Friday, September 2, 2016

HUWA ALLAH

Asalnya Huwa-Allah menjadi Hu-Allah dalam kekosongan sekosong-kosongnya yang ada Hu-Ah. Sesiapa yang benar benar ingin mencari kebenaran hakikat Ke-Tuhanan pasti akan mencari apa rahasia disebalik kalimat 'Dia Allah' (Huwa Allah).

Kenapa Huwa-Allah?
Kenapa tidak Allah Allah?

Dalam surah Al-Ikhlas, Ada disebutkan kalimat Huwa-Allah, Surah Al-Ikhlas adalah kunci gerbang untuk kita mengenal diri-Nya yang Esa. Huwa ini menekankan tentang Allah yang berdiri sendiri, kata huwa dapat juga menjadi kunci pintu untuk memasuki alam “Rabb” atau alam ke-Tuhanan yaitu Allah yang bukan lagi huruf dan bukan lagi kalimat kata.

Huwa-Allah menjadi sangat penting dalam memasuki alam makrifat. Itu sebab setiap aliran tarekat pasti, ending pengajarannya mengajarkan zikir Huu-Allah ini dan menggabungkan dengan keluar masuknya nafas.

Rahasia dibalik kalimat Huu-Allah adalah sebab kalimat ini dapat menjadi kunci untuk masuk ke alam makrifat, Huu-Allah yang dikombinasikan dengan nafas menjadi latihan yang efektif untuk menuju pada kesedaran tentang Zat Allah. Setelah terbukanya ilmu zikir nafas ini maka yang rahasia sudah tidak rahasia lagi.

Siapa saja dapat memasukinya dan Siapapun dapat mempelajarinya, ilmu Allah sudah terbuka luas bagi anda, yang penting sekarang adalah niat kita, kemahuan kita. Mahu bersama Allah atau tidak.

Orang zaman dulu tidak dapat menerangkan tentang kesedaran “consciousness” tapi sekarang perkembangan ilmu psikologi dan ilmu neurologi dapat menjelaskan dengan sangat jelas tentang hal yang masih dianggap rahasia.

Rasulullah selalu memerintahkan kita untuk bertauhid dengan benar, bertauhid dengan kelurusan jiwa, dan mendalami alam hakikat dan makrifat, sampai benar benar kita paham “Hai Muhammad bukan engkau yang melempar tapi katakan Aku yang melempar”. Surah AL-IKHLAS adalah surah yang menceritakan akan Ke-Esa-an Allah, Tetapi mengapakah ianya dinamakan al-ikhlas? ianya adalah kerana Ikhlas itu adalah kunci gerbang utk kita Mengenal diri-Nya yg ESA.

Dari kaca mata syariat, ikhlas itu adalah perbuatan hanya kerana Allah. Dari kacamata makrifat pula ianya lebih mendalam iaitu perbuatan itu perlu kembali kepada Allah, dengan kata lain mengembalikan Zat, asma, sifat, af'al makhluk itu kepada Allah. Setelah itu barulah dinamakan hakikat ikhlas atau sebenar- benar ikhlas apabila tiada lagi wujud "berhala diri".

Tengku Daeng Mawelle

No comments:

Post a Comment