Thursday, August 18, 2016

MUSYAHADAH

Tercapainya musyahadah ini adalah dgn adanya mujahadah dlm beramal. Terjadinya keadaan yg demikian ini apabila seseorg sudah berada dlm maqam fana, yakni penglihatannya hanya ditujukan kpd Allah semata-mata. Karena pada hakikatnya wujud hakiki yg kekal hanyalah Allah, sedang wujud lain tiada lagi. 

Maka hanya org yg mau menghiasi diri dgn mujahadah dgn sentiasa zikrullah dan membersihkan hatinya saja yg dapat mencapai musyahadah. Sebagaimana diterangkan dalam Ar-Risalah Al-Qusyairiyah: “Barangsiapa menghiasi dirinya dhahirnya dengan mujahadah, niscaya Allah memperbaiki sirnya/hatinya dgn musyahadah”.  Pada hakikatnya musyahadah itu adalah merasakan adanya kehadiran Allah. 

Sebagai mana diterangkan dalam Ar-Risalah Al-Qusyairiyah :“Al-Musyahadah adalah kehadiran Allah”. Kehadiran tingkat musyahadah ini adalah didahului dgn kehadiran hati dihadapan Allah dan beserta Allah atau yang dinamakan huduurul qalbi. Mengingat Allah dgn sepenuh hati artinya hati yg khusyk saat melakukan dzikrullah dan mendekatkan diri kepada Allah.Setelah mencapai musyahadah ini, kemudian menanjak lagi ketingkat mukasyafah atau terbukanya rahasia artinya tiada tertutup lagi sifat2 ghaib. Maksudnya tersingkaplah rahasia alam ghaib.Setelah itu barulah seseorang dapat mencapai tingkat Al-Musyahadah. 

Menurut Al-Junaid adalah : Al-Musyahadah adalah nampaknya Al-Haqqu Ta’ala dimana alam perasaan sudah tiada”. Dalam kitab Iqazhul Himam dikatakan : “Al-Musyahadah adalah terbukanya hijab alam perasaan dari pancaran nur yang suci, yaitu tersingkapnya tabir pemeliharaan Alam wujud. Ketika itu engkau melihat Dzatullah dalam Alam Ghaib/Alam Malakut. Dan Allah melihat kamu dalam alam wujud/alam mulkihi. 

Ketika itu engkau melihat rahasia ketuhanannya dan Allah pun melihat pengabdianmu. Dan adapun pandangan Tuhan terhadap hambanya, adalah meliputi ilmunya, ahwalnya dan rahsia2Nya”. Maksudnya adalah Allah mengetahui, apa-apa yang diketahui hambanya, dan apa-apa yang diperbuat hambanya dan apa-apa yang terguris dalam hati sanubari hambaNya. Adapun terjadinya musyahadah adalah dgn adanya nur musyahadah yg terpancar dlm hati seseorang. Terjadinya melalui tiga tahap, yaitu:

Nur Musyahada I : adalah yang membukakan jalan dekat kepada Allah. Tanda-tandanya ialah seseorang merasa muraqabah/berintai-intaian dengan Allah.

Nur Musyahadah II : adalah tampaknya keadaan “adamiah” yakni, hilangnya segala maujud, lebur kedalam wujud Allah dan baginyalah wujud yang hakiki.

Nur Musyahadah III : adalah tampaknya Zatullah yang maha suci. Dalam hal ini bila seseorang telah fana’ sempurna, yakni dirinya telah lebur dan yang baqa hanyalah wujud Allah.

Ada pula yang mengatakan musyahadah bisa dicapai melewati pintu mati. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw: “Rasakanlah mati sebelum engkau mati”. Dalam kitab Hikam Abu Mu’jam dikatakan : “Barangsiapa tidak merasai mati, niscaya ia tidak dapat melihat musyahadah dengan Al-Haqq Ta’ala”. Sedangkan yang dimaksud mati dalam pengertian ini adalah hidupnya hati. Dan tiada saat kehidupan hati melainkan pada saat matinya nafsu. 

Jadi arti mati sebenarnya dalam pengertian ini adalah matinya nafsu. Selanjutnya dalam kitab Al-Hakim, Abu Abbas berkata : “tiada jalan masuk/musyahadah dengan Allah kecuali melalui dua pintu: salah satu daripada pintu itu adalah pintu fana’ul akbar, yaitu mati “tabi’I” dan daripada pintu fana menurut pengertian ahli-ahli tashawwuf”. Selanjutnya jalan yang ditempuh untuk sampai pada musyahadah dengan Allah melalui pintu mati (dalam pengertian matinya nafsu untuk hidupnya hati) dapat ditempuh pada 4 tingkat, yaitu:

● Mati Tabi’i: Menurut sebagian ahli tarekat, bahwa “mati tabi’I” terjadi dengan karunia Allah pada saat zikir qalbi dalam zikir lataif dan mati tabi’I ini merupakan pintu musyahadah pertama dgn Allah. Pintu pertama ini, dilalui pada saat seseorg dlm melakukan zikir qalbi dlm zikir lathaif. Maka dgn kurnia Allah ia fana/lenyap pandangannya secara lahir dlm mana telinga batin mendengar Allah Allah Allah. Pada tingkat ini, zikir qalbi mula-mulanya hati berzikir, kemudian dari hati kemulut dimana lidah berzikir jalan sendiri. Dlm hal ini alam perasaan mulai hilang (mati tabi’i). 

