebih dahulu kita membaca atau berdo’a sebagai berikut : “ILLAHI ANTA MAKSUDI WA RedhaKA MATHLUBI” , artinya : “Ya Allah, hanya engkaulah yang kumaksud dan keredhaan engkaulah tujuanku.”

10. Membaca zikir kepada Allah, setelah keseluruhan cara di atas di laksanakan maka di mulailah dengan berzikir atau membaca Allah…Allah…Allah… sebanyak-banyaknya sesuai dengan kemampuan dan kesempatan, jika sudah cukup dan selesai dari berzikir maka panjatkanlah puja dan puji syukur kepada Allah yang telah memberi kesempatan dan kekuatan dalam beribadah zikir ini.

Pelaksanaan zikir ini menurut yang kami pelajari untuk di terapkan sewaktu melaksanakannya dan yang bisa di jabarkan oleh tuan guru atau mursyid adalah:

1. Wuquf Qalbiy, artinya kuatkan konsentrasi pikiran hanya kepada Allah yang tiada berwujud dan berbentuk dari segala sesuatu apapun di dunia ini, tetapi ianya hanyalah tunggal dan esa, dalam pelaksanaan ini ini sekurang-kurangnya buatlah pikiran itu memikirkan akan keberadaan kekuatan dan kesempatan kita saat berzikir ini hanyalah merupakan kekuatan (hidayah) dari Allah, hal ini termasuk dalam kategori ingat kepada Allah secara af’al (perbuatan).

2. Setelah dapat membuat pikiran yang sedemikian di atas, maka usahakanlah agar selalu ucapan zikir tersebut masuk pada wilayah maqam yang telah di sebut di atas secara terus menerus laksana tembakan mitraliur yang tiada putusnya seraya memusatkan pikiran bahwa Allah sentiasa mengawasi kita dalam keadaan apapun juga.

3. Jika masih terasa susah juga, maka cobalah buat ingatan rajah dari pada tulisan nama Allah dalam bayangan kita saat dalam berzikir terus masukkan tulisan Allah tersebut pada maqam yang telah tersebut di atas, tapi ingat ini ada unsur syiriknya jika tiada hati-hati dalam menerapkannya dan ini tergolong kepada selemah-lemahnya seorang hamba dalam berzikir kepada Allah, tetapi jika hanya mampu demikian maka memadailah secara tahap awal tetapi harus berusaha dengan keras agar jangan dengan cara ini, tetapi pakailah cara yang 2 (dua) di atas.

4. Setiap selesai berzikir harus selalu menyampaikan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah atas kurnia-Nya yang telah memberikan kekuatan dan kesempatan dalam ingat kepada-Nya. Wallahu’alam.


No comments:

Post a Comment