Sunday, March 13, 2016

MENGINGAT KEMATIAN DI RINDU ALAM

Alhamdulillah, pada 12 Januari lalu, saya berkesempatan untuk berziarah kubur dan mengikuti rangkaian acara Maulid dan Haul Syekh Ibnu Mas'ud (Abah Didi), di Perguruan Al-Mas'udiyah, Rindu Alam, Nyalindung, Sukabumi. Saya hanyalah satu di antara ribuan jamaah yang larut dalam lantunan zikir, tahlil, tahmid, dan shalawat Nabi, yang ikut mengenang, bertabaruk, bertawasul, dan belajar tentang hakikat hidup dari seorang Guru Sufi, Allahu yarham Abah Didi. Saya tak mampu menjelaskan mengapa harus datang ke tempat ini, tempat terpencil, di lereng bukit, di tepi sebuah curug, di atas sebuah gua, nun jauh disana. Saya hanya mampu mengatakan, "Ini adalah tarikan ruhani yang tidak aku mengerti dan tak perlu penjelasan apa pun.”

Jam 11.00 malam, saya sampai di tempat itu, setelah 8 jam perjalanan dari Jakarta yang melelahkan. Namun, suguhan zikir para jamaah itu menyadarkan aku tentang pentingnya mengenal diri dan kematian. Nasihat ruhani KH Abdul Halim dari Al-Musyaddadiyah Garut dalam majelis itu telah mengingatkan aku tentang arti kerinduan sejati seorang hamba kepada Sang Khaliq.

Guru ruhani memang tak pernah mati. Ia selalu hadir mengajarkan makna-makna batin meski melalui diam dan sepi dari alam yang tak mudah kita mengerti. Ratusan anak yatim, santri, dan ribuan jamaah di tempat itu adalah bukti tarikan ruhani seorang guru untuk mengingat tentang jalan kembali.

Di tempat indah dan asri bernama Rindu Alam ini, saya telah belajar tentang makna kematian dan cara memahami makna kerinduan kepada Sang Kekasih.

Pesan dan ajaran ruhani Abah Didi tentang kepedulian kepada sesama, pemeliharaan anak yatim, penguatan bangunan keluarga dan masyarakat, pendidikan ruhani dan kecintaan pada alam, masih begitu jelas terlihat jejak-jejaknya di Perguruan Al-Mas'udiyah, Rindu Alam ini.

Di tengah Zikir Wida pada Kamis pagi itu, saya semakin jelas menangkap pesan Imam Al-Ghazali dalam Dzikrul-Maut. Seolah pesan itu begitu jelas terasa. Imam Al-Ghazali mengatakan: “Ketahuilah, sungguh, orang yang tenggelam dalam urusan duniawi yang penuh dengan tipu daya, dan mencintai kesenangan-kesenangannya, pasti kalbunya akan lalai untuk mengingat kematian. Akibatnya, jika diingatkan tentang kematian, ia justru tidak suka, bahkan membencinya."

Menurut Imam Al-Ghazali, mereka ini, persis seperti orang yang disindir dalam Al-Qur’an: ”Katakanlah: ‘Sesungguhnya maut yang kalian lari darinya pasti akan menjumpai kalian, lalu kalian semua akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui segala yang gaib dan nyata. Kemudian, Dia akan memberitahukan kepada kalian apa-apa yang kalian lakukan.” (QS Al-Jumuah: 8).

Paling tidak, kehadiranku di Rindu Alam adalah caraku untuk re-charge energi agar mampu berusaha mendekat dan mendekat kepada Allah bersama dengan orang-orang shaleh yang memiliki kerinduan kepada Allah dan kekasih-kekasih-Nya. Acara haul Sang Tokoh bukan sekadar silaturahmi dan reuni, tapi lebih dari itu. Ia adalah cara untuk belajar mengenali diri dan tujuan hidup seorang hamba agar mampu menemukan jalan kembali, agar kita tak termasuk orang lalai, serta mampu mengenali jalan pertemuan kepada Allah, Sang Kekasih Sejati.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Zikir al-Maut wa Ba’dahu, Ihya Ulumuddin menjelaskan, manusia pada dasarnya terbagi menjadi 3 golongan, yakni: orang yang tenggelam dalam urusan duniawi, orang yang bertobat, dan orang yang telah mencapai maqam ‘arif.

Pertama: Orang yang tenggelam dalam urusan duniawi tidak akan ingat tentang kematian. Dan, kalaupun dia mengingatnya, pasti ia lakukan sambil mengingat dunianya. Ini akan membuatnya semakin jauh dari Allah.

Kedua: Orang yang bertobat itu akan memperbanyak mengingat kematian, sehingga dalam kalbunya lahir rasa takut dan gentar. Hal ini akan semakin menguatkan kesempurnaan tobatnya. Boleh jadi, dia merasa takut pada datangnya kematian, tapi hal tersebut lebih didorong oleh rasa takut bahwa kematian itu akan datang di saat tobatnya dirasakan belum sempurna, dan bekalnya untuk kehidupan akhirat belum cukup. Rasa takut mati pada orang seperti itu masih bisa dimaklumi, dan dia tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang disebut dalam sabda Rasulullah, “Barangsiapa tidak suka bertemu dengan Allah, maka Allah pun tidak suka bertemu dengannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Orang-orang seperti ini sebenarnya tidak membenci pertemuan dengan maut atau pertemuan dengan Allah. Tapi, dia hanya takut jangan-jangan dia bertemu dengan Allah dalam keadaan yang kurang sempurna dan lalai. Dia laksana orang yang terlambat bertemu dengan kekasihnya, karena sibuk mempersiapkan diri supaya pertemuan itu mendatangkan kecintaan sang kekasih. Jadi, dia tidak bisa dianggap keberatan terhadap pertemuan tersebut. Ciri khas orang yang bertobat adalah fokus pada persiapan untuk pertemuan dengan Rabb-nya dan mengurangi perhatian kepada hal-hal yang lain. Kalau tidak seperti itu, berarti dia termasuk orang yang tenggelam dalam urusan duniawi semata.

Ketiga: Orang yang ‘Arif adalah orang yang selalu mengingat kematian, karena baginya kematian adalah saat bertemu dengan Sang Kekasih. Dan, orang yang telah dimabuk cinta tak akan pernah lupa dengan janji bertemu dengan orang yang dicintainya. Orang seperti itu biasanya merasakan datangnya kematian begitu lambat, dan dia sangat gembira saat kematian datang. Sebab, dengan begitu dia bisa segera meninggalkan dunia, tempat tinggal orang-orang durhaka. Dia lebih memilih untuk berada di sisi Rabb semesta alam.

Hal ini seperti hadis yang diriwayatkan oleh Hudzaifah. Menjelang kematiannya, Hudzaifah-Al-Yamani mengatakan: “Sang Kekasih datang kepada orang yang papa (lemah). Dan, tidaklah beruntung orang yang baru menyesal pada saat seperti itu. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa miskin lebih aku sukai daripada kaya, sakit lebih aku sukai daripada sehat, dan mati lebih aku sukai daripada hidup, tolong mudahkanlah kematianku supaya aku bisa segera bertemu dengan-Mu.”

No comments:

Post a Comment