Sunday, March 27, 2016

TAFSIRAN SURAH AL-MAIDAH AYAT 51

Tidak ada yang lebih paham bagaimana menafsirkan Al-Quran surah Al-Maidah ayat 53 lebih dari Umar bin Khattab r.a. “Suatu hari Umar bin Khattab r.a memerintahkan Abu Musa Al Asy’ari r.a untuk segera menunjuk pemimpin kepercayaan untuk pencatat pengeluaran dan pemasukan pemerintah Islam di Syam”. Abu Musa lalu menunjuk seorang yang beragama Nasrani dan Abu Musa pun mengangkatnya untuk mengerjakan tugas tadi.

Umar bin Khathab pun kagum dengan hasil pekerjaannya. Lalu Umar berkata: ‘Hasil kerja orang ini bagus, bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk rapat melaporkan laporan di depan kami?’. Abu Musa menjawab: ‘Ia tidak bisa masuk ke tanah Haram (Mekkah dan Madinah)’. Umar bertanya: ‘Kenapa? Apa karena ia junub?’. Abu Musa menjawab: ‘Bukan, karena ia seorang Nasrani’.

Umar pun langsung marah, menegurku keras dan memukul pahaku dan berkata: ‘Pecat dia! cari dan angkat seorang muslim”. (maksud Umar; 'apa tidak ada muslim lain yang lebih baik, pasti Allah SWT telah menyediakan banyak calon pemimpin muslim yang lebih baik untuk umat', cari sampai ketemu).

Umar lalu membacakan ayat: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengangkat orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengangkat mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka (kafir). Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim‘”.(QS. Al-Maidah ayat : 51). (Tafsir. Ibnu Katsir, 3/132)

2). KEINDAHAN DUNIA TAK SEINDAH ALLAH 

Sebuah ketulusan seorang hamba mencintai Tuhannya adalah sebuah karunia kebahagiaan yang terdahsyat begitu indah bagaikan seorang manusia tidak ingin berjauhan dengan kekasihnya tanpa jarak selalu ingin berdekatan dengan Allah azza wa Jalla. Ketika seorang hamba telah lebur bersama Tuhannya maka dia tidak akan mencintai selain Allah di kehidupan dunia ini, hati mereka berpaling dari hal-hal keduniawian karena bagi mereka tidak ada keindahan lain didunia ini yang mampu melebihi suatu keindahan rasa cinta terhadap Tuhannya .

3). MAHAR CINTA UNTUKMU

Al-Fudhail bin Iyadh suatu ketika memegang tangan Al-Husain bin Ziyad, lalu berkata, ”Wahai Husain, Allah SWT turun setiap malam ke langit dunia, kemudian berfirman: ’Berdusta orang yang menganggap dirinya kekasih-Ku tetapi ketika malam telah gelap ia tidur meninggalkan-Ku. Bukankah setiap orang yang bercinta akan menyendiri dengan kekasihnya? Inilah Aku, muncul menemui kekasih-Ku apabila malam telah gelap. Besok Aku akan menyejukkan mata kekasih-Ku di surga.”

Rasulullahlah yang mengatakan, Allah SWT akan tersenyum dan merasa senang kepada orang yang mengerjakan qiyamul lail. Diriwayatkan dari Abu Darda r.a., ia mengatakan Rasulullah Saw. pernah bersabda, ”Ada tiga macam kelompok manusia, Allah suka kepada mereka, tersenyum dan merasa senang terhadap mereka. Yaitu, orang yang ketika muncul sekelompok orang ia ikut berperang dengan jiwanya di belakangnya karena Allah Azza wa Jalla. Mungkin saja ia terbunuh atau dimenangkan oleh Allah dan Dia mencegahnya dari pembunuhan. Allah berfirman, ”Lihatlah hamba-Ku ini, betapa ia telah sabar dengan jiwanya karena Aku.”

Kedua, orang yang memiliki istri cantik atau memiliki tempat tidur yang lembut dan bagus, kemudian ia bangun untuk shalat malam, Allah berfirman, ”Ia meninggalkan kesenangan dan mengingat-Ku. Andaikan ia berkehendak ia akan tidur.”

Ketiga, orang yang sedang bepergian, bersamanya orang-orang yang berkendaraan. Mereka terjaga kemudian tidur, tetapi ia (sendiri) bangun (untuk shalat) pada akhir malam, dalam keadaan susah dan senang,” (HR Thabrani).

Orang yang memperoleh senyuman Allah tidak akan pernah mendapatkan siksa. Nabi Saw. bersabda, ”Apabila Allah tersenyum pada seorang hamba, maka ia tidak akan dihisab,” (HR Ahmad dan Abu Ya’la). Asyiknya lagi, Allah akan memberi ganti kepada orang yang mengerjakan qiyamul lail (yang telah meninggalkan istrinya) dengan menggantinya dengan istri-istri bidadari yang banyak di surga.

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin meriwayatkan bahwa Azhar bin Tsabit At-Taghlibi berkata, ”Ayahku termasuk orang yang selalu bangun pada pekatnya kegelapan malam untuk berdiri menghadap Allah. Ayahku pernah mengatakan: ’ Dalam mimpi aku pernah melihat seorang wanita yang tidak seperti wanita di dunia ini. Aku berkata kepadanya, ’Siapakah kamu?’ Ia menjawab, ’Aku adalah bidadari, hamba wanita Allah.’ Aku berkata kepadanya, ’Menikahlah engkau denganku.’ Ia menjawab, ’Pinanglah aku kepada Tuhanku dan berikan mahar kepadaku.’ Aku bertanya kepadanya, ’Apa mahar untukmu?’ Ia menjawab, ’Shalat tahajud yang lama.”

No comments:

Post a Comment