Friday, February 28, 2014

BELAJAR ILMU DENGAN CARA YANG BETUL

Dalam tradisi keilmuan Islam, sanad adalah sesuatu yang penting. “Menurut ulama salaf, sanad dianggap sebagai bahagian dari agama sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Al-Mubarok,” jelas KH. Muhammad Nuruddin Al-Banjari. Alumni Universitas al-Azhar asy-Syarif, Mesir ini sendiri dikenal sebagai ulama yang memiliki banyak sanad. Bukan hanya di bidang hadits, tapi setiap kitab yang dipelajarinya, sanadnya bersambung kepada pengarang kitab tersebut.

Nuruddin punya banyak sanad, karena ia termasuk orang yang senang belajar secara talaqqi (langsung dibawah bimbingan seorang guru) kepada para ulama yang memiliki sanad. Ada sekitar 35 ulama kenamaan yang pernah menjadi gurunya sewaktu dia belajar di Mekkah dan Mesir. Diantara ulama itu antara lain Syeikh Al-Allamah Hasan Masshath yang mendapat gelar Syeiku-ul-Ulama rah, Syeikh Al-Allamah Muhamad Yasin Al-Fadani rah yang mendapat julukan Syeikhul Hadits Wa Musnidud Dunya, Syeikh Ismail Usman Zien rah yang digelar Alfaqih Ad-Darrakah, Syeikh Abd. Karim Banjar hafizuhullah, Syeikh Suhaili Al-Anfenani, As-Sayyed Mohd. Alwi Al-Maliki, Syeikh Said Al-Bakistani dan sebagainya.

Tradisi sanad itu sekarang ini oleh Nuruddin diakui lemah karena orang lebih senang belajar secara segera. Sedang belajar secara talaqqi itu memerlukan kesabaran tersendiri. “Sekarang ini maunya serba cepat dalam mencari ilmu,” katanya lagi. Padahal menurutnya, para ulama dulu sangat sabar mencari ilmu. Mereka rela berlama-lama belajar kepada seorang ulama sampai tamat. Bukan hanya itu mereka juga harus mempersiapkan mental yang kuat ketika misalkan harus disuruh atau dibentak oleh sang guru. “Kalau anak sekarang dibentak langsung lari,” jelasnya.

Berikut wawancaranya yang pernah dimuat majalah Hidayatullah yang dikutip oleh InpasOnline.com

Tradisi mencari ilmu dengan menjaga sanad sudah amat langka saat ini, bagaimana komentar ustaz?

Sebenarnya tradisi itu masih ada di pesantren-pesantren kita. Hanya saja para santri tidak menanyakan sanad kitab yang dipelajarinya. Mereka tidak peduli melalui siapa saja mendapatkan pengetahuan tentang kitab itu, hingga sampai kepada penulisnya. Bisa juga karena si kiai tidak terlalalu memperhatikan masalah itu. Atau mereka memang belum sempat mendapatkan ijazah tentang periwayatan kitab tersebut. Di Indonesia, ulama yang memperhatikan sanad itu masih bisa dihitung jari. Apalagi setelah wafatnya Syeikh Yasin Al Fadani, sebagai seorang musnid. Setelah itu tidak ada lagi ijazah, yang dampaknya kita tidak tahu ilmu yang pelajari sampai kepada siapa sanadnya.

Pengalaman Ustaz sendiri, dalam memperoleh sanad?

Seingat saya, sewaktu belajar di Makkah tahun 80-an, saya mengkaji kitab dengan cara talaqqi, istilahnya dari kulit ke kulit (dari sampul awal hingga sampul akhir). Nah, setelah itu kita diijazahi. Dengan begitu saya tahu membaca Shahih Al Bukhari dari guru saya, fulan bin fulan, hingga terus sampai kepada Imam Al Bukhari.


Apa sebenarnya fungsi dari sanad sendiri?

Ini terkait dengan masalah tradisi para ulama salaf ketika hendak memberi syarah terhadap sebuah hadits. Kita harus tahu siapa orang yang mensyarah hadits, memberi komentar, atau khasiyah (catatan kaki). Sebab banyak orang bisa memahami sebuah hadits tapi tidak bisa mengungkapkan dan tidak tepat memaknainya. Inilah sebahagian manfaat, min fawaidi at talaqi, supaya kita memaknai hadits itu tepat, walau tidak dijamin 100 persen. Tapi insyaallah dengan talaqqi, pemahaman kita tidak akan lepas dari maksud dan tujuan penulis. Jadi bisa kita katakan al haqiqah ala ma’na shohih.

