Saturday, January 2, 2016

MAQAMAT (4) LATHIFATUL KHAFI


Maqam ini adalah maqam keempat dalam kajian Tarekat An-Naqsyabandi untuk melaksanakan pembersihan penyakit batin, maka jika seseorang telah berzikir pada  maqam sebelumnya, maka pada tempat inilah pula zikir kepada Allah yang keempat di lakukan, maksudnya adalah untuk pengubatan penyakit rohani secara bertahap dan berbagai tingkatan pembersihan penyakit batin atau rohani.

Pembersihan penyakit batin di sini ialah mengubati seluruh penyakit batin yang buruk pada diri manusia secara bertahap, jika seseorang hamba ingin menuju kepada khalik-Nya, sudah tentu penyakit batin harus di ubati terlebih dahulu, sebab jika seseorang hamba yang menuju kepada tuhannya tetapi masih ada penyakit batinnya maka tiada akan dapat sampai (ma’rifat) kepada tuhannya, sebab Allah adalah zat yang Maha Suci. 

Batin pada manusia umumnya penuh dengan penyakit yang berupa sifat mazmumah (sifat yang buruk), artinya batin di penuhi dengan penyakit sifat yang buruk, nah sifat buruk pada manusia ini harus di ubati dulu sebelum dapat menuju kepada tuhannya, seseorang hamba tiada akan semudah itu akan dapat mengenal khalik-Nya tanpa batinnya bersih dari sifat buruk tersebut.

Sifat buruk pada batin manusia di wilayah ini adalah busuk hati dan munafik yang mana termasuk di dalamnya adalah pendusta, mungkir janji, penghianat dan tidak dapat di percaya, yang di dalangi oleh iblis dan syaitan, rumah atau istananya adalah pada limpa jasmani manusia, yang sentiasa selalu membisikkan berbagai tipu daya dan hasut agar manusia selalu dalam kemaksiatan di bidang sifat buruk tersebut, untuk menumpas keberadaan syaitan ini maka lazimkanlah zikrullah pada wilayah ini dengan senjata kalimah Allah…Allah…Allah… , dengan harapan para iblis dan syaitan dapat keluar dari rumah atau istananya tersebut dari dalam diri manusia, jika sudah demikian maka tentu sifat tersebut sudah jauh berkurang bahkan hilang sama sekali dari dalam diri batinnya tersebut, yang tinggal hanyalah kalimah Allah saja yang menempatinya, hal demikianlah merupakan pintu dasar keempat menuju akan kedekatan kepada Allah serta dapat mengenalnya.

Maqam keempat dari cara berzikirnya seorang hamba untuk mengubati penyakit batin ini adalah di sebut dengan LATIFATUL KHAFI dengan pengertian yang di jabarkan dan di ajarkan zikirnya sebagai berikut: Maqam ini berhubungan dengan limpa jasmani manusia dengan daerah kira-kira dua jari di atas susu kanan, berzikir pada maqam ini dalam sehari semalam sekurang-kurangnya 1000 kali, ini adalah wilayahnya Nabi Isa As dengan bercahayakan hitam dan berasal dari air.
Ini adalah tempatnya sifat mazmumah pada manusia, seperti:

1. Busuk hati.

2. Munafik, dengan kandungan sifat nya yaitu ; pendusta, mungkir janji, penghianat dan tidak dapat di percaya.

Nah, jika ikhlas zikir pada tempat ini maka hilanglah sifat yang demikian dan berganti dengan sifat yang terpuji, yaitu:

1. Redha;
2. Syukur;
3. Sabar, dan
4. Tawakkal.
Mazmumahnya lathifatul khafi ini di katakan dengan sifat syaitan yang menimbulkan was-was, cemburu, dusta dan sebagainya dan yang sejenis, mahmudahnya adalah sifat syukur dan redha serta sabar dan tawakkal, ini di katakan dengan sunahnya Nabi Isa As.

