Thursday, March 17, 2016

MEMBURU SYAFAAT RASULULLAH

Anas bin Malik telah menyampaikan sebuah kabar dari Nabi Muhammad mengenai syafaat Allah yang dikejar kaum beriman di akhirat kelak. Pada saat seluruh manusia dibangkitkan nanti, hari-hari akan terasa sangat panjang bagi manusia. Oleh karena itu, sebagian mereka menyeru temannya yang lain, “Mari kita temui Adam, nenek-moyang kita, agar dia memohonkan syafaat kepada Tuhan kita, sehingga Tuhan memberi keputusan yang baik untuk kita.”

“Mohonlah kepada Tuhanmu agar Dia memberi syafaat untuk kami,” kata mereka kepada Nabi Adam a.s. “Sungguh, aku tak sanggup menolong kalian, tapi pergilah kalian kepada Nuh, pemimpin para nabi itu,” jawab Adam. Maka mereka pun pergi menemui Nuh untuk meminta syafaat darinya, karena Adam tak mampu memberi banyak harapan. Lalu berkata, “Hai Nuh, mohonlah kepada Tuhan-mu, agar Dia memberi syafaat untuk kami”. Ternyata Nuh pun tak mampu berbuat banyak. Dia sama seperti Adam, tak sanggup menolong manusia dari keputusan Tuhan. “Sungguh, aku tidak sanggup menolong kalian, tapi datanglah kalian kepada Ibrahim, Nabi dan Khalilullah itu,” kata Nuh a.s.

Apa boleh buat, mereka harus mencoba anjuran Nabi Nuh a.s. Jika tidak, mereka akan menanggung siksa itu berkepanjangan. Mereka pun pergi menemui Ibrahim. “Hai Ibrahim, mohonlah kepada Tuhan-mu, agar Dia memberi syafaat untuk kami,” pinta mereka. “Sungguh, aku tidak sanggup menolong kalian, tapi datanglah kalian kepada Musa, Kalimullah yang telah dipilih oleh-Nya untuk menyampaikan risalah-risalah dan firman-firman-Nya,” jawab Nabi Ibrahim a.s.

Nabi Adam, Nuh dan Ibrahim, tak mampu berbuat apa-apa. Kini pilihan jatuh pada Nabi Musa a.s., sesuai anjuran Ibrahim a.s. Lalu, mereka pun segera pergi menemui Musa. “Hai Musa, mohonlah kepada Tuhanmu, agar Dia memberi syafaat untuk kami,” teriak mereka kepada Musa a.s. Namun, seperti nabi-nabi sebelumnya, sang Bapak para nabi ini pun menjawab, “Sungguh, aku tidak sanggup menolong kalian, tapi datanglah kalian kepada Isa, Ruh dan Kalimat Allah itu.” Untuk kesekian kalinya, kumpulan manusia ini pergi mencari siapa yang dapat menolong mereka.  Kali ini, mereka harus menemui Nabi Isa a.s. ”Hai Isa, mohonlah kepada Tuhan-mu, agar Dia memberi syafaat untuk kami,”kata mereka kepada Nabi Isa. Ternyata Nabi Isa a.s. pun memberi jawaban yang sama, “Sungguh, aku tidak sanggup menolong kalian, tapi datanglah kalian kepada Muhammad. Sesungguhnya dia adalah penutup para Nabi, dan telah diampuni dosa-dosanya yang dulu maupun yang terakhir,”kata Nabi Isa a.s.

“Tahukah kalian, kalau suatu barang dimasukkan ke dalam suatu bejana tertutup, dapatkah seseorang mengambil barang itu sebelum membuka tutupnya?” kata Isa lagi. “Tidak!” jawab mereka serentak. “Sesungguhnya Muhammad adalah penutup para Nabi,” kata Isa. Seperti juga diakui Rasulullah Saw., mereka lalu datang menemuinya untuk meminta pertolongan. “Hai Muhammad, mohonlah kepada Tuhanmu, agar Dia memberi syafaat untuk kami.”