Kalau begitu, apa dampak negatif jika belajar tanpa didampingi seoarang guru?

Kalau dulu yang namanya syeikh takharuj amat menentukan sekali. Dari periwayatan ilmunya bisa diketahui sejauh mana pemahamannya. Akan tetapi jika belajar melalui majalah, internet, cd atau televisi, sulit diukur pemahamannya. Tapi sudah berani berfatwa sehingga sekan-akan ia siap menjawab semua masalah dalam satu waktu.

Mungkin di Indonesia hal ini menjadi masalah karena orang-orang terlalu berani berfatwa. Ini berbeda dengan tradisi para salafuna as shalih. Jika ada pertanyaan, maka masing-masing saling menunjuk. Bukan kerana tidak mengerti, akan tetapi mereka amat hati-hati. Sebab jangan-jangan ada yang lebih pandai dan lebih berilmu. Kita sekarang hubbu tashadur, pingin berada di depan. Kadang-kadang hal-hal yang di luar bidangnya sudah berani berfatwa.

Apa akibat bagi orang yang bukan bidangnya tapi sudah berani berfatwa?

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sayidina Ibnu Umar disebutkan bahawa orang yang paling berani mengeluarkan fatwa adalah orang yang menjerumuskan diri ke neraka jahanam. Ajra’ukum ala al fatwa, ajra’ukum ala nari jahanam. Oleh karena itu para sahabat saling tadafuk (mempersilahkan yang lain) dalam fatwa. Kalau dalam fatwa mereka seperti itu, tapi kalau dalam ibadah mereka akan berlomba-lomba. Jika masalah fatwa ayakfihi ghoiruhu (menyukupkan dengan orang lain). Misalkan Ibnu Abi Laila bertanya kepada Abu Hanifah, tapi beliau menyuruh orang tersebut bertanya kepada Zufar. Oleh Zufar disuruh tanya kepada Sofyan At Tsauri. At Tsauri menurruh bertanya kepada Abu Hanifah.

Akhlak seperti ini sudah sedikit di negeri ini. Banyak orang yang dari segi usia, ilmu dan pengalaman masih mudah, tapi sudah berani berfatwa. Bukan hanya itu, ia juga seenaknya memvonis orang lain mubtadi’ (orang yang berbuat bid’ah), dhaal (sesat) dll. Padahal mencela mukmin itu fasiq, apalagi mengkafirkan, sibabul mukmin fusq. Anehnya yang ia sesatkan itu masih dalam batas khilafiah.

Pengalaman Ustaz berguru kepada beberapa ulama di Mesir?

Kalau di Mesir biasanya masyayikh yang pakai jubbah yang mengalamai belajar secara talaqqi kepada para masayikh sebelumnya di masjid Al Azhar, yang dinamakan al jami’ bukan al jami’ah. Syaikh Muntashir pada waktu itu kalau mengajar tafsir hanya membawa mushaf saja, tidak pernah pakai kitab. Demikian juga Syeikh Sya’rawi tidak pegang Al-Quran. Orang yang mengajilah yang membawa Al-Quran. Beliau-beliau ini tidak membawa tafsir karena sudah hafal.

Bagi orang yang tidak pernah talaqi, dia tidak akan merasakan pancaran nur saat bertemu dengan masyayikh. Ada kiai yang menyuruh baca sekali, dua kali, dan tiga kali, tapi dia tidak menerangkan. Nah, kadang tanpa keterangan itu santri bisa paham sendiri.

Bagaimana ustaz melihat para pencari ilmu saat ini?

Adab mahasiswa terhadap para dosen sudah tidak ada. Ijlal (memuliahakan) masyayih juga tidak ada. Juga penghargaan terhadap karya dan penulis para ulama tidak ada. Itu yang kita rasakan.

Pada jaman saya di Mesir, sudah ada mahasisiwa yang meminta dosennya berhenti, “duktur kifayah ba’ah, za sa’atain kholas “ (Pak dosen, sudah cukup. Ini sudah dua jam, bila berhentinya!). Inilah yang menyebabkan faktor keberkahan ilmu itu lenyap. Jadi keberkahan ilmu itu tidak diindikasikan dari bisa menulis atau tidak bisa ceramah, atau bisa terjun ke masyarakat. Kalau sekedar itu siapa saja bisa melakukannya. Akan tetapi yang namanya keberkatan ilmu itu berhubungan dengan kehidupan. Ia betul-betul mengawal perjalanan hidup.