Puncaknya adalah fana fissifatissalbiyah dan mati hissi, mati hissi artinya segala sifat keinsanan yang baharu menjadi lenyap atau fana dan yang tinggal hanyalah sifat ketuhanan yang qadim azali, pada tingkat ini tanjakan batin seseorang yang berzikir telah mencapai tingkat yang tinggi, yaitu mulai mengenal akan ma’rifat, pada tingkat ini orang yang berzikir telah mengalami keadaan yang tidak pernah di lihat oleh mata zahir, tidak pernah di dengar telinga zahir dan tidak pernah terlintas dalam hati sanubari manusia dan tidak mungkin pula bisa di sifati oleh sifat manusia, kecuali yang telah di kurniakan oleh Allah dengan seperti pada jalan tersebut di atas.

Jika seseorang hamba tiada mau berzikir pada wilayah ini, maka menurut kajian tasawwuf sangatlah susah untuk membuat seseorang hamba dapat sampai dan mengenal akan tuhannya, sebab dengan sifat buruk di atas, maka seseorang manusia akan selalu mengikuti akan petunjuk atau bisikan iblis dan syaitan, sifat ini merupakan sifat yang di benci Allah serta hanya ada pada iblis dan syaitan juga pada orang yang tidak beriman. 

Untuk hal yang demikianlah maka oleh para guru tasawwuf sangat menekankan pengubatan penyakit batin ini, jika ingin menjadi manusia yang beraqidah akhlak yang baik serta mendapat keredhaan dari-Nya, jika seseorang hamba betul-betul ikhlas dan rajin berzikir pada wilayah ini dan beristiqamah, maka insya Allah terbukalah rahsia ghaib akan kebenaran dengan izin dan kehendak-Nya, dia mendapatkan ilham dan kurnia daripada-Nya, dan ini di katakan sunnah dan cara zikirnya Nabi Isa As, sebab hanya dengan akal dan pikiran batin yang bersihlah yang dapat menerima kurnia, taufik, hidayah dan ilham dari Allah, hal demikianlah yang merupakan nur illahi terbit dari hati orang yang berzikir, sehingga hatinya muhadharah (hadir) bersama Allah. 

Oleh sebab di terimanya zikir seorang hamba oleh Allah dan ini merupakan hasil dari mujahadahnya (perjuangan) dan merupakan rahmat dan kurnia dari Allah, juga merupakan fanafillah di mana gerak dan diam tidak ada kecuali dari Allah, tata cara zikir ini dalam Tarekat An-Naqsyabandi ini telah di atur secara turun menurun secara silsilah dan sampai kepada kami adalah sebagai berikut:

1. Menghimpunkan pengenalan kepada hati sanubari, maksudnya menetapkan konsentrasi secara penuh hanya kepada Allah secara keseluruhan.

2. Mengingat zat Allah dengan hati sanubari, ini lebih menekankan kepada ingat terhadap Allah pada maqam yang di tuju untuk berzikir.

3. Mengucapkan Istighfar dengan bilangan yang ganjil, artinya secara syari’ah kita selalu mohon ampun kepada Allah, sama saja artinya dengan lebih mendekatkan diri kepada-Nya melalui istighfar, dan ucapan istighfar ini bilangannya secara ganjil, contohnya 3x, 5x, 7x dan seterusnya berapapun mau asal ikhlas.

4. Membaca Surah Al-Fatiha 1 kali dan Surah Al-Ikhlas 3 kali, dengan membaca ayat Al-Qur’an tentu hati akan lebih mudah menerima hidayah dariNya dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

5. Menghadirkan Masaikh Tarekat di hadapan kita, ini artinya bertawassul kepada Allah melalui keutamaan ulama-ulama ajaran ini yang lebih dahulu telah mendapatkan hidayah dari-Nya melalui cara zikir ini, pelaksanaannya perlu kehati-hatian penuh, jika tidak akan terjatuh kepada kesyirikan.

