Saturday, February 21, 2015

CERITA SEJARAH AWAL KEMASUKKAN JAMAAH TABLIGH KE MALAYSIA DAN INDONESIA

BAHAGIAN PERTAMA: MALAYSIA

Jemaah Tabligh terawal yang dihantar oleh Markaz Tabligh sedunia di Nizamuddin, India ke Asia Tenggara ialah pada tahun 1952. Ianya zaman ketika Maulana Yusof menjadi amir (Hadratjie) Jemaah Tabligh. Ini terhasil dengan kedatangan Jemaah India ke Malaya dan Indonesia waktu itu. Selepas itu beberapa jemaah khusus dari Tamil Nadu yang datang ke Pulau Pinang melalui Madras dengan menggunakan kapal laut S.S Rajula dan juga Sindambaram. Jemaah khas dari Tamil Nadu dihantar pada waktu itu memandangkan ramai saudara Islam ketika itu yang menetap di Pulau Pinang terdiri dari keturunan India berbahasa Tamil. Maka masjid-masjid yang menjadi tempat persinggahan keluar masuk jemaah ketika itu adalah masjid-masjid di bawah seliaan masyarakat India Muslim, masyarakat ‘Benggali’ (Bangladesh) dan juga masyarakat Pakistan.

Ini berlaku sehingga tahun 1980an yang mana imam-imam Masjid Benggali terdiri dari orang Bangladesh. Masjid-masjid yang di bawah seliaan masyarakat India Muslim, Bangladesh dan Pakistan ini akhirnya menjadi markas-markas Jemaah Tabligh di negeri-negeri di Malaysia. Seperti Markas Pulau Pinang Masjid Benggali, Markas Kuala Lumpur Masjid India, Markas Seremban Masjid Pakistan Rahang, Markas Sinagapura Masjid Bencoolen, Markas Jertih Masjid Pakistan dan di Sarawak Masjid India Kucing.

Walau pun sesetengah Masjid India dan Pakistan yang terdapat di negeri-negeri di Malaysia tidak menjadi markas, namun ianya menjadi tempat pesinggahan jemaah yang datang khusus dari India, Pakistan dan Bangladesh. Ianya seperti Masjid Nagor Alor Setar, Masjid India Ipoh, Masjid India Kuala Pilah, Masjid Pakistan Bahau, Surau India Batu Pahat dan banyak lagi. Bukan hanya di Malaysia malah di tempat lain pun begitu seperti di Indonesia. Di Medan Masjid India Jalan Gajah, Masjid India Kota Padang (Masjid Muhamaddan). Di Thailand Masjid Haroon, Masjid India Ranong, Masjid India Hatyai.

Selain itu juga Masjid India Ho Chii Minh, Masjid Pakistan Prit Para Pnom Penh, Masjid India bandar Hong Kong dan lain-lain tempat. Disebabkan perkembangan awal Jemaah Tabligh di Malaysia bermula di Pulau Pinang maka ianya terus berkembang di bandar-bandar yang mana terdiri dari penempatan masyarakat India Muslim seperti di Kuala Lumpur dan Singapura. Ianya terus berkembang ke bandar-bandar yang lain sehinggalah seawal tahun 70an beberapa orang Melayu turut terlibat secara aktif dengan jemaah ini.

Peringkat awal di Pulau Pinang, mereka-mereka yang terlibat adalah Hj Mohd Habibullah (Habib Penang), Syed Abu Bakar, Syed Mohd.Baquir, Amir Ibrahim. Selain mereka juga bapa kepada Mohd.Naim Sri Petaling serta beberapa orang lagi yang tidak dapat dipastikan. Kebanyakkan mereka yang disebutkan tadi menjadi Syura P.Pinang dan juga Syura Malaysia. Selain mereka yang juga awalin yang turut terlibat keluar IPB (India,  dan Bangladesh) iaitu pada tahun 1973. Mereka-mereka adalah Nagor Ghani, Abd Ghafur, Abd.Ghani Champion Motor, Hj.Sultan Kg.Melayu, Hj. Sultan Sayor, dan juga di ikuti oleh Hafiz Yaakob Ansari. Hafiz Yaakub Ansari adalah seorang alim 4 mazhab. Beliau adalah awalin yang terlibat menterjemahkan kita Fadhilat Maulana Zakaria rah. Namun sebelum itu ada ulama Melayu yang menterjemahkan ke dalam bahasa Melayu tulisan jawi alam kitab kuning yang tidak dikenali penterjemahnya.

