Thursday, July 21, 2016

RAHSIA LISAN DAN HATI PARA WALI

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:  “Bersungguh2lah engkau dlm meraih derajat makrifatullah, krn engkau akan menyelam bersamaNya, kokoh dgn keteguhan diri menuju kpd Allah, serta dgn ilmuNya engkau menuju kpdNya. Perkataanmu adalah cermin hatimu. Lisanmu adalah penerjemah hatimu. Jika hati seseorg bercampur-baur banyak perkara, maka dia kadang berkata benar dan kadang berkata salah. Dia tidak dpt mengubah apa yg tersembunyi dlm hati. 

Jika hati seseorang telah terbebas dari syirik, maka lisannya akan lurus dan benar. Jika dia bersekutu dan mengikuti sifat makhluk, maka dia dapat berubah, terpeleset dan berdusta. Krn itu, di antara para pembicara, ada org2 yg berbicara dari hati nya, ada pula yg berbicara dari rahasianya, dan bahkan ada yg berbicara dari hawa nafsu, setan dan kebiasaan buruknya. Jika engkau mencintai atau membenci seseorg, janganlah cinta dan bencimu berlandaskan hawa nafsu dari tabiat burukmu, tapi ukurlah dgn Al-Qur’an dan Sunnah. Jika apa yg engkau cintai sesuai, maka cintailah terus menerus. Demikian pula jika kau membenci pada seseorang. 

Jika kebencianmu tidak mendtgkan manfaat, maka dekatilah hati org2 shaleh dan bertanya lah kpd mrk. Karena hatinya adalah kebenaran. Jika hatinya benar, maka dia akan benar di sisi Allah. Jika hati beramal dgn Al-Quran dan Sunnah, maka ia akan menjadi dekat kpdNya, serta akan mengetahui hak dan kewajiban nya sendiri. Dia tahu apa yg harus ditunaikan utk Allah dan apa yg harus dilakukan kpd sesuatu selainNya.

Jika seorang Mukmin saja mampu memiliki cahaya yg menerangi penglihatannya, apalagi org2 yg benar (Shiddiq) dan dekat kpd Allah. Org Mukmin memiliki cahaya yg digunakan utk memandang sesuatu, krn Nabi telah memperingatkan tentang ketajaman penglihatannya. Rasulullah saw bersabda, “Takutlah kpd firasat org Mukmin, karena dia melihat dgn cahaya Allah.” Orang yang ‘arif dan dekat kepada Allah, juga diberi cahaya sehingga dapat melihat kedekatan antara dirinya dengan Allah. 

Dia mampu melihat ruh para malaikat, nabi, hati dan ruh orang-orang shiddiq , serta melihat keadaan dan kedudukan mereka. Selama nya dia bergembira bersama Allah. Dia berpisah dgn makhluk. Di antara mereka ada yg lisan dan hatinya mengetahui. Ada pula yg hatinya mengetahui dan lisan menjadi juru bicaranya. Sedangkan orang munafik, lisannya mengetahui, namun hatinya gagap. Semua ilmunya hanya di mulut saja, sedangkan hatinya buta.” (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dlm kitab Al-Fath Ar-Rabbani wa al-Faidh ar-Rahman).

No comments:

Post a Comment