Tuesday, May 31, 2016

SYEIKH ABDUL QADIR AL-JAILANI, PERINTAH DAKWAH

Al-Jaba’i berkata bahwa Syaikh Abdul Qodir Jailani juga berkata kepadanya, “Tidur dan bangunku sudah diatur. Pada suatu saat, dalam dadaku timbul keinginan yang kuat untuk berbicara. Begitu kuatnya sampai aku merasa tercekik jika tidak berbicara. Dan ketika berbicara, aku tidak dapat menghentikannya. Pada saat itu ada 2 atau 3 orang yang mendengarkan perkataanku. Kemudian mereka mengabarkan apa yang aku ucapkan kepada orang2. 

Dan mereka pun berduyun2 mendatangiku di masjid bab al-Halbah. Karena tidak memungkinkan lagi, aku dipindahkan ke tengah kota dan dikelilingi dengan lampu. Orang-orang tetap datang di malam hari dg memakai lilin dan obor dan memenuhi tempat tersebut. Kemudian aku dibawa keluar kota dan ditempatkan di sebuah mushalla. Namun orang2 tetap datang kepadaku dg mengendarai kuda, unta bahkan keledai dan menempati tempat disekelilingku. Saat itu hadir sekitar 70 orang para wali r.hum.

Syaikh Abdul Qodir Jailani melihat Rosulullah: Kemudian Syaikh Abdul Qodir Jailani melanjutkan, “Aku melihat Rosulullah saw sebelum zuhur. Beliau berkata kepadaku, “Anakku, (Syaikh Abdul Qodir keturunan ke-7 dari Rosulullah saw) mengapa engkau tidak berbicara?”. “Ayahku, bagaimana aku yang non-arab ini berbicara didepan orang2 fasih dari baghdad?”. Beliau berkata, “Buka mulutmu”, lalu beliau meniup 7 kali kedalam mulutku, kemudian berkata, “Berbicaralah dan ajak mereka ke jalan ALLAH dgn hikmah dan peringatan yang baik”. Setelah itu aku sholat dhuhur dan duduk dan mendapati jumlah yang sangat luar biasa banyaknya hingga aku gemetar.

Kemudian aku melihat Ali ra datang dan berkata, “Buka mulutmu”. Beliau lalu meniup 6 kali kedalam mulutku dan ketika aku bertanya kepadanya mengapa beliau tidak meniup 7 kali seperti yang dilakukan Rosulullah, beliau menjawab bahwa beliau melakukan itu karena rasa hormat beliau kepada Rosulullah. Kemudian aku berkata, “Pikiran, sang penyelam, mencari mutiara ma’rifah (pengetahuan) dengan menyelami laut hati, mencampakkannya ke pantai dada, dilelang oleh lidah, sang calo, kemudian dibeli dg permata ketaatan dalam rumah yang diizinkan ALLAH untuk diangkat”. Beliau kemudian menyitir: Dan untuk wanita seperti Laila seorang pria dapat membunuh dirinya, Dan menjadikan maut dan siksaan sebagai sesuatu yang manis. (Mahkota Para Aulia, 2005) Syaikh Abdul Qodir.

No comments:

Post a Comment