Penulis pernah membacanya sewaktu keluar pada tahun 1979 di daerah Guar Cempedak waktu itu. Cuma kitab ini tidak digunakan sebagai taklim. Seingat penulis ianya adalah kitab Fadhilat Tabligh. Selepas dari pekembangan tersebut usaha Jemaah Tabligh turut disertakan oleh orang-orang Melayu. Ini termasuklah Abang Arsyad, Abang Bakar, Ustaz Abd. Razak Kedah, Ustaz Hassan Kelantan, Syeikh Muhamad Batu Pahat, Syeikh Salem Batu Pahat (sepupu kepada Syeikh Muhammad) Ustaz Muhsin, Dato Pakjang Haris, Hj. Muda Terangganu serta mereka-mereka yang tak dapat disebutkan di sini. Usaha Jemaah Tabligh ini semakin rancak apabila pelajar-pelajar Melayu dari Institusi Pengajian Tinggi turut terlibat seperti Syed Nasir Keramat, Muharam, Hisyam Penanti, Wak Umar Sri Petaling, Cikgu Syamsudin Jitra, Utaz Kamal, Hj. Baharudin Ali (adek kepada Dr. Hassan Ali) dan lain-lain.

Seinggat penulis sekitar awal 80an begitu ramai pelajar dan anak muda yang terlibat dengan usaha ini yang mana dari merekalah usaha yang mulia ini sampai kepada masyarakat Melayu yang sebelumnya beraggapan ianya satu usaha orang India Muslim dan Pakistan. Sebagaimana yang kita ketahui, akibat dari proses Pembangunan Pendidikan di Malaysia pada awal tahun 1980an, banyak pelajar pelajar Malaysia khususnya anak anak Melayu telah dihantar belajar di Eropah, England terutamanya.. Sebahagian dari pelajar pelajar ini juga telah menyertai Usaha ini di England dan sekembalinya mereka ke Tanah air telah membuatkan Usaha Tabligh ini berkembang di kalangan golongan Profesional.

Selepas Ijtimak pertama kehadiran Hadratji Maulana Inamul Hassan rah pada tahun 1982, maka usaha semakin pesat berkembang dan mulai di ketahui umum dan mula ikuti oleh orang ramai sehinggalah ke hari ini. Semuga ianya menyatukan semua Umat di dalam menyebarkan Kalimah Allah di muka bumi ini… amin.

BAHAGIAN 2: INDONESIA

(Versi Bahasa Indinosia coretan oleh De Ariola)

Cerita Jama’ah Dakwah dan Tabligh masuk ke Indonesia dimulai dari tahun 1952. Pada tahun ini, delegasi pertama Jama’ah Dakwah dan Tabligh tiba di Asia Tenggara dengan naik kapal laut. Mereka menginjakkan kaki pertama kali di pulau Pinang, kemudian ke Medan, kemudian ke Singapura. Pada masa itu, Jama’ah Dakwah dan Tabligh adalah fenomena India, Asia Selatan, karena para delegasi pertamanya datang dari India, dan semuanya bicara dalam bahasa India dan Urdu, hanya ada satu atau dua orang yang bisa bicara dalam bahasa Inggris.

Ketika delegasi Jamaah Dakwah dan Tabligh pertama sampai di Asia Tenggara, karena kekurangan dari segi bahasa, juga karena mereka baru pertama kali datang ke Asia Tenggara, maka sasaran dakwah mereka adalah warga muslim India yang ada di pulau Pinang, Medan dan Singapura. Karena memang, warga muslim India di pulau Pinang, Medan dan Singapura sangat banyak. Lebih-lebih karena di daerah-daerah itu terdapat pelabuhan, sehingga sangat mudah bagi mereka untuk masuk.