“Ya,” jawab Nabi.

Lalu Rasulullah Saw. pergi ke pintu surga. Gelang-gelang pintunya aku pegang seraya meminta dibukakan. Maka terdengarlah pertanyaan, ”Siapa kamu?” Lalu, Rsul menjawab, “Aku, Muhammad”. Maka pintu surga pun dibuka. Muhammad bersujud memuji Tuhannya dengan pujian yang tidak pernah dipanjatkan oleh siapa pun, baik sebelum maupun sesudahnya. Maka Allah berfirman, “Angkatlah kepalamu! Katakanlah, niscaya perkataanmu didengar. Mintalah, niscaya kamu diberi. Sampaikan syafaatmu, niscaya syafatamu diterima!”

“Umatku, umatku,” kata Nabi Muhammad Saw. kepada Allah Swt. Maka Allah berfirman, “Keluarkan dari neraka siapa pun yang dalam hatinya ada keimanan, walau hanya seberat zarrah sekalipun.” Rasulullah Saw. pun mengeluarkan mereka, kemudian merebahkan dirinya, bersujud kepada Allah Swt. Di sebuah danau indah, Nabi Muhammad menebarkan syafaat Allah kepada para pengikut setianya. Bila Anda pernah berkunjung ke danau, maka danau Nabi ini jauh lebih indah. Air danau itu berwarna putih, lebih putih dari air susu.

Wanginya memanjakan hidung, lebih wangi dari semua jenis parfum mahal yang biasa dipakai orang paling kaya di dunia. Sekali menempel di tubuh, beribu-ribu tahun wanginya tak akan hilang. Gelas-gelas pesta lengkap tersedia. Banyak sekali jumlahnya, memantulkan cahaya, kerlap-kerlip seperti bintang di malam hari. Di atasnya ada air terjun, jatuh ke danau. Setiapkali meminum airnya, tak pernah ada rasa dahaga sesudahnya. Rasanya manis, lebih manis dari madu. Inilah tempat pesta terindah bagi orang-orang beriman. Dari tempat inilah, Nabi akan melembaikan tangannya, mengundang umatnya untuk bergabung dalam pesta bertabur syafaat. 

Di danau itu Nabi menunggu saat tibanya pengadilan Tuhan, terasa begitu menyenangkan. Ada juga beberapa orang yang mencoba masuk ke danau ini, tapi sayang, para Malaikat menghadangnya. Nabi kaget, mengapa mereka dihadang, tidak bisa masuk. Padahal, Nabi sungguh mengenal mereka dan mereka pun mengenal Nabi. Sehingga Nabi pun bertanya, “Ya Tuhanku, mereka adalah pengikutku, mereka adalah umatku.” 

Tapi Allah menjawab, “Sesungguhnya kamu tidak tahu apa yang telah mereka perbuat sepeninggalmu. Mereka telah murtad.” Malang nian mereka yang tidak konsisten menjalankan syariat Islam, pengikut Muhammad yang tak mampu mendapatkan syafaatnya. Untuk menghindari peristiwa itu, Rasul meminta umatnya untuk mempersiapkan diri menghadapi pengadilan Tuhan di Akhirat. Sebelum datang kematian, sebelum datang kiamat, Nabi berpesan, "Sesungguhnya aku menunggu (kedatangan) kamu sekalian di telaga. Barangsiapa melewati, dia pasti minum. Dan, barangsiapa minum, maka dia tidak akan dahaga selamanya. Sesungguhnya akan ada beberapa kaum yang ditolak (dari telaga itu), aku kenal mereka, dan mereka pun kenal aku. Kemudian terhalanglah antara aku dan mereka.”

“Telagaku seluas perjalanan satu bulan. Airnya lebih putih dari susu, baunya lebih harum dari minyak kesturi, cawan-cawannya sebanyak bintang-bintang di langit. Barangsiapa meminum dari telaga itu, maka dia tidak akan dahaga selamanya," sabda Nabi. (Dikutip dari Kitab Durratun-Nashihin). 

No comments:

Post a Comment