Monday, March 21, 2016

BELAJAR TENTANG IHSAN

Umar bin Khaththab r.a. menuturkan: “Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba datang kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang serba putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata: “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam?”

Rasulullah SAW menjawab: “Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya.” Lelaki itu berkata, “Engkau benar.” Maka kami heran, ia yang bertanya namun ia pula yang membenarkannya.

Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman?” Nabi SAW menjawab: “Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk.” Lelaki itu berkata, “Engkau benar”. Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan?” Nabi SAW menjawab: “Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Lelaki itu berkata lagi: “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?” Nabi menjawab, ”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya”. Dia pun bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!” Nabi menjawab, ”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”

Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku: “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” Beliau bersabda, ”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” (HR Muslim)

2). MEMAHAMI MAKNA MAKRIFATULLAH

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Makrifatullah adalah membangun kesadaran hati bahwa Allah begitu dekat dengan dirinya, selalu menjaganya, berkuasa atas dirinya, menyaksikannya dan mengetahui segala tindak-tanduknya”. (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, kitab Al-Ghunyah Li Thalib Thariq Al-Haqq).

3). PERSIAPAN UNTUK BERTEMU SANG KEKASIH

“Jika engkau mencintai kekasih, engkau tidak akan dapat menjumpainya sebelum kau merasa layak menemuinya, yaitu sebelum membersihkan diri dari berbagai cela yang kaulakukan”. (Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Taj Al-‘Arus). 

Muhammad Najdat menjelaskan, barang siapa yang mencintai Allah, maka ia akan membersihkan diri dari aib dan cacat. Cacat disini meliputi seluruh bentuk dosa dan kelalaian. Ini adalah nilai dan harga sebuah cinta yang sejati. Keadaannya berbeda dari sekadar, mengaku mencintai, tetapi hatinya lalai dan melupakan dia yang dicintai. Cinta seperti ini adalah cinta yang dusta dan tidak sempurna.

Cinta semacam ini bagaikan ungkapan sebuah syair:

“Kau bermaksiat kepada Tuhan sambil menunjukkan cinta. Ini sungguh aneh dan mengherankan. Andai engkau benar-benar mencintai-Nya,  tentu engkau akan mematuhi-Nya. Sebab, sang pecinta akan taat keada siapa yang dicintainya

Ketika seorang hamba telah membersihkan diri dari cinta kepada yang lain, kemudian hatinya menyaksikan Allah semata, disertai dengan perasaan cinta dan takut kepada-Nya, ketika itulah ia layak menghadap dan bermunajat kepada Allah dengan beragam bentuk hubungan yang bisa dilakukannya, baik dengan shalat, zikir, doa atau membaca Al-Qur’an. Dengan begitu, dia dapat sampai (wushul) kepada Al-Haqq.” (Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Taj al-‘Arus, syarah oleh Dr. Muhammad Najdat). 

4). MERAIH CINTA DAN CAHAYA ILAHI

Rasulullah Saw. pernah bersabda, manusia tidak akan merasakan manisnya iman dan lezatnya keyakinan, apabila tidak bisa merasakan hangatnya cinta dan cahaya-Nya. Beliau bersabda, ‘Ada tiga perkara apabila di dalam dirinya terdapat ketiga perkara itu, berarti ia telah merasakan manisnya iman, yaitu: Hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya daripada yang lainnya. Hendaknya ia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan hendaklah ia benci kembali kepada kekafiran seperti ia benci dilemparkan ke dalam api neraka,’ (HR Bukhari). Makna dari cinta Ilahi adalah cinta yang didasarkan pada kecintaan dari dan untuk Allah Swt. semata. Ia akan mengangkat pemiliknya kepada derajat yang luar biasa, yang kelak di hari ketakutan, berpasang-pasang mata akan melihatnya. 

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat manusia-manusia yang bukan nabi juga bukan para syuhada, tapi para nabi dan syuhada sendiri menginginkan keadaan seperti mereka”. Seorang lelaki bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah mereka dan apakah amalan mereka, agar kita dapat mencintai mereka."

