Sunday, January 13, 2013

AHLI IBADAH YANG RUGI

Al-kisah, Ada seorang ahli ibadah bernama Abu bin Hasyim, Beliau sangat rajin bangun 1 atau3 Malam untuk tahajud. Bertahun-tahun lamanya dia tidak pernah meninggalkan solat tahajud.

Pada suatu ketika saat beliau hendak mengambil wudhu untuk solat tahajud, Abu dikejutkan oleh satu lembaga makhluk yang duduk di tepi periginya.

Abu bertanya, “Wahai hamba Allah, siapakah Engkau?” 

Makhluk itu berkata; “Akulah Malaikat utusan Allah”.

Abu Bin Hasyim merasa terkejut dan sekaligus merasa bangga dengan kedatangan tetamu malaikat mulia itu. Dia lalu bertanya, “Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” 

Malaikat itu menjawab, “Aku disuruh mencari hamba pencinta Allah.” 

Abu Melihat Malaikat itu sedang memegang kitab tebal, Abu lalu bertanya, “Wahai Malaikat, Kitab apakah yang kau bawa?” 

Malaikat menjawab, “Ini adalah Golongan nama hamba-hamba pencinta Allah.”

Mendengar jawapan Malaikat itu, Abu bin Hasyim sangat berharap di dalam hatinya namanya ada di situ. Maka ditanyalah Malaikat itu. “Wahai Malaikat, adakah namaku tersenarai di kitab itu?” Abu merasakan bahawa namanya pasti ada di kitab itu, kerana beliau merasakan amalan ibadahnya yang tidak kenal putusnya. Selalu mengerjakan solat tahajud setiap malam, berdo’a dan bermunajat pada Allah SWT di sepertiga malam. 

“Baiklah, aku buka,” kata Malaikat sambil membuka kitab besarnya. Dan, ternyata Malaikat itu tidak menemui nama Abu di dalamnya.  Abu Tidak percaya, Abu bin Hasyim meminta Malaikat mencarinya sekali lagi. 

Malaikat berkata "Benar namamu tidak ada di dalam kitab ini!” 

Abu bin Hasyim pun tersentap gementar dan jatuh tersungkur di depan Malaikat. Dia menangis semahu-mahunya dan berkata, “Rugi sekali diriku yang selalu tegak berdiri di setiap malam dalam tahajud dan bermunajat tetapi namaku tidak masuk dalam golongan para hamba pecinta Allah,”

Malaikat berkata, “Wahai Abu bin Hasyim! Bukan aku tidak tahu engkau bangun setiap malam ketika yang lain tidur. Kau mengambil air wudhu dalam kesejukan pada saat orang lain terlelap dalam buaian malam. Tapi tanganku dilarang oleh Allah menulis namamu.”

“Apakah yang menjadi penyebabnya?” Tanya Abu bin Hasyim.

“Engkau memang bermunajat kepada Allah, Tapi engkau pamerkan dengan rasa bangga kemana-mana dan asyik beribadah memikirkan diri sendiri. Sedang di kanan dan kirimu ada orang sakit dan kelaparan, kau tidak ziarah mereka dan memberikan bantuan ataupun makanan. Bagaimana mungkin engkau dapat menjadi hamba pencinta Allah kalau engkau sendiri tidak pernah mencintai hamba-hamba yang diciptakan Allah?

Abu bin Hasyim tersentap. Dia tersedar bahwa hubungan ibadah manusia tidaklah hanya kepada Allah semata (hablumminAllah), Tetapi juga kepada sesama manusia (hablumminannas) dan alam semula jadi.

Tengku Daeng Mawelle

No comments:

Post a Comment