Banyak yang berpendapat bahwa Jama’ah Tabligh masuk Asia Tenggara pada tahun 70-an, karena pada masa itu kalau kita lihat para anggota jamaah Dakwah dan Tabligh sudah dengan wajah Melayu dan Jawa. Padahal, 30 tahunan sebelum itu, yaitu pada tahun 50-an, Jamaah Dakwah dan Tabligh sudah mulai masuk ke Asia Tenggara, tepatnya di Pulau Pinang, Medan dan Singapura, hanya saja memang terbatas pada warga muslim India.

Kemudian pada tahun 1955, delegasi kedua yang berjumlah 8 orang datang ke Jakarta dengan naik pesawat. Ketika itu di Jakarta belum ada bandara Soekarno-Hatta, dan pesawat yang mereka tumpangi mendarat di Kemayoran. Menariknya, dari tahun 1952 sampai 1955, delegasi yang dikirim semuanya berasal dari India, hanya berbicara dalam bahasa India dan Urdu, hanya ada satu orang yang saja bisa berbahasa Inggris, dan tidak ada seorangpun dari mereka yang bisa berbahasa Indonesia. Ceritanya berdasar penuturan para amir Jama’ah Tabligh yang masih aktif, ketika para delegasi itu sampai di Jakarta, mereka turun dari pesawat, lalu mencari taksi yang supirnya bisa berbahasa Inggris dan memintanya membawa mereka ke rumah orang muslim India yang tinggal di Jakarta, “Bawa kami ke rumah orang muslim India,”

Demikianlah kira-kira yang mereka katakan. Akhirnya mereka dibawa ke Jln. Industri. Di sana mereka bertemu dengan Zaman Khan, seorang keturunan muslim India yang sudah menjadi warga Indonesia. Ketika bertemu Zaman Khan, para delegasi itu berkata, “Kami adalah delegasi Jama’ah Dakwah dan Tabligh, ingin melakukan dakwah dan tabligh di Indonesia.” Mendengar ini tentu saja Zaman Khan kaget dan bertanya, “Kalian ini siapa, kita kan belum kenal. Apa itu Jama’ah Tabligh?” Keberanian para delegasi Jama’ah Dakwah dan Tabligh ini memang luar biasa. Mereka dikirim ke berbagai negara tanpa kontak dan nama orang yang akan mereka kunjungi.

Pada pertemuan pertama, Zaman Khan mengundang semua orang muslim India di kawasan Jakarta ke rumahnya. Ia berkata, “Saya mengundang kalian, karena di rumah saya ada tamu berjumlah 8 orang, saya tidak kenal siapa mereka, dan juga bingung mau ditempatkan di mana mereka.” Akhirnya para delegasi itu ditempatkan dari satu masjid ke masjid lain, karena tidak ada masjid yang menerima mereka untuk menetap lebih lama. Mereka tampak asing sekali, tidak bisa berbicara dalam bahasa Indonesia, tidak bisa makan nasi, dan hanya bisa makan chapati, rupa dan budaya mereka semuanya India.

Untuk beberapa waktu lamanya mereka berpindah dari satu masjid ke masjid lain, sampai akhirnya mereka mendapatkan sebuah masjid yang menjadi markas mereka sekarang di Kebun Jeruk. Waktu itu, Kebun Jeruk adalah kawasan yang sangat berbahaya dan tidak aman, karena menjadi tempat bersarangnya para perampok, dan bahkan menjadi kawasan para pelacur. Mereka mendapatkan masjid itu karena masjid itu memang kosong, tidak ada seorang pun yang berani tinggal di sana. Dan di sanalah mereka kemudian mendirikan maskas Jama’ah Dakwah dan Tabligh.

Dari Jakarta, mereka melakukan dakwah di kawasan Jawa Barat; Bandung, Bogor, dll. Ketika jaringan mereka sudah begitu kuat, pada tahun 1956 mereka mengirim delegasi ke kota-kota yang banyak warga muslim Indianya. Dan selain Jakarta, salah satu kota yang banyak warga muslim Indianya adalah Solo yang saat itu menjadi pusat industri batik. Di sana para pemilik toko batik sebagiannya adalah warga muslim India. Jadi, mereka mengirim delegasi dari Jakarta ke Solo. Dan tanpa memerlukan waktu yang cukup lama, Solo pun menjadi markas Jama’ah Tabligh untuk Jawa Tengah. Sementara Jakarta menjadi markas nasional, dan juga untuk wilayah Jawa Barat.