Rasulullah Saw. menjawab, "Yaitu kaum yang saling mencintai dengan ruh Allah Azza Wa Jalla. Di antara mereka tidak ada hubungan keluarga, dan tidak pula saling memberi harta. Demi Allah! Wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka di atas panggung cahaya. Mereka tidak takut di saat manusia lainnya merasa takut, dan tidak merasa resah di waktu manusia lainnya resah”. (Kitab Nashaihul Ibad, Imam Nawawi Al Bantani). 

5). ALLAH TAK TERHIJAB OLEH APA PUN

“Al-Haqq (Allah) tidak terhijab. Engkaulah yang terhijab dari melihat-Nya. Seandainya ada sesuatu yang menghalangi Allah, tentu sesuatu itu akan menutupi-Nya. Dan, seandainya ada tutup bagi-Nya, tentu ada batasan bagi wujud-Nya. Sesuatu yang membatasi tentu menguasai yang dibatasi, padahal, “Allah Maha Berkuasa atas semua hamba-Nya”. (Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam).

Syekh Abdullah Asy-Syarqawi menjelaskan bahwa terhijab itu bukan sifat Allah, yang terhijab hanyalah dirimu sendiri. Jika engkau ingin sampai kepada-Nya, kau harus mencari dan mengobati semua kekuranganmu, niscaya kau akan sampai kepada-Nya dan melihat-Nya dengan mata batinmu.

Hikmah di atas menepis anggapan yang menyatakan bahwa tidak mustahil Allah terhalang oleh hijab, karena hijab biasa digunakan oleh para pembesar atau raja untuk memperlihatkan keagungan dan kemuliaannya. Jawaban atas anggapan ini adalah, seandainya Allah terhijab oleh sesuatu, seperti halnya para raja, niscaya Allah terkurung di dalam hijab itu, terpenjara dan terbatas ruang geraknya. Maka, tentu saja hal itu mustahil terjadi pada Allah. Hal ini berdasarkan firman-Nya, “Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya dan Dialah yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui,” (QS Al-An’am [6]: 18) (Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam, dengan syarah oleh Syekh Abdullah Asy-Syarqawi). 

6). CINTA & BENCI SESUAI UKURAN ALLAH DAN RASULNYA

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Jika engkau menemukan dalam hatimu ada kebencian kepada seseorang atau mungkin kecintaan kepadanya, maka palingkanlah seluruh perbuatannya berdasarkan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah. Jika seluruh perbuatannya dibenci menurut ukuran Al-Qur’an dan Sunnah, maka bergembiralah, sebab engkau telah menyesuaikan diri dengan Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Dan, jika amal orang tersebut dicintai Allah dan Rasulnya, sedangkan engkau membencinya, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya engkau adalah orang yang mengikuti hawa nafsu. Bertobatlah kepada Allah dari kebencianmu itu, mintalah kepada Allah agar engkau dapat mencintai orang tersebut. Mintalah kepada Allah agar engkau dapat mengenali dan mencintai kekasih-kekasih Allah, wali-wali Allah, dan orang-orang shaleh yang disucikan-Nya, agar engkau dapat menyesuaikan dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya.

Engkau harus menyandarkan amal dan perbuatanmu kepada Al-Qur’an dan Sunnah, dan bersesuaian menurut garis panduan keduanya. Sebaliknya, jika amalnya dibenci oleh Al-Quran dan Sunnah, maka bencilah ia, agar engkau tidak mencintai hawa nafsu. Sungguh engkau telah diperintahkan untuk menentang hawa nafsumu sendiri.

Allah SWT berfirman, “Hai Dawud! Sesungguhnya Kami menjadikan engkau khalifah (penguasa) di muka bumi. Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil, dan janganlah mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang berat, karena mereka melupakan Hari Perhitungan.” (QS Shad: 26). (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Futhul Ghaib).

No comments:

Post a Comment