Tuesday, January 21, 2014

KARYA EMAS PARA PEMUDA MUSLIM PADA PERADABAN ISLAM

Berbicara tentang pemuda, bukan bererti kita mengesampingkan peranan orang tua, bagaimana orang tua yang doanya sangat mustajab, orang tua yang punya banyak peranan, punya banyak pengalaman baik, punya ilmu, punya kesolehan dan berbagai kebaikan-kebaikan lainnya, tetapi memang orang tua dan anak muda mempunyai peranan masing masing.

Apabila kita lihat dan perhatikan satu pertemuan, satu perkumpulan atau satu pengajian (Majlis ilmu) isinya anak- anak muda maka itu sudah tepat.

Al- Qur’an banyak menceritakan dan menterjemahkan bagaimana peranan pemuda. Di dalam surat Ar Rum ayat 54 Allah berfirman: "Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian dia menjadikan kamu sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian dia menjadikan kamu sesudah kuat itu lemah kembali dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendakinya dan dialah yang maha mengetahui lagi maha kuasa."

Allah ceritakan fasa-fasa kemanusiaan, bukankah pemuda itu ada diantara dua fasa itu? Maka tidak salah kalau pemuda itu adalah satu diantara dua kelemahan (sebuah kekuatan besar diantara dua kelemahan), maka tidak salah pula ketika kita melihat saat ini pemuda menjadi tarikan organisasi-organisasi besar atau perkumpulan-perkumpulan lembaga, karena faktanya mereka sebenarnya tau betul, bahwa sesungguhnya kekuatan ada pada diri mereka, mereka sesungguhnya tau betul bahwa kepemimpinan akan diambil alih oleh orang yang saat ini dikatakan pemuda, inilah yang boleh kita lihat dan perhatikan juga pada perjuangannya Rasulullah s.a.w.

Ibnu Katsir dalam surat Al kahfi menguraikan tafsirnya dalam ayat ke 13, artinya, "Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini benar, sesungguhnya mereka adalah pemuda- pemuda beriman kepada tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk."

Imam Ibnu Katsir berkata: Dan begitulah Dakwah Rosululloh Saw yang dikelilingi oleh anak- anak muda selama masa hidupnya. Jika saat ini majlis-majlis ilmu dan masjid-masjid banyak dihadiri oleh anak-anak muda, maka disitulah harapan kebangkitan peradaban islam akan dimulai.

Mari kita lihat dan buktikan apa yang disampaikan oleh Imam Ibnu Katsir. Beliau mengatakan bahwa ketika Rasulullah s.a.w berdakwah, orang–orang disekitarnya itu adalah anak-anak muda. Bagaimana dengan orang tua- orang tua kebanyakan pada saat itu? Kebanyakan orang-orang tua mati dalam keadaan jahiliyah seperti halnya Abu Jahal, Abu Lahab dan lainnya.

Jadi untuk menjadi orang yang soleh jangan menunggu tua dulu, untuk menjadi orang yang soleh jangan menunggu pencen dulu, karena kita akan kesulitan. Mau solat tunggu pencen itu keliru, mau taubat tunggu tua juga tidak tepat dan lainnya. Apa yang ada dikepala kita hari ini ketika mendengar kata remaja, atau kata pemuda hari ini?

Biasanya yang muncul di kepala kita adalah stigma negatif terhadap remaja dan pemuda, itu semua disebabkan cara kita berpikir berkiblat ke dunia barat (peradaban Barat) bukan berkiblat ke Al Qur’an dan Hadith (peradaban Islam).

Tetapi kalau kita lihat remaja dan pemuda yang kiblatnya Al Qur’an dan Sirah yang diamalkan langsung dalam peradaban islam, kita akan mampu melihat bagaimana Al Qur'an mentafsirkan remaja dan pemuda yang begitu hebat luar biasa

"Dari Abdurrahman bin ‘Auf, dia berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Abu Bakar di syurga, Umar di syurga, Usman di syurga, Ali di syurga, Talhah di syurga, Az Zubair di syurga, Abdurrahman bin ‘Auf di syurga, Sa’d di syurga, Sa’id di syurga, dan Abu Ubaidah ibnul Jarrah di syurga.” [HR At Tirmidzi (3747), hadits shahih.]

Mereka masih bergerak di muka bumi, mereka sudah dijamin surga oleh Allah s.w.t, bagaimana dengan kita?

Melihat hadits di atas kita boleh lihat bahwa diantara sahabat-sahabat mulia ini yang paling tua adalah Rasulullah s.a.w. Yang umurnya di atas 30 tahun pada saat itu adalah Abu Bakar Siddiq, Usman bin Affan dan Abdurahman bin Auf dan sisanya 7 orang umurnya dibawah 30 tahun bahkan 5 diantara mereka masih remaja.

