Sunday, March 13, 2016

JANGAN REMEHKAN TOBAT

Allah SWT berfirman:  “Wahai anak Adam! Janganlah engkau menjadi orang yang meremehkan tobat, panjang angan-angan, mengharap akhirat tanpa mau beramal, berbicara seperti orang-orang ahli ibadah, tapi engkau beramal seperti orang-orang munafik. Jika diberi tidak pernah puas, dan jika tidak diberi tak bisa bersabar.

Menyeru kepada kebaikan, tapi dia sendiri tak mengamalkan. Mencegah kejahatan, tapi dia sendiri terus melakukannya. Mencintai orang saleh, sementara dia sendiri bukan termasuk golongan mereka. Membenci orang-orang munafik, tapi dia sendiri termasuk golongan mereka. Mengatakan sesuatu yang tidak dia kerjakan dan mengerjakan yang tidak pernah diperintahkan. Dan, memerintahkan orang lain untuk memenuhi hak, padahal dia sendiri tidak pernah memenuhinya.

Wahai anak Adam!  Tiap kali hari berganti, maka bumi berbicara kepadamu: ‘Wahai anak manusia! Engkau berjalan di atas punggungku, lalu kau akan dikubur di dalam perutku. Kau mengumbar syahwat di atas punggungku, lalu ulat-ulat akan melahapmu di dalam perutku.

Wahai anak Adam! Aku (bumi) ini rumah buas menyeramkan, rumah tempat kau dihujani pertanyaan-pertanyaan (malaikat Munkar-Nakir), rumah bagi kesendirianmu, rumah kegelapan, rumah ular dan kalajengking, maka makmurkanlah aku, jangan engkau rusak!’”

(Kitab Al-Mawaizh fi Al-Ahadis Al-Qudsiyah, Imam Al-Ghazali).

PESAN SUCI SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Bagi orang-orang yang benar-benar jujur (shadiq), dia tidak dapat bergerak ke belakang. Dia selalu bergerak ke depan. Dia hanya memiliki depan, tanpa belakang. Dia tak pernah berhenti berprilaku jujur dan ikhlas sehingga setitik debunya menjadi gunung, setetes airnya menjadi lautan, jatahnya yang kecil menjadi sangat besar, lampunya menjadi matahari, dan bungkusnya menjadi isi.

Jika engkau beruntung bertemu dengan seseorang yang benar-benar jujur seperti itu, maka engkau harus selalu dekat dengannya kemanapun ia membawamu. Jika engkau beruntung bertemu dengan seseorang yang mempunyai obat untuk menyembuhkan penyakitmu, maka engkau harus mendekatinya sepanjang waktu. Jika engkau cukup beruntung bertemu dengan seseorang yang bisa menunjukkan kepadamu bagaimana cara menemukan kembali kesempatan yang telah engkau sia-siakan pada sesuatu yang tak lebih baik daripada sampah, maka engkau harus mendekatinya—benar-benar dekat!

Tapi, boleh jadi, engkau tak akan pernah mengenal orang-orang yang seperti itu, sebab mereka tak lebih dari segelintir manusia yang langka. Bungkus luarnya mungkin banyak, tetapi isinya hanya sedikit. Cangkangnya mungkin berada di tempat-tempat pembuangan sampah umum, tetapi isinya berada di gudang pribadi sang pemilik tanah. Setiap kali hati diisi dengan hal-hal duniawi, syahwat, hawa nafsu badani, maka hati itu akan menjadi hanya sekadar cangkang, yang tak akan cocok untuk tujuan apa pun di luar dunia yang rendah ini. Selama engkau masih menemukan dalam hatimu sifat dan perbuatan kotoran makhluk, maka engkau akan merasa menderita karena hukuman.

Allah SWT berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka, dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Pemberi rezeki, Yang Mahakuat lagi Mahakokoh.” (QS Adzariyat: 56-58). (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir). 

EMPAT PENGAKUAN DUSTA

Hatim Al-Asham pernah berkata: “Barang siapa mengakui empat hal tanpa ada empat hal yang lain, maka pengakuannya itu adalah dusta, yaitu:

1) Barang siapa mengaku cinta kepada Allah, sementara ia tidak berhenti melakukan kemaksiatan dan hal-hal yang tidak diharamkan Allah, maka pengakuannyaa itu dusta.

2) Barang siapa mengaku kepada Rasulullah saw namun benci kaum fakir miskin, maka pengaakuannya itu dusta.

3) Barang siapa mengaku cinta kepada surga, sementara ia tidak bershadaqah, maka pengakuannya itu dusta.

4) Barang siapa mengaku takut akan siksa neraka, sementara ia tidak berhenti dari berbuat dosa, maka pengakuannya itu dusta.”

Rasulullah saw bersabda: 

حُجِبَتْ النَّارُ بِالشَّهْوَاتِ وَ حُجِبَتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

“Jalan menuju neraka itu diliputi dengan hal-hal yang disenangi hawa nafsu, sedang jalan menuju ke surga diliputi dengan hal-hal yang dibenci hawa nafsu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan kata lain, surga tidak dapat diraih kecuali dengan menempuh berbagai kesulitan dan neraka tidak dapat dimasuki kecuali dengan menuruti hawa nafsu. Siapa pun yang dapat menerobos penghalang salah satu dari keduanya pasti akan memasukinya. (Kitab Nashaihul Ibad, Imam Nawawi Al-Bantani).

No comments:

Post a Comment