Tuesday, August 16, 2016

HAKIKAT ZIKIR MENURUT SYEIKH ABDUL QADIR AL JILANI

Syeikh Abdul Qadir Al Jilani berkata, diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: “Maukah kuceritakan kepadamu tentang amalmu terbaik dan paling bersih dalam pandangan Allah swt, serta orang yg tertinggi darjatnya di antaramu, yang lebih baik dari menyedekahkan emas dan perak serta memerangi musuh2mu dan memotong leher mereka, dan mereka juga memotong lehermu? Para sahabat bertanya, Apakah itu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Dzikir kepada Allah swt” (Riwayat Baihaqi).

Rasulullah saw bersabda: “Yang paling utama aku ucapkan, aku dan ucapan para Nabi sebelumku adalah 'Laa Ilaaha Illallaah'. 

Setiap Maqam Zikir ada syarat martabat tertentu, baik zikir bersuara (Jahr) maupun yang tersembunyi (Khafi). Bermula adalah Zikir Lisan, kemudian Zikir Jiwa (Nafs), kemudian Zikir Qalbu, lalu Zikir Roh, kemudian Zikir Sirr (Rahsia Roh), kemudian Zikir Rahsia (Khafi), lalu Zikir Paling Rahasia (Akhfal