Pada saat seperti ini akal pikiran mulai tidak berjalan lagi, melainkan terjadi sebagai ilham yg tiba-tiba. Nur Ilahi terbit dalam hati yg hadir dgn Allah. Telinga batin mendengar: “yg naik kemulut dimana lidah bergerak sendiri mengucapkan Allah, Allah”. Dlm tanjakan2 batin spt ini, seseorg/salik mulai memasuki pintu fana pertama yg dinamakan: “Fana Fil Af’al” dan Tajalli fil Af’al dimana gerak dan diam adalah pada Allah: “Tiada fi’il (gerak dan diam) melainkan Allah."

● Mati Ma’nawi: Menurut sebagian ahli-ahli tarekat, bahwa mati ma’nawi ini terjadi dengan karunia Allah pada seseorang salik saat melakukan zikir lathifatur ruh dalam zikir lathaif. Terjadinya itu sebagai ilham yg tiba-tiba Nur Ilahi terbit dalam hati. Ketika itu penglihatan secara lahir menjadi hilang lenyap dan mata bathin menguasai penglihatan. Zikir Allah, Allah pada tingkat ini semakin meresap terus pada diri dimana zikir sudah terasa panasnya disekujur tubuh dan disetiap bulu roma badan. 

Perasaan keinsanan tercengang, bimbang, semua persendian gementar, boleh juga terus pingsan. Sifat keinsanan telah lebur diliputi sifat ketuhanan. Dalam tingkat ini, seorang salik telah memasuki fana’ kedua yang dinamakan : “Fana’ Fissifat”. Sifat kebaharuan dan kekurangan serta alam perasaan lenyap/fana dan yang tinggal adalah sifat Tuhan yang sempurna dan azali. “tiada hidup selain Allah”.

● Mati Suri: Seterusnya ialah yang dinamakan “mati suri”. Mati suri ini terjadi dengan karunia Allah pada saat seseorang salik melakukan zikir Lathifatus Sirri dalam Zikir Lathaif. Pada tingkat ketiga ini, seorang Salik telah memasuki pintu musyahadah dengan Allah. Ketika itu segala keinsanan lenyap/fana, alam wujud yang gelap telah ditelan oleh alam ghaib/alam malakut yang penuh dengan Nurcahaya. Dalam pada ini, yang baqa’ adalah Nurullah semata-mata. Nur Af’alullah, Nur Shufatullah, Nur Asmaullah dan Nur Zatullah dan Nurun Ala Nurin. Firman Allah : “Cahaya atas cahaya Allah mengkurnia dengan Nurnya siapa2 yang ia kehendaki”.“Tiada yang dipuji melainkan Allah”.

● Mati Hissi: Mati Hissi ini terjadi dengan karunia Allah pada saat seseorang /Salik melakukan zikir Lathifatul Hafi dalam zikir Lathaif. Pada tingkat keempat ini, seorang/salik telah sampai pada tingkat yang lebih tinggi untuk mencapai “ma’rifat” sebagai maqam tertinggi. Dalam pada ini, fana’lah/lenyapnya segala sifat2 keinsanan yg baru dan yg tinggal hanyalah sifat2 Tuhan yang Qadim, azali. 

Ketika itu menanjaklah batin keinsanan lebur kedalam kebaqaan Allah yg qadim – bersatu abid dan ma’bud. Dlm tingkat puncak tertinggi ini, seorang salik telah mengalami keadaan yg tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, tidak pernah terlintas dalam hati sanubari manusia dan tidak mungkin disifati. Tetapi akan mengerti sendiri, siapa2 yg telah merasai.“Siapa ya belum pernah merasai ia belum mengenalnya”.

Untuk mencapai keadaan musyahadah seperti tersebut diatas adalah dengan mujahadah. Karena siapa saja yang menghiasi dhahirnya dengan mujahadah niscaya Allah memperbaiki sirnya/hatinya dengan musyahadah. Apabila seseorang telah mendapatkan karunia dari Allah dengan musyahadah, maka dengan sendirinya akan lenyaplah segala hijab dari sifat-sifat basyariyah, nampaklah Nur Allah atau Tajalli.

No comments:

Post a Comment