Sunday, February 7, 2016

QALBU MANUSIA

Spiritualitas manusia itu berpusat pada qalbu, di dalam qalbu inilah Inti ruh yang menjadi pusat Hakekat diri manusia berada.

Qalbu yang dimaksud mempunyai dua pengertian yaitu :
1) qalbu jasad berupa gumpalan daging yaitu jantung kita, dan 
2) qalbu ruhani berupa jiwa kita yaitu nurani.

Di dalam qalbu ruhani inilah letak fithrah (sifat-sifat asli dari Tuhan) berupa kesadaran, perasaan, kecerdasan, iman dan iradah, Allah mempersiapkan tubuh dzahir hanya sebagai wadah bagi ruhani kita, diri yang batin (ruhani) sudah ada sebelum adanya tubuh dzahir kita. Ketika manusia masih dalam wujud ruh di alam lahut, ruh merupakan wujud pertama manusia sebelum diturunkan ke bumi lalu dimasukkan ke dalam tubuh jismaniah kita yang dengannya kita bisa memahami yang ada diluar dan didalam diri manusia. Jadi, sejak diturunkan dari sisi Allah, ruhani itu qalbunya tidaklah kosong. Kerana di dalam qalbu itu Allah sudah menempatkan dasar fithrah manusia berupa spiritual, iman, moralitas, ilmu, kemerdekaan, dan kebebasan berkehendak.

Seberapa besar kebebasan yang Allah berikan kepada manusia? kebebasan yang Allah berikan adalah kebebasan yang seluas-luasnya, Kebebasan yang sebebas-bebasnya, sedemikian luas sampai-sampai seandainya seluruh manusia di muka bumi ini bebas bahkan untuk membangkang kepada Allah sekali pun. Kerana engkau bebas menentukan kehendakmu sendiri. Firman Allah: “Kalau saja Tuhanmu menghendaki, Dia bisa membuat semua yang ada dimuka bumi beriman kepada Dia…”(QS. Yunus 10:99)

Qalbu ruhani (Nurani) adalah "Kaca Cermin" bagi kita, yang dengannya Ruhani melihat Nur-Nya, apabila ada noda hitam didalamnya, maka akan menghalangi pandangan dalam melihat Nur-Nya.

Apa yang dimaksud noda hitam yang menghalangi cermin itu? Noda itu adalah "Dosa" yang diisyaratkan dalam Hadits Nabi: Berkata Wabishah Al-asadi, “Aku datang kepada Rasulullah SAW dan aku tidak akan mengesampingkan barang sedikitpun tentang kebajikan dan dosa melainkan mesti akan kutanyakan kepada beliau, dan beliau saat itu dikelilingi sejumlah kaum muslim untuk meminta nasehat dan aku pun melangkah melewati mereka, dan mereka berkata, “hai Wabishah, jangan mendekati Rasulullah SAW!” Aku katakan, “Biarkanlah aku! Aku akan mendekat kepada beliau. Kerana beliau adalah orang yang paling aku cintai untuk saya dekati.” 

Beliau (Nabi) bersabda, “Biarkanlah Wabishah! Kemari, Wabishah! (dua atau tiga kali)” Kata Wabishah,” Akupun mendekat kepada beliau hingga aku duduk bersimpuh dihadapannya”. Lalu beliau bersabda,” Hai Wabishah, apakah kau mau aku beritahu atau engkau akan bertanya kepadaku?” Aku berkata,”Tidak, melainkan beritahulah aku. Beliau bersabda , “Engkau datang untuk bertanya kepadaku tentang kebajikan dan dosa bukan?” Wabishah menjawab,”Iya!” lalu beliau merapatkan jari-jari beliau, kemudian dengan jari-jari itu beliau menepuk Qalbuku dan bersabda,”Hai Wabishah, mintalah fatwa (bertanyalah) kepada Qalbumu! Mintalah fatwa kepada dirimu! (tiga kali), kebajikan ialah sesuatu yang Qalbu merasa tentram kepadanya dan dosa ialah sesuatu yang terbetik di dalam Qalbumu dan bergejolak dalam Shudur, sekalipun orang banyak memberi fatwa (membenarkan) kepadamu, sekalipun mereka memberi fatwa kepadamu! “. (HR. Bukhari )

Nabi SAW menjelaskan didalam hadits tersebut bahwa kebajikan adalah budi pekerti luhur, dan dosa ialah sesuatu perbuatan yang zhalim, yang merugikan orang lain, dan sesuatu yang terbetik didalam hati yang bersangkutan dan tidak suka jika perbuatan itu diketahui oleh orang banyak. Jadi pertimbangan pertama dan utama dalam segala tindakanmu ialah dengan nuranimu. Murni dan terangnya hati nurani akan membisikkan kepada kita tentang apa yang baik dan buruk, yang benar dan yang salah. Kelemahan manusia yang paling pokok ialah pandangannya yang sempit, dan tidak mampu melihat kedalam nuraninya. hati nurani selalu memperingatkan manusia untuk waspada jangan sampai terjebak oleh hal-hal yang buruk namun dipandang baik. Namun kerana kelemahan manusia kita tidak selalu dapat mendengar Suara nurani kita sendiri.

Kerana Qalbu kita sudah kehilangan cahaya-Nya disebabkan oleh dosa-dosa kita. Firman Allah dalam Al-Qur’an mengisyaratkan dosa ialah sesuatu perbuatan yang zhalim, perbuatan yang bertentangan dengan nurani. Maka orang yang banyak berbuat dosa, qalbunya tidak lagi bersifat terang (Nurani), melainkan menjadi gelap (Zhulmani). Dan yang lebih parah perbuatan dosa atau perbuatan zhalim itu mungkin tidak lagi kita rasakan sebagai dosa atau kejahatan, bahkan terasa biasa saja. Inilah yang dimaksud Allah didalam Al-Qur’an bahwa adakalanya kejahatan pada seseorang "dihiaskan" baginya, sehingga nampak indah baginya.

Firman Allah: “Apakah (yang engkau risaukan, wahai Muhammad) orang yang dihiaskan baginya kejahatan amalnya sebagai ia pandang baik? Sebab sesungguhnya Allah menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendak-Nya Oleh kerana itu, janganlah engkau menelantarkan dirimu dengan kesedihan tentang mereka itu. Sesungguhnya Allah maha Tahu akan segala sesuatu yang mereka perbuat ”. (QS Al Fathir 35 : 8).

Seseorang yang mencapai spiritualitas tinggi segala perbuatannya, pemikirannya dan perkataannya akan selalu mengikuti nuraninya, seperti kalimat seorang perempuan besar R.A Kartini dalam tulisannya. "Tuhan kami adalah Nurani, neraka dan surga kami adalah nurani. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami. Dengan melakukan kebajikan, nurani kamilah yang memberi kurnia." (Isi Surat Kartini kepada EC Abendanon, 15 Agustus 1902). Seorang sufi sejati tidak akan pernah meninggalkan Nuraninya.

No comments:

Post a Comment