Sunday, June 5, 2016

PENGENALAN DALAM DIRI

Sesungguhnya "DIRI" yang menjadi "DIRI" dalam "KE-AKU-AN DIRI" di setiap pribadi "DIRI" itu berada dalam kejujuran rasa percaya dan yakin, bahwa dia berasal dari "ALLAH DZAT" Yang Maha Sempurna dengan segala "SIFAT, ASMA dan AF'AL" yang berpangkat "TUHAN DIRI" adalah suatu hubungan yang paling hakiki antara "DIRI" pribadi dengan "TUHAN-NYA" , 

Yang telah ada sejak bermula adanya "DIRI", dan hubungan itu berada dalam wilayah "SIFAT TUHAN" itu sendiri, karena DIRI berasal berasal dari asalnya "DIRI", maka……!!! "DIRI" telah membawa sifat dari asalnya diri yaitu kandungan "SIFAT ALLAH" itu sendiri. Jika kata "DIRI" hanya sebuah kata atau sebutan, maka……!!! yang di sebut "DIRI" tiada lain adalah "SIFAT" , Jika pengertian "DIRI" di artikan sama dengan pengertian "JIWA" atau "SUKMA" yang mendekati pengertian "RUH" , maka……!!! seluruh pengertian itu akan mengarah pada penunjukan keberadaan "SIFAT" semata. Perhatikan "SIFAT" dasar yang menjadi "DIRI" yaitu "SIFAT ALLAH" yang dinamakan kepada setiap "MANUSIA" apa dan siapa saja dimana "SIFAT" itu nyata adanya dalam "RASA" maupun dalam logika adalah :

1. SIFAT MAHA HIDUP ....(Hayyun)
2. SIFAT MAHA KUASA ....(Qodirun)
3. SIFAT MAHA BERKEHENDAK/MENENTUKAN .... (Muridun)
4. SIFAT MAHA PENDENGARAN/MENDENGAR ....(Sami'un)
5. SIFAT MAHA PENGLIHATAN/MELIHAT ....(Basyirun)
6. SIFAT MAHA PENGETAHUAN/MENGETAHUI ....(Alimun)
7. SIFAT MAHA PERKATAAN/BERKATA ....(Qalamun)
8. Ke 7 (tujuh) SIFAT itu dijelaskan dengan SIFAT keadaan tentang "ADA" NYA ....(Wujud)
9. Ke 7 (tujuh) SIFAT itu dijelaskan dengan SIFAT keadaan tentang "SEDIA" NYA ....(Qidam)
10. Ke 7 (tujuh) SIFAT itu Dijelaskan dengan SIFAT keadaan tentang " KEKAL" NYA ...(Baqo)
11. Ke 7 (tujuh) SIFAT MAHA itu dijelaskan dengan SIFAT keadaan " Berdiri dengan sendirinya "
12. Ke 7 (tujuh) SIFAT MAHA itu dijelaskan dengan SIFAT keadaan " Berlainan dengan segala yang Baharu "
13. Ke 7 (tujuh) SIFAT MAHA itu dijelaskan dengan sifat keadaan " ESA "

Maka genaplah bilangan SIFAT WAJIB bagi ALLAH yang dengan itu terbitelah "ASMA" yang menjadi gelar kemampuan bagi ALLAH untuk menyelengarakan segalah hukumnya yang terbentang dalam "AF'AL" NYA. "SIFAT" Melahirkan "ASMA" dan ASMA Melahirkan “AF’AL". Lalu darimanakah terbitnya SIFAT, ASMA dan AF’AL? Tiada disangkal bahwa "DZAT" yang menjadi DIRI ALLAH itulah sebegai asal terbitnya SIFAT, ASMA dan AF’AL! DZAT-SIFAT-ASMAAF’AL: Didalam DZAT ada SIFAT, didalam SIFAT ada ASMA (gelar kemampuan) dan didalam ASMA ada AF'AL (perbuatan/SUNNATULLAH)

Jika SIFAT bisa dikenal lewat RASA yang terlogika, apakah "DZAT" juga dapat dirasa dan memiliki logika? Jangan mencari Tuhan melainkan dalam persaksian, sebagaimana telah terkonsep dalam dua kalimat yang syah (DUA KALIMAH SYHADAH) bahwa MANUSIA dengan TUHAN-NYA Terhubung dalam nilai "SAKSI" maka demikian juga keadaan bagi DZAT dimana sering kita mendengar pertanyaan " Tentang DZAT TUHAN jangan dicari ". Oleh karena itu jabaran ini tidaklah mengarah kepada pencarian DZAT melainkan dalam “PERSAKSIAN” semata.

No comments:

Post a Comment