Saturday, January 25, 2014

DISEBALIK PEMBANTAIAN ETNIS ROHINGYA

Terungkap, Daftar Perusahaan Multinasional Di Balik Tragedi Pembantai Etnis Rohingya

PILARBANGSA.COM, Jakarta - Gerakan Pemuda (GP) Ansor menyebut tragedi kemanusiaan Rohingya adalah yang terparah di kawasan Asia Tenggara saat ini. GP Ansor juga menduga kuat kekerasan atas etnis Rohingya dilakukan tangan negara, baik aparat militer-kepolisian maupun pemerintahan Myanmar. Hal itu setidaknya didasarkan pada laporan penginderaan secara satelit oleh UNOSAT maupun HRW, terdapat pola-pola (patterns) serangan terhadap desa-desa etnis Rohingya yang memang telah ditargetkan. Wakil Sekjen Pimpinan Pusat GP Ansor, Dr. Mahmud Syaltout, mengatakan, pihaknya sudah membaca laporan dari UN Office of the High Commissioner for Human Rights (OHCHR) 2017 maupun laporan-laporan dari lembaga yang dipercaya lainnya.

Diketahui, 60 ribu lebih etnis Rohingya merasa nyawanya terancam. Mereka pergi menyelamatkan diri dari daerah konflik. Ribuan korban telah tewas dibunuh secara keji, ribuan orang pula telah dihilangkan secara paksa, 64 persen dari etnis Rohingya melaporkan pernah mengalami penyiksaan secara fisik maupun mental. Sebanyak 52 persen perempuan Rohingya melaporkan mengalami pemerkosaan atau pelecehan seksual yang mengerikan, ditambah penangbila dan penahanan secara sewenang-wenang sekaligus penyiksaan selama penahanan terhadap ribuan warga Rohingya, perusakan maupun penjarahan terhadap rumah, harta benda, makanan dan sumber makanan warga Rohingya secara masif, serta pengabaian maupun ketiadaan perawatan kesehatan terhadap para korban.

GP Ansor menilai tragedi kemanusiaan terhadap etnis Rohingya merupakan konflik geopolitik, khususnya pertarungan kuasa dan kekuasaan yang tak seimbang di daerah Arakan-Rakhine, yang dihuni mayoritas etnis Rohingya. Dari data yang mereka terima, terjadi perebutan tanah dan sumber daya, khususnya minyak dan gas, di wilayah-wilayah tertentu. Berikut rinciannya. Pipa gas (mulai beroperasi 1 Juli 2013, dengan kapasitas 193,6 juta kubik kaki per hari) dan pipa minyak (mulai beroperasi 1 Desember 2013 dengan kapasitas 400 ribu barrels per hari) dari Kyauk Phyu ke perbatasan China sepanjang 803 km. Dikelola oleh konsorsium bersama dengan komposisi kepemilikan saham 50,9 persen CNPC (China), 25,04 persen Daewoo International (Korea), 8,35 persen ONGC (India), 7,37 persen MOGE (Myanmar), 4,17 persen GAIL (India) dan 4,17 persen investor-investor swasta lainnya;

Pipa gas (mulai beroperasi 1 Juli 2013, dengan kapasitas 105,6 juta kaki kubik per hari) dari Shwe ke Kyauk Phyu sepanjang 110 km. Dikelola konsorsium bersama dengan komposisi kepemilikan saham 51 persen Daewoo International (Korea), 17 persen ONGC (India), 15 persen MOGE (Myanmar), 8,5 persen GAIL (India) dan 8,5 KOGAS (Korea). Blok-blok minyak dan gas di Semenanjung Rakhine, di mana Daewoo International (Korea), ONGC (India), MOGE (Myanmar), GAIL (India), KOGAS (Korea), Woodside Petroleum (Australia), CNPC (China), Shell (Belanda/Inggris), Petronas (Malaysia), MOECO (Jepang), Statoil (Norweigia), Ophir Energy (Inggris), Parami Energy (Myanmar), Chevron (Amerika Serikat), Royal Marine Engineering (Myanmar), Myanmar Petroleum Resources (Myanmar), Total (Prancis), PTTEP (Thailand) dan Petronas Carigali (Malaysia) beroperasi dan berproduksi.

Daerah Semenanjung Rakhine dilaporkan memiliki cadangan terbukti sebesar 7,836 triliun kaki kubik gas dan 1,379 miliar barel minyak, yang beberapa blok di antaranya berproduksi sejak 2013, ditawarkan tahun ini sebagai temuan baru. Beberapa blok lain, jatuh tempo kontraknya tahun 2017 ini. Terakhir, blok-blok minyak dan gas di daratan Arakan di mana North Petro-Chem Corp (China), Gold Petrol (Myanmar), Interra Resources (Singapura), Geopetrol (Prancis), Petronas Carigali (Malaysia), PetroleumBrunei (Brunei), IGE Ltd. (Inggris), EPI Holdings (Hongkong/China), Aye Myint Khaing (Mynmar), PTTEP (Thailand), MOECO (Jepang), Palang Sophon (Thailand), WIN Resources (Amerika Serikat), Bashneft (Russia), A1 Construction (Myanmar), Smart Technical Services (Myanmar), Myanmar Petroleum Resources (Myanmar) dan ONGC (India) beroperasi dan berproduksi.

Di daerah terakhir itu, dilaporkan memiliki cadangan terbukti sebesar 1,744 triliun kaki kubik gas dan 1,569 miliar barel minyak, yang beberapa blok di antaranya jatuh tempo kontraknya pada tahun 2017 ini. GP Ansor mempelajari konflik geopolitik yang sangat berdarah di daerah-daerah kaya sumber daya alam bukan fenomena khas Myanmar, dan bukan hanya menimpa etnis Rohingya, tapi juga terjadi di belahan bumi yang lain. Untuk menutupi operasi apropriasi kapital dan sumber daya, secara menjijikkan operator-operator di lapangan membungkusnya dengan konflik antar etnis, antar agama, antar kelompok masyarakat.

Etnis Rohingya yang tinggal di daerah Arakan-Rakhine memang menjadi sasaran khusus dengan operasi terselubung (covered operation) apropriasi kapital dan sumber daya, yang secara biadab dan terencana menyasar praktik dan simbol agama serta membenturkan antar umat beragama. “Termasuk di dalamnya dengan melakukan pembakaran Al Quran, pemerkosaan di masjid, mempersenjatai dan memprovokasi warga Rakhine untuk juga melakukan persekusi terhadap minoritas Rohingya,” ungkap Dr. Mahmud Syaltout.

No comments:

Post a Comment