Thursday, March 17, 2016

ENAM NASIHAT YAHYA BIN MU’ADZ AR-RAZI

Yahya bin Mu’adz Ar-Razi berkata:

1. “Ilmu itu pembimbing amal.
2. Pemahaman itu wadahnya ilmu.
3. Akal itu penuntun kepada kebaikan.
4. Hawa nafsu itu kendaraan dosa.
5. Harta itu pakaian orang-orang yang takabbur.
6. Dunia itu pasarnya akhirat.”

Rasulullah SAW bersabda: 

مَنْ أَخَذَ مِنَ الدُّنْيَا مِنَ الْحَلَالِ حَاسَبَهُ اللهُ وَمِنْ أَخَذَ مِنَ الدُّنْيَا مِنَ الْحَرَامِ عَذَّبَهُ اللهُ

“Barang siapa mengambil dunia dengan cara yang halal, maka Allah pasti akan menghisabnya. Barang siapa mengambil dunia dengan cara yang haram, maka Allah pasti akan menyiksanya.” (HR. Hakim)

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذِهِ الدُّنْيَا دَارُ الْتِوَاءٍ لَا دَارُ اسْتِوَاءٍ وَمَنْزِلِ تَرَحٍ لَا مَنْزِلِ فَرَحٍ فَمَنْ عَرَفَهَا لَمْ يَفْرَحْ لِرَخَاءٍ وَلَمْ يَحْزَنْ لِشِدَّةٍ أَلَا وَإِنَّ اللهَ خَلَقَ الدُّنْيَا دَارَ بَلْوَى وَالْآخِرَةَ دَارَ عُقْبَى فَجَعَلَ بَلْوَى الدُّنْيَا لِثَوَابِ الآخِرَةِ وَثَوَابَ الآخِرَةِ مِنْ بَلْوَى الدُّنْيَا عِوَضًا فَيَأْخُذَ لِيُعْطِىَ وَيَبْتَلِىَ لِيَجْزِىَ فَاحْذَرُوْا حَلَاوَةَ رِضَاعِهَا لِمِرَارَةِ فِطَامِهَا وَاهْجُرُوْا لَذِيْذَ عَاجِلِهَا لِكُرْبَةِ آجِلِهَا وَلَا تَسْعَوْا فِى عُمْرَانِ دَاٍر قَدْ قَضَى اللهُ خَرَابَهَا وَلَا تُوَاصِلُوْهَا وَقَدْ أَرَادَ مِنْكُمْ اجْتِنَابَهَا فَتَكُوْنُوْا لِسُخْطِهِ مُتَعَرِّضِيْنَ وَلِعُقُوْبَتِهِ مُسْتَحِقَّيْنَ

“Wahai manusia, dunia ini adalah tempat yang terjal, bukan tempat yang rata. Dunia ini tempat kesusahan, bukan tempat untuk bersenang-senang. Maka barang siapa benar-benar mengetahui dunia, tentu ia tidak akan gembira dengan kesenangannya dan tidak akan bersedih dengan kesusahannya.

Ketahuilah, Allah menciptakan dunia ini sebagai tempat ujian, sedangkan akhirat merupakan tempat kebaikan (bagi orang yang bertakwa).Allah menjadikan bencana dunia sebagai sarana untuk meraih pahala akhirat sebagai ganti dari bencana dunia (bila sabar menghadapinya). Dia mengambil (nikmat duniawi dari seseorang) dengan maksud untuk memberinya (ganti di akhirat) dan memberinya cobaan dengan maksud untuk memberinya pahala.

Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap manisnya dunia, sebab terputus darinya terasa pahit; jauhilah kelezatannya yang sesaat, sebab kesedihannya terasa lama; dan janganlah engkau terlalu memakmurkan dunia yang telah Allah tetapkan kesirnaannya.

Janganlah terlalu bergantung kepada dunia, sebab Allah telah menghendaki engkau untuk menjauhinya. Jika engkau tetap melakukannya (bergantung kepada dunia), maka engkau termasuk mereka yang akan mendapat murka-Nya dan berhak mendapat siksa-Nya.” (HR. Dailami). (Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nasha’ihul ‘Ibad).

No comments:

Post a Comment