Sunday, February 7, 2016

DIRI MANUSIA

Nabi Muhammad SAW bersabda: “ZAHIRU RABBI WAL BATINU ABDUHU” Ertinya “Zahir Tuhan itu ada pada Batin HambaNya, yakni kepada Ilmu Hakikat”. Kepada Ilmu Hakikat inilah yang sebenarnya untuk meng-Esakan Allah. Dengan adanya keterangan tersebut di atas, maka kenalilah Diri agar sempurna untuk mengenal Allah SWT. Allah berfirman: “KHALAKAL INSANA MINTIY” Ertinya “Aku jadikan insan Adam dari tanah, dan tanah dari pada Air, Airpun dijadikan dari Nur Muhammad, maka Roh dan Tubuh tersebut bernama Nur Muhammad”. Kepada Roh dan Tubuh inilah segala kaedah, yg Insya Allah kita akan melihat kesempurnaan Zat Wajibal Wujud, kerana tubuh kita yang kasar ini tidak dapat mengenal Allah, sebab fana.

Siapa yang dapat mengenal atau meresapkan Nur Muhammad SAW bererti ia mengenal atau meresapkan Tuhannya, kerana itu adalah kenyataan dari Wujud Allah yang kita miliki, seperti penglihatan, pendengaran dan sebagainya yang berasal dari pada NUR. Firman Allah Ta’ala: “KADJA AKUM MINALLLAHINNURI” Ertinya “Sesuatu apa saja yang menimpa kamu adalah dari pada Allah yaitu Nur”. Firman Allah Ta’ala: “KAD JA AKUMUL KAKKUMIR RABBIKUM” Ertinya “Sesuatu apa saja dari masing-masing kamu adalah hak dari Tuhan dari Nur kepada Nur”. Di sinilah sampai pelajaran segala Ilmu dari Aulia dan Ambiya asalnya mengenal Allah.

Demikian pula pendapat Arifbillah serta kelakuannya kerana ia mengenal Diri-Nya berasal dari kejadian Nur. Firman Allah Ta’ala dalam Hadist Qudsi: “KHALA ILA JALI WAKHALAKHUL ASY YA ILA JALIK” Ertinya “Aku jadikan kamu kerana Aku, dan Aku jadikan Alam semesta kerana Engkau Ya Muhammad.” Rasulullah SAW bersabda: “ANA MINALLAHI WALMU’MINUNKAMINNI” Ertinya “Aku dari Allah, dan segala Mukmin dari Aku”. Maka dari itu, berpeganglah kepada Nur Muhammad, baik di waktu beribadat maupun di luar dari beribadat.

Syeikh Abdur Raub berkata: “Yang sebenar diri adalah Nyawa, yang sebenarnya Nyawa adalah Nur Muhammad atau Sifat, yang sebenarnya Sifat adalah Zat Hayyun akan tetapi La Gairi (tidak lain)”. Sebahagian pendapat dari Alim Ulama adalah bahawa yang sebenarnya Diri adalah Roh, Tatkala masuk pada Diri atau Tubuh bernama Nyawa, Tatkala keluar masuk bernama Nafas, Bilamana ingin sesuatu bernama Nafsu, Dan apabila dapat memiliki sesuatu barang bernama Ikhtiar, Dapat membuat sesuatu barang bernama Akal atau Ilmu. Inilah yang sebenarnya Diri. Kerana pada diri inilah zahirnya Tuhan.

Mengenal diri ada terbagi 3 (tiga) bahagian :

- Harus mengetahui asal diri (seperti tersebut di atas).

- Matikanlah diri/tubuh kita yang ada ini (mati Ma’nawiyah).

- Setelah Fana diri di dalam diri, Uludiyah Allah Ta’ala dalam Ilmu Allah Ta’ala yang Qadim adanya.

Allah SWT berfirman dalam Hadist Qudsi: “MAUTU ANTAL KABLAL MAUTU” Ertinya “Matikanlah dirimu sebelum kamu mati (mati yg sebenarnya)”. 

Mematikan Diri adalah sebagai berikut: “LAA QADIRUN, WALA MURIDUN, WALA ‘ALIMUN, WALA HAYYUN, WALA SAMI’UN, WALA BASIRUN, WALA MUTAKALLIMUN".

Artinya :
- Tidak ada berkuasa ;
- Tidak ada berkehendak ;
- Tidak ada kita tahu ;
- Tidak ada kita hidup ;
- Tidak mendengar ;
- Tidak melihat ;
- Tidak berkata-kata.

