Friday, July 1, 2016

KULIAH ZIKIR DARI IMAM IBNU ATHA’ILLAH

Menurut Ibnu Atha’illah, zikir lisan adalah zikir dengan kata-kata semata, tanpa kehadiran kalbu (hudhur). Zikir ini adalah zikir lahiriah yang memiliki keutamaan besar seperti yang ditunjukkan oleh beberapa ayat Al-Quran, hadis, dan atsar.  Zikir lisan terbahagi dalam beberapa bahagian. Ada yang terikat dengan waktu dan tempat, serta ada pula yang bebas (tidak ditentukan tempat dan waktunya). Zikir yang terikat, misalnya bacaan ketika solat dan setelah solat, bacaan ketika haji, sebelum tidur, setelah bangun, sebelum makan, ketika menaiki kenderaan, zikir di waktu pagi dan petang, dan seterusnya. 

Sementara yang tidak terikat dengan waktu, tempat, ataupun keadaan, misalnya pujian kepada Allah seperti dalam untaian kalimat, “Subhana Allah wa al-hamdu li Allah wa la ilaha illa Allah wa Allah akbar wa la hawla wa la quwwata illa bi Allah al-‘aly al-‘azhim (Mahasuci Allah, segala puji bagi-Nya, tiada Tuhan selain-Nya, dan Allah Mahabesar, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi dan Mahabesar).” 

Contoh lainnya adalah zikir berupa doa seperti, “Rabbana la tu’akhizna in nasina aw akhtha’na...,” atau munajat lainnya. Selain itu, terdapat pula bacaan selawat atas Nabi SAW yang akan memberi pengaruh lebih besar ke dalam Qalbu para pemula(beginner) daripada zikir yang tidak disertai munajat. Sebab, orang yang bermunajat, kalbunya merasa dekat dengan Allah. Ia termasuk sarana yang memberikan pengaruh tertentu dan menghiaskan rasa takut pada kalbu.

Zikir lisan ada yg bersifat riayah misalnya ketika mengucapkan kalimat, “Allah bersamaku, Allah melihat ku.” Ucapan tersebut mengandungi usaha utk menjaga kemaslahatan Qalbu. Ia adalah zikir utk memper kuat kehadiran Qalbu bersama Allah, memelihara etika di hadapanNya, menjaga diri dari sikap lalai, berlindung dari syaitan terkutuk dan utk dapat khusyuk dlm ibadah.

No comments:

Post a Comment