Jadi, sebelum menyuruh, kita harus sudah disuruh dan mengerjakan. Sebelum melarang, kita harus sudah tingalkan. Inilah namanya dakwah bil hal itu yang pengaruhnya cukup kuat. Kadang ada sebuah masalah yang sudah dijelaskan, dikupas dengan tuntas, tapi tidak tidak berdampak apa-apa. Orang berbicara tasawuf, tapi ia meninggalkan tasawuf . Lain hal dengan ulama-ulama terdahulu. Kadang hanya dijelaskan dan disuruh baca, atau sekedar. Ini yang saya rasakan dengan syaikh Isamil, syaeik Yasin dan syeikh Hasan Masyat yang tidak sama mengajarnya dan sedikit penjelasanyya. Tapi alhamdulillah kawan-kawan yang di Makkah semuanya menjadi kiai, khususnya yang berada di Madura.

Bisa dikatakan bahawa hanya bertemu dengan guru sudah membantu sebuah pamahaman?

Sering kali kita belum bertanya ternyata sudah mendapat jawaban. Ada yang ingin kita tanyakan tentang malabis (masalah pakaian), adab naum, adab al aql (makan), adab al masyi (berjalan), jilsah (duduk) atau ibadah. Kadang kita sudah mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan, akan tetapi dengan duduk saja sudah memahami keterangan guru. Saya rasa sudah jarang ada ulama yang memiliki ittishal ruhi (hubungan ruh), itishal batin (hubungan batin), dan mampu memperolah jawaban pertanyaan-pertanyaannya tanpa harus bertanya terlabih dahulu.

Contohnya, syaikh Abu Hasan Ali An Nadawi adalah ulama paling bebal dan susah memahami sesuatu. Suatu ketika kebetulan orang tua guru beliau sakit sehingga pengajian hendak diliburkan. Melihat hal itu syeikh Abu hasan berkata kepada gurunya,” Syeikh ngajar saja, biar persoalan orang tua saya yang nangani”. Akhirnya Abu Hasan ini yang merawat orang tua gurunya. Di saat pengajian selesai dan si gruru masuk ruangan, ia melihat Abu Hasan membersihkan kotoran orang tuanya yang sedang buang air. 

Akhirnya si syeikh meneteskan air mata dan mengucapkan barakallah fik (semoga Allah memberkatimu) dan mendoakannya. Akhirnya, seperti diceritakan sendiri oleh syeikh Abu Hasan Ali An Nadawi bahawa sejak itu pikirannya menjadi terbuka, sehingga para ulama Mesir terkagum-kagum dengan tulisan An Nadwadi dan karya-karyanya. Padahal beliau masih berumur 19 tahun. Diantaranya yang kagum adalah Syeikh Yusuf Qaradhawi, As Sya’rawi, dan Sayyid Qutub.

Orang tua biasanya kasihan dengan kesehatan fisik kita. Tapi guru itu kasihan dengan ilmu kita. Sehingga kalau kita belajar dengan seorang guru, maka ilmu akan lebih mudah diserap dan berdampak. Ilmu terserap tidak hanya karena pengajian kita, tapi doa dan munajat para guru. Dalam buku-buku ulama klasik biasanya tertulis, i’lam hadaniya Allah wa iyakum (ketahuilah, semoga Allah memberi hidayah kepada saya dan diri kalian). Itu doa untuk pembaca kitab, nah mana aja majalah yang seperti itu?

Apakah talaqqi terlalu susah, sehingga banyak yang lari dengan membaca buku sendiri?

Gak susah juga, mungkin karena para masyayih sekarang tidak ada waktu untuk meluangkan diri mengajar dengan tradisi seperti itu. Yang bisa seperti itu biasanya adalah kiai-kiai zuhud, yang merasa cukup dengan keadaan apa adanya. Sedang bagi kiai yang hidupnya harus menyesuaikan keadaan, tidak ada waktu untuk itu. Masayikh-masayikh ana di Mekkah itu keperluannya sudah dipenuhi. Sehingga itu tidak hanya menyumbangkan ilmu, tapi juga materi. Ngaji di sana digaji, gimana gakbetah? Kalau pas zakat setiap guru memberi 500 real. Kalau lima guru saja sudah hampir 3000 real atau 7 juta. Nah sekarang mana ada masyayikh seperti itu.