Namun demikian, meskipun mereka sukses melebarkan sayap dakwahnya sampai ke Jawa Tengah, yang hanya memakan waktu 2 atau 3 tahun saja, tetapi mereka tidak pernah berhasil menembus wilayah Jawa Timur. Karena masyarakat Jawa Timur tidak mau menerima orang India. Para delegasi yang dikirim ke wilayah itu selalu saja menuai kegagalan. Bahkan, ketika mereka mengirim delegasi ke Kudus, masyarakat Jawa Timur melaporkan mereka ke polisi. Tak ayal, para delegasi itupun langsung ditangkap dan dikembalikan lagi ke Jakarta untuk dipulangkan ke India.

Namun, kegagalan itu tidak lantas membuat mereka putus asa. Mareka terus berusaha melakukan berbagai upaya, sampai akhirnya mereka berhasil menembus Jawa Timur dan Madura pada tahun 1970-an. Karena antara tahun 1950-an sampai 1970-an, jumlah orang Jawa yang menjadi anggota Jama’ah Dakwah dan Tabligh semakin banyak. Jadi, Jama’ah Tabligh bisa sukses masuk ke Jawa Timur dan Madura ketika mengirim delegasi yang asli orang Jawa. Dan markas Jama’ah Tabligh untuk seluruh wilayah Jawa Timur berada di Surabaya.

Selain itu, salah satu hal yang menopang keberhasilan Jama’ah Dakwah dan Tabligh adalah tidak adanya konfrontasi. Oleh karena itu, kelompok ini tidak bisa begitu saja dianggap militan. Bisa dilihat proses penyebarannya; dari Medan menyebar ke seluruh Sumatera; dari Jawa mengirim banyak delegasi ke berbagai daerah strategis di sana; kalau di Sulawesi bisa diibaratkan bisnya dari Makassar; kalau di Kalimantan, di setiap daerah seperti Banjarmasin, Pontianak, dll., itu dapat ditemukan markas-markasnya bertebaran, bahkan ke Jayapura di Papua. Kalau melihat sejarah awalnya, sangat jelas bahwa sebelum Jama’ah Dakwah dan Tabligh terbentuk, dunia Islam dalam lanskap sosialnya sudah banyak gerakan-gerakan muslim yang terbentuk. Lantas bagaimana Jama’ah Dakwah dan Tabligh terbentuk sebagai sebuah gerakan baru yang original dan berbeda?

Demikianlah tampaknya yang terjadi pada Jama’ah Tabligh. Mereka masuk ke dalam market of ideas yang mana ide-idenya sudah di-sharing dengan gerakan-gerakan yang lain. Jama’ah Tabligh sukses karena gerakan-gerakan muslim yang muncul di India sangat elitis, nasionalis dan ingin membuat partai politik. Jama’ah Dakwah dan Tabligh menjadi sangat popular karena yang masuk awalnya adalah para petani, orang-orang miskin. Artinya, Jama’ah Dakwah dan Tabligh memberikan suatu kesempatan kepada orang-orang yang tidak pernah diberikan peluang untuk tampil, karena sebagai sesama anggota mereka equal. Anak yang lebih muda bisa saja memberikan ceramah kepada mereka yang sudah tua, dan orang miskin bisa menjadi amir bagi orang kaya. Makanya gerakan ini popular juga di kalangan anak-anak muda, orang-orang miskin, yang sebelumnya suaranya tidak terdengar.

Sejauh ini, Jama’ah Dakwah dan Tabligh di Indonesia tidak ambil bagian dalam aksi-aksi kekerasan dan penyerangan terhadap kelompok-kelompok yang dianggap sesat, Dalam sejarahnya, di seluruh Asia Tenggara sekalipun, berbagai konflik besar yang sampai menelan korban jiwa tidak ada hubungannya dengan Jama’ah Tabligh. Tetapi, justru dengan karakternya yang sangat terbuka itu, Jama’ah Tabligh sangat mudah menyebar luas.

No comments:

Post a Comment