Kesemuanya itu hanya Allah, tetapi setelah Fananya seluruh diri/tubuh kita di dalam “UHU DIAH Allah" dengan Ilmu Allah yang Qadim. Dan ketahuilah Sir Allah dalam Diri/Tubuh kita. Jika kita tidak mengetahui, maka kita selalu bergelimang Dosa. Nabi SAW bersabda: “WUJUDUKA ZAMBUN LAA YUGA SIBAHU ZAMBUN” Ertinya: “Bermula dari Adam itu dosa yang amat besar, maka tiap-tiap diri/tubuh yang berdosa itu tidaklah sempurna untuk mengenal Allah, walau bagaimanapun berbaktinya tetap tidak sempurna untuk mengenal Allah, kerana berbakti itu adalah seumpama diri/tubuh dengan Roh, maka dari itu ketahuilah Sir Allah yang sebenarnya di dalam Rahsia yang ada”. Allah berfirman dalam Hadist Qudsi: “AL INSANU SIRRI WA ANA SIRRAHU” Ertinya “Insan itu adalah Rahsia-Ku dan Akupun Rahsia-Nya”. Allah berfirman dalam Hadist Qudsi: “AL INSANU SIRRI WASIARI SIFATI WASIFATI LA GAIRI” Ertinya “Insan itu adalah Rahsia-Ku, Rahsia-Ku itu adalah Sifat-Ku, Sifat-Ku itu tidak lain dari pada-Ku”.

GHAUSUL ‘AZAM berkata: “JISMUL INSANU WANAFSAHU WAKABLAHU WARUHUHU WABASARAHU WA ASNA NURU WAYAZRUHU WARIJLUHU WAKULLU ZALIKA AZHIRTULAHU BINAFSIHI LINAFSI ILA HUWA ILLA ANA GHAIRUHU” Ertinya: “Diri atau tubuh manusia, hatinya dan pendengarannya, penglihatannya, serta tangan dan kakinya, kesemuanya itu adalah kenyataan bagi Diri-KU, tetapi bukan ‘Ainnya dan bukan lainnya. Allah itu tidak lain dari Insan, sebab kita ini adalah Hak dari Allah dan tidak berpisah ia dari segala kelakuan-Nya atau Af’al-Nya”.

Allah berfirman: “WAFI AMFUSIKUM AFALA TUBSIRUN” Ertinya “Ada Tuhan kamu pada diri kamu, mengapa tidak kamu lihat akan Aku, kata Allah, padahal Aku lebih dekat dari matamu yang putih dengan yang hitamnya, lebih dekat lagi Aku dengan kamu”.

Nabi SAW bersabda: “MAN NAJARA ILA SYAI’AN WALAM YARAllahUFIHI FAHUWA HATIL” Ertinya “Siapa yang melihat pada sesuatu, tidak dilihatnya Allah didalam-Nya, maka penglihatannya itu batal dan sia-sia belaka”. Abu Bakar r.a berkata: “MAA RA AITU SYAI’AN ILLA WARA AITULLAH HAKABLAHU” Ertinya "Tidak Aku lihat sesuatu melainkan yang aku lihat Allah Ta’ala terlebih dahulu”. Uthman Affan r.a berkata “MAA RA AITU SYAI’AN ILLA WARA AIRULLAHA” Ertinya “Tidak aku lihat sesuatu melainkan yang aku lihat Allah sesertanya”. Umar Al-Khattab r.a berkata: “MAA RA AITU SYAI’AN ILLA WARA AITULLAHA BADAHU” Ertinya “Tidak aku lihat sesuatu, hanya aku lihat Allah Ta’ala kemudiannya”. Ali bin Abi Thalib r.a berkata “MAA RAITU SYAI’AN ILLA WARA AITULLAHA FIHI” Ertinya “Tidak aku lihat sesuatu melainkan yang aku lihat Allah Ta’ala di dalamnya”.

Itulah isyarat ayat Al Qur’an: “WAKULIL HAMDULILLAH SAYURIIKUM AAYAA TIHI FA’A HIRU NAHA” Ertinya: “Dan ucapkanlah puji bagi Allah kerana sangat nampak bagi kamu pada wujud diri kamu itu sendiri, akan tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala, supaya kamu dapat mengenalnya”. 

Demikianlah apa yang dikatakan oleh para sahabat Nabi tersebut di atas, maka pelajarilah ilmu ini bersama guru sebagaimana mestinya, sebab Allah tidak bersatu dan tidak bercerai/berpisah dengan sesuatu apapun juga. Inilah jalannya untuk mengenal Allah yang hidup kekal dan abadi yang tidak pernah kita lupakan setiap saat dan waktu maupun di dalam tidur. InsyaAllah. Aamiin.

No comments:

Post a Comment