Sekarang malah sebaliknya, santri yang dikuras. Jadi sudah susah ditemukan seorang syeikh yang memiliki waktu untuk talaqqi, padahal kalau dulu sampai imla’ hadits. Imam Yahya Ibnu Ma’in itu punya harta besarnya satu milyar dirham. Semuanya diinfaqkkan untuk mencari ilmu, hingg sandal saja tidak punya. Jadi dulu duit dihabiskan untuk ilmu, kalau sekarang sebaliknya, ilmu untuk cari uang.

IRSYADAT AL FADHIL

(Petikan ucapan sulung al-Fadhil Syaikh Muhammad Nuruddin hari pertama pengajian di kelas al-Ma'hadul ‘Ali Lit Tafaqquh Fiddin Derang, Kedah - pada hari Itsnin 9 Ramadhan 1419H bersamaan 28 Disember 1998 M.)

1). Jangan tersilau dengan gelar PhD atau MA dan sebagainya. Penubuhan al Ma’hadul 'All Littafaqquh Fiddin ini untuk mendapat redha Allah dan membawa misi dan visi Nasratu Dinillah Taala dan adda‘watu ilallah Menuntut ilmu untuk menolong agama Allah, bukan untuk sijil, syahadah atau untuk dunia serta pangkat.

2). Terlalu murah kalau dengan ilmu hanya untuk mendapat gaji lumayan. Kalau belajar hanya untuk duit akan terhenti dengan duit, dapat duit tinggal ilmu.

3). Tanggungjawab kita lah terhadap ilmu di tanahair khususnya dan seluruh dunia umumya.

4). Siapkan diri untuk berkorban demi ilmu, agama. Ilmu untuk agama dan akhirat.

5). Bekerjalah untuk Islam, jangan biarkan musuh Islam mengukut tanah umat Islam dikeranakan ulama kita tidur sedang kita asyik bertengkar sesama sendiri.

6). Jadilah 'abidan lillah (hamba kepada Allah jangan 'abidan li makhluk (hamba kepada makhluk). Menuntut ilmu harus ikhlas baru berkat.

7). Berakhlaklah dengan guru yang kita mengaji dengannya. Mohon restu guru, dekati dan dampingi mereka merupakan kunci dan rahsia keberhasilan.

8). Hormatilah kitab-kitab, susun dengan baik dan terhormat, jangan letak sesuatu di atas kitab, membawa kitab jangan seperti menenteng ikan sahaja, dakapkan ke dada.

9). Akhlak juga harus besar sebagaimana besarnya kitab-kitab yang kita pelajari dan beramallah, jangan sampai belajar di kelas Tafaqquh tapi tak berminat untuk beramal.

10). Saya bukan seperti kebanyakan guru silat yang menyimpan langkah-langkah atau jurus-jurus maut yang mematikan dari diketahui murid-murid. 

BELAJAR LEWAT BUKU TANPA MAU DEKAT DENGAN ULAMA ADALAH PINTU KESESATAN

Talaqqi artinya belajar ilmu agama secara langsung kepada guru yang mempunyai kompetensi ilmu, tsiqah, dhabit dan mempunyai sanad kelimuan yang meuttasil sampai ke Rasulullah s.a.w melalui para Ulama Alimin Arifin.

Apa manfaat aktif di talaqqy?

1). Memiliki sanad keilmuan yang jelas

Kata Ibnul Mubarak, “Sanad merupakan bahagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” Dikatakan juga, “Permisalan orang yang ingin mengetahui perkara agamanya tanpa sanad, seperti orang yang menaiki suthuh (bahagian atas) sebuah rumah tanpa tangga"


2). Mendapat ilmu dari lisan para ulama yang mumpuni di bidangnya.

Syarat seseorang sukses dalam menutut ilmu oleh para ulama disebutkan:

a). Berbekal potensi akal untuk diisi dengan ilmu.
b). Ada guru yang akan membantu membuka jalan dalam belajar.
c). Didukung oleh kitab-kitab yang sahih.
d). Memiliki kesungguhan dan kontiunitas dalam belajar.

Apabila ada komponen ini yang tidak dipenuhi, maka akan ada ketimpangan dalam belajar dan dikhawatirkan meruai kegagalan dalam belajar agama. Sebuah pesan arab menyebutkan: ambillah ilmu dari lisan para rijal, karena mereka menghafal hal-hal terbaik yang mereka dengar. Lalu mereka sampaikan hal-hal terbaik dari apa yang mereka hafal. Dengan demikian seorang santri akan denagn mudah dan dalam waktu pendek mendapati kucni-kunci dan filosofi ilmu. Di dalam nasehat lain disebutkan bahawa salah satu syarat untuk sukses dalam belajar adalah irsyaadu ustaazin atau suhbatu ustaazin (ada arahan dan ayoman dari seorang guru).