6. Menghadiahkan pahala Surah Al-Fatiha 1 kali dan Surah Al-Ikhlas 3 kali kepada para masaikh, maksudnya bacaan yang di baca di atas tadi hadiahkan faedahnya kepada para ulama silsilah yang telah memakai ajaran zikir ini yang lebih dahulu dari pada kita, ini merupakan penguatan terhadap tawassul atau rabithah tadi.

7. Mematikan diri sebelum mati, maksudnya belajarlah mati sebelum di matikan dengan arti kata sentiasalah selalu ingat (zikir) kepada-Nya.

8. Memandang rabithah atau rupa guru, ini penerapannya sangatlah rumit dan penuh hati-hati, jika tidak maka akan tergelincir kepada syirik khafi (tersembunyi), pelaksanaannya adalah tekankan dalam hati akan bersyukur kepada Allah yang telah mengaruniakan hidayah-Nya bahwa ajaran ini di sampaikan Allah kepada kita melalui guru atau mursyid kita, di luar cara ini dalam menerapkannya maka syiriklah yang akan terjadi, bukannya mendapat keredhaan malah kemurkaan Allah-lah yang di dapat;\.

9. Munajat kepada Allah, artinya sebelum kita mengucapkan zikir Allah…Allah…Allah… terlebih dahulu kita membaca atau berdo’a sebagai berikut : “ ILLAHI ANTA MAKSUDI WA RedhaKA MATHLUBI”, artinya : “Ya Allah, hanya engkaulah yang kumaksud dan keredhaan engkaulah tujuanku.”

10. Membaca zikir kepada Allah, setelah keseluruhan cara di atas di laksanakan maka di mulailah dengan berzikir atau membaca Allah…Allah…Allah… sebanyak-banyaknya sesuai dengan kemampuan dan kesempatan, jika sudah cukup dan selesai dari berzikir maka panjatkanlah puja dan puji syukur kepada Allah yang telah memberi kesempatan dan kekuatan dalam beribadah zikir ini.

Pelaksanaan zikir ini menurut yang kami pelajari untuk di terapkan sewaktu melaksanakannya dan yang bisa di jabarkan oleh tuan guru atau mursyid adalah:

1. Wuquf Qalbiy, artinya kuatkan konsentrasi pikiran hanya kepada Allah yang tiada berwujud dan berbentuk dari segala sesuatu apapun di dunia ini, tetapi ianya hanyalah tunggal dan esa, dalam pelaksanaan ini ini sekurang-kurangnya buatlah pikiran itu memikirkan akan keberadaan kekuatan dan kesempatan kita saat berzikir ini hanyalah merupakan kekuatan (hidayah) dari Allah, hal ini termasuk dalam kategori ingat kepada Allah secara af’al (perbuatan).

2. Setelah dapat membuat pikiran yang sedemikian di atas, maka usahakanlah agar selalu ucapan zikir tersebut masuk pada wilayah maqam yang telah di sebut di atas secara terus menerus laksana tembakan mitraliur yang tiada putusnya seraya memusatkan pikiran bahwa Allah sentiasa mengawasi kita dalam keadaan apapun juga.

3. Jika masih terasa susah juga, maka cobalah buat ingatan rajah dari pada tulisan nama Allah dalam bayangan kita saat dalam berzikir terus masukkan tulisan Allah tersebut pada maqam yang telah tersebut di atas, tapi ingat ini ada unsur syiriknya jika tiada hati-hati dalam menerapkannya dan ini tergolong kepada selemah-lemahnya seorang hamba dalam berzikir kepada Allah, tetapi jika hanya mampu demikian maka memadailah secara tahap awal tetapi harus berusaha dengan keras agar jangan dengan cara ini, tetapi pakailah cara yang 2 (dua) di atas.

4. Setiap selesai berzikir harus selalu menyampaikan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah atas kurnia-Nya yang telah memberikan kekuatan dan kesempatan dalam ingat kepada Nya. Wallahu’alam.


No comments:

Post a Comment