Monday, January 20, 2014

REZEKI MENCARI KITA

"Sesungguhnya rezeki itu mencari seorang hamba lebih kerap daripada apa yang dicari oleh ajalnya," (Riwayat Thabrani melalui Abu Daud).

Sungguh luar biasa Allah s.w.t menjamin hamba-hambaNya di alam semesta ini. Dalam hadis ini jelas, rezeki pasti datang lebih banyak berbanding maut yang datang hanya sekali. Ada hal menarik dari urusan "rezeki mencari seorang hamba", jika kita teliti, ini adalah terbalik dari cara pemikiran umum, bahawa selama ini banyak yang menggunakan ungkapan: carilah rezeki yang bertebaran di muka bumi. 

Ertinya, kita harus aktif menjemput rezeki, yang dijanjikan Allah boleh datang dari mana saja, yang tidak kita sangka. "Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S At Thalaaq:3)

Hadis itu menegaskan bahwa "rezeki juga mencari seorang hamba", bukan hanya luar biasa, tapi boleh juga menjadi semakin sulit. Dalam hal ini kesulitannya rezeki tak pernah mengatakan akan turun di mana, rezeki juga tak beritahu bila dia akan datang. Memang ada rezeki yang sudah jelas mengatakan turun di mana dan bila, yakni gaji bulanan kita, itu pun jika kita bekerja tetap dan dibayar bulanan.

Harus kita yakini pula bahwa rezeki kita dalam satu rumah tak akan dikurangi oleh Allah s.w.t, walaupun yang bekerja hanya satu orang saja misalnya. Dan juga dalam setiap rezeki yang kita terima ada sebagian merupakan haknya isteri, anak-anak, keluarga, anak yatim piatu, dan fakir miskin. Haknya orang lain itu boleh jadi berupa nafkah buat anak istri, selebihnya boleh infak, sedekah atau hadiah. Wajib hukumnya kita menjaga rezeki kita agar tak hilang atau jatuh kepada yang tidak berhak.

Bukannya tak bersyukur dengan rezeki "pasti" yang Allah berikan melalui gaji bulanan, seringkali kita tak cukup dengan gaji bulanan. Sehingga masih harus mencari rezeki selain gaji. Rezeki selain gaji boleh juga ada yang pasti, misalnya mereka yang bekerja part time, atau bekerja berdasarkan pesanan per pekerjaan atau melalui perniagaan. Seringkali lebih banyak rezeki yang tak pasti, seperti dari hasil usaha. Siapa yang boleh menjamin setiap bulan usaha kita memberikan rezeki yang sama dengan bulan lalu?

Rasulullah s.a.w bersabda "Janganlah kamu merasa bahwa rezekimu terlambat datangnya, kerana sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya, maka tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, iaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram." (Riwayat Ibnu Majah). Hadis itu menegaskan bahwa Allah jelas akan memberikan rezeki kepada setiap orang tanpa menguranginya hingga  ajal datang, yang disebutkan hadis ini sebagai "rezeki terakhir”.

Usaha untuk menjemput rezeki "yang belum pasti" itu adalah dengan ikhtiar yang baik, agar rezeki yang datang pun halal. Selain itu juga didukung dengan doa. Amalan lain yang dituntun Nabi adalah solat Dhuha, yang di antara fadhilatnya adalah untuk membuka pintu rezeki kita. Doa dan salat Dhuha ibarat handphone, menelepon "sang rezeki" untuk berjanji di mana kita bertemu. Percaya atau tidak, sering kali panggilan rezeki dari handphone doa dan Dhuha itu, lebih lagi terjawab daripada tidak.

Inilah hikmah bahwa "rezeki" tidak boleh dilihat dengan logik, utamanya agar kita selalu bersyukur, selalu berikhtiar dan selalu ingat bahwa di antara rezeki kita ada bahagian atau hak orang lain. Sejatinya, rezeki itu ada pintunya di langit. 

Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a., bahwa Nabi Muhammad s.a.w bersabda, "Seorang hamba memiliki dua pintu di langit. Pintu yang menjadi keluarnya rezeki dan pintu yang menjadi masuknya amal dan perkataan baiknya. Jika ia meninggal dunia, dua pintu langit itu akan merasa kehilangan dan akan menangisinya." 

Kemudian Nabi s.a.w membaca ayat, "Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka." Disebutkan demikian, kerana mereka tidak memiliki amal soleh di atas muka bumi yang membuat bumi menangisi kematian mereka (Fir’aun dan bala tentaranya). Dan mereka juga tidak memiliki amalan dan perkataan yang baik, yang naik ke langit sehingga langit itu tidak merasa kehilangan dan tidak pula menangisi mereka." (Riwayat Abu Ya’la dan At-Tirmidzi).

Subhanallah. Marilah kita perbanyak doa dan salat dhuha agar kita boleh selalu berhubung dengan "sang rezeki", agar pintu rezeki di langit mudah dibukakan kepada kita. Doa dan Dhuha akan mempermudah "rezeki mencari kita". Agar rezeki tak kesulitan mencari kita, apalagi sampai pintu rezeki menangis. Boleh jadi selama ini pintu rezeki selalu melihat kita, sementara kita tak melihatnya. Wa’allahu alam bi shawab. 

No comments:

Post a Comment