3). Tidak salah dalam memahami ilmu.

Di dalam sebuah syair dijelaskan, “Orang-orang yang mengambil ilmu dari gurunya secara lisan, Dari kesesatan dan penyelewengan akan terhindar dan orang-orang yang mengambil ilmu dari lembaran-lembaran kertas,Ilmunya di kalangan ahli ilmu dianggap tiada!”

Di syair lain dijelaskan,

“Apakah engkau mengaku sebagai seorang berilmu, sementara engkau tidak membaca kitab dengan seorang syaikh yang akan menghilangkan keresahanmu? Apakah engkau mengira, bahawa otakmu akan menjelaskan hal-hal yang musykil? Tanpa ada guru yang memberitahukannya? Demi Allah otak benar-benar telah membohongi! Dan mencari ilmu tanpa guru sama halnya dengan orang yang menghidupkan lentera tanpa memiliki minyaknya”.

Ilmu agama tidak bisa dipelajari secara otodidak, karena banyak hal dalam agama yang tidak bisa dicapai oleh logika manusia, butuh keimanan. Selain itu, banyak hal dalam agama yang mesti dicontohkan pelaksanaannya, tidak bisa diandai-andaikan atau dibuat-buat. Karena agama islam bersumber dari wahyu langit, yang diwariskan secara turun temurun dari Rasul Saw kepada sahabat, dari sahabat kepada tabi`in, dari tabi`in kepada tabi` tabi`in, dari tabi` tabi`in kepada ulama salaf, dari ulama salaf dilanjutkan kepada ulama khalaf, yang seterusnya dilanjutkan kepada kita secara bersambungan. Ilmu agama bukan dari logika manusia, kesepakatan manusia, sebuah penelitian atau apapun bentuknya. Ijtihad yang dilakukan manusia pun butuh kepada dalil. Dalil naqly juga butuh kepada kesahihan dalil, yang juga butuh kepada sanad yang berkesinambungan (ittishal sanad)

4). Belajar adab.

Di dalam majlis ilmu kita diajarkan dan dicontohkan oleh seorang `alim rabbani tentang adab sebagai seorang hamba Allah yang mesti beribadah kepada Allah, diantara ibadah itu adalah berakhlaq baik kepada semua yang ada di alam raya. Seorang ulama bahkan memesankan kepada anaknya, “lihatlah adab si fulan sebelum engkau belajar ilmu darinya!”

Apa yang dicari dengan aktif di talaqqi?

a). Mensyukuri nikmat sehat, nikmat waktu, dan nikmat muda.

b). Berupaya mengikuti sirah yang telah ditorehkan oleh para "rijal". Kalau pun tidak bisa seperti mereka, bisa meniru mereka adalah sebuah kebahagiaan terbesar yang telah diraih!

c). Mencari kesempatan untuk mendapatkan rahmat Allah, mencari ketenangan hati, mendapatkan naungan malaikat, berharap istigfar dari burung di udara, makhluq di daratan, ikan di dalam air, dan menjadi salah satu yang sedang berjuang fie sabilillah.

d). Mempersiapkan bekal untuk menjadi pewaris para Nabi.

Bagaimana mengatur waktu?

Apapun jadwal yang kita lakukan selain pendidikan formal, bagi kita jadwal-jadwal itu adalah jadwal yang bebas untuk menentukan dan memilihnya. Oleh karena itu kita lebih memiliki keleluasaan dalam menentukan jadwal yang kita lakukan. Bentrokan jadwal bisa saja terjadi, tapi kita bebas untuk menentukan satu diantara sekian program yang mungkin dilakukan. Dengan keleluasaan kita dan berpikir yeng cerdas, kita akan mampu menentukan kegiatan kita secara proporsional dan mampu menentukan skala prioritasnya.

Apa keunggulan aktif di talaqqi?

1). Bertemu dengan para ulama yang rabbani dan mendapatkan kesempatan menghadiri riyaadhul jannah (taman-taman syurga).

2). Menguasai bahasa arab lebih baik dan mengetahui maksud istilah-istilah yang biasa digunakan oleh para ulama zaman dahulu dan sekarang, sehingganya tidak salah dalam memahami ilmu syariat.

3). Terbangunnya sebuah malakah ilmiah (intellectual quotient) yang baik.

4). Memperpendek waktu dalam belajar.

No comments:

Post a Comment