Saturday, March 5, 2016

JEJAK CINTA SEORANG HAMBA

Abu Bakar Asy-Syibli menceritakan: Aku berjumpa dengan seorang perempuan yang berasal dari Habsyah yang tampak linglung tak tentu arah. Dia berlari-lari dan berjalan cepat tak tahu tujuan. Lalu, kukatakan kepadanya, “Wahai Ibu, kasihanilah dirimu!” Tiba-tiba dia menjawab, “Huwa (Dia).” “Darimana engkau sebenarnya?” tanyaku. “Dari Huwa (Dia).” “Engkau mau pergi kemana?” “Pergi ke Dia.” “Apa yang kau inginkan dari Dia?” “Dia.” 

Akhirnya, aku bertanya, “Berapa kali engkau menyebut Dia?” “Lidahku tak pernah lelah menyebut Dia (Huwa) sampai aku bertemu dengan Dia,” jawabnya tegas. Lalu, tiba-tiba dia bersenandung,  “Kehormatan cintaku kepada-Mu tak tergantikan. Hanya Engkau yang kutuju; tidak ada yang lainnya. Aku tergila-gila kepada-Mu, meski mereka menganggapku sakit. Kujawab bahwa sakit ini tak pernah lenyap dari diriku.” 

Kemudian, Abu Bakar Asy-Syibli mengatakan kepada perempuan itu: “Wahai hamba Allah, apakah yang engkau maksud dengan Dia (Huwa)? Apakah Allah? Tiba-tiba, mendengar kata “Allah” disebut oleh Asy-Syibli di depannya, nafasnya langsung tersengal-sengal, lalu ia secara mengejutkan meninggal dunia sejurus setelah itu. 

Abu Bakar Asy-Syibli pun bercerita bahwa ketika dirinya hendak mengurus jenazah wanita tersebut, tiba-tiba dia mendengar suara, “Wahai Asy-Syibli, barang siapa mabuk cinta kepada Kami, linglung mencari Kami, lalu terus berdzikir mengingat Kami, serta meninggal dengan nama Kami, biarkanlah dia kepada Kami! Pengurusan (jenazahnya) menjadi kewajiban Kami!” 

Lalu, segera saja Asy-Syibli menoleh ke arah suara itu. “Aku menoleh ke sumber suara itu, tapi aku tak melihat siapa pun. Aku terhijab. Aku pun tak tahu apakah wanita tersebut diangkat atau dikubur. Wanita itu mendadak hilang. Semoga Allah mengampuninya”. (Dikutip dari kitab Al-Qashd Al-Mujarrad fi Ma’rifat al-Ism Al-Mufrad karya Ibnu Atha’illah). 

WASIAT ABU BAKAR TENTANG KEMATIAN

Abu Bakar Ash-Shiddiq berwasiat: “Kebenaran itu berat, tetapi menyenangkan. Sebaliknya, kebatilan itu ringan, tetapi menyengsarakan. Jika engkau menjaga wasiatku ini, maka tidak ada yang lebih engkau cintai dibandingkan kematian yang sudah pasti mengenalmu. Namun, jika kau abaikan wasiatku ini, niscaya tidak ada yang lebih kau benci dibandingkan dengan kematian itu. Meskipun sudah dipastikan bahwa kau tak akan sanggup menghentikannya”. (Imam Al-Ghazali dalam Kitab Al-Mahabbah wa al-Syawq wa al-Uns wa al-Ridha). 

No comments:

Post a Comment