Berikut ini perincian nama-nama mereka yang tersebut di dalam hadith:

1). Abu Bakar iaitu Abdullah bin Utsman At Taimi, digelari dengan As Shiddiq Al Akbar. Wafat pada bulan Jumadil Awal tahun 13 H pada umur 63 tahun.

2). Umar, iaitu Ibnul Khattab Al ‘Adawi, Abu Hafsh, digelari dengan Al Faruq. Syahid pada bulan Dzulhijjah tahun 23 H.

3). Utsman, iaitu bin Affan Al Umawi, Abu Abdillah, digelari dengan Dzunnurain. Syahid pada bulan Dzulhijjah setelah Idul Adha tahun 35 H dalam umur sekitar 80 tahun.

4). Ali iaitu bin Abi Thalib Al Hasyimi, Abul Hasan, digelari dengan Abu Turob. Anak paman Nabi s.a.w dan suami dari anak perempuannya iaitu Fatimah radhiallahu ‘anha. Syahid pada bulan Ramadhan tahun 40 H pada umur 63 tahun.

5). Thalhah iaitu bin Ubaidillah At Taimi, Abu Muhammad. Digelari dengan Thalhah Al Fayyadh. Syahid pada perang Jamal tahun 36 H dalam umur 63 tahun.

6). Az Zubair, iaitu ibnul ‘Awwam Al Asadi, Abu Abdillah. Syahid pada tahun 36 H setelah pulang dari perang Jamal.

7). Saad, yaitu bin Abi Waqqash Az Zuhri, Abu Ishaq. Orang yang paling pertama memanah dalam perang jihad fi sabilillah. Wafat di Aqiq pada tahun 55 H. Beliau adalah yang paling terakhir meninggal di antara sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk syurga.

8). Abdurrahman bin Auf, Abu Muhammad Az Zuhri. Termasuk sahabat yang paling dahulu masuk Islam. Wafat pada tahun 32 H.

9). Said, yaitu bin Zaid bin Amr bin Nufail Al Adawi, Abul Awar. Wafat pada sekitar tahun 50 H.

10). Abu Ubaidah ibnul Jarrah, iaitu Amir bin Abdillah Al Fihri. Digelari dengan Aminu Hadzihil Ummah (Orang yang sangat terpercaya di umat ini). Termasuk dari anggota pasukan Perang Badr. Wafat syahid disebabkan oleh wabah menular Amwas pada tahun 18 H dalam umur 58 tahun.

Kita Bukan hanya cukup mengenal sepuluh orang pemuda hebat seperti di atas saja, karena masih banyak lagi pemuda-pemuda hebat yang karya nya sungguh luar biasa, salah satu contohnya - diakhir kehidupan Nabi s.a.w, beliau membuat keputusan yang mengejutkan para sahabat, beliau mengangkat Usamah Bin Zaid sebagai panglima untuk melawan Romawi, Usamah Bin Zaid yang saat itu berumur antara 17-18 tahun, dan disaat Rasulullah wafat, Abu Bakar yang menjadi kepala negara tidak merubah keputusan itu untuk mengangkat Usamah Bin Zaid. Mari kita sedikit merenung, berfikir cuba kita lihat pada saat ini, mereka yang berumur antara 17-18 tahun, sedang buat apa mereka? Karya terbaik apa yang sudah mereka lakukan? Sangat ironis kan?

Pemuda-pemuda hebat pun lahir pada masa setelah Rasulullah s.a.w seperti halnya Musab bin Umair yang menjadi duta pertama Rasulullah s.a.w untuk berdakwah di Madinah, hingga para pembesar Madinah seperti Saad bin Ubadah masuk islam dan disaat kematiannya Arasy Allah bergetar. Boleh kita baca dan perhatikan bagaimana semasa hidupnya dan syahidnya Musab Bin Umair, sungguh luar biasa gemilang.

Kita pun boleh melihat kisah Ashabul Hahfi yang diabadikan dalam Al Qur’an, dimana sekelompok anak-anak muda yang mengasingkan diri mereka dari kemusyrikan yang terjadi pada saat itu, cuba kita baca dan kaji bagaimana kukuhnya keimanan mereka, sungguh luar biasa.

Mari kita lihat bagaimana Nabi Daud yang saat itu masih remaja mampu mengalahkan Jalut yang begitu kuat, sungguh kekuatan yang luar biasa.

Ketika melihat pemuda kita pasti akan mengenal Nabi Yusuf a.s yang dimasa mudanya diberi ujian dengan ketampanannya, dan dengan keimanannya yang kuat beliau mampu terhindar dari gangguan dan rayuan syaitan.

Dan juga banyak lagi kisah-kisah pemuda pilihan yang mempunyai karya hebat dalam Islam. Wahai para pemuda mukmin, sudah saatnya lah kita bangkit dan belajar dari peradaban islam yang begitu gemilang. Wallahu a’lam bisshawab.

No comments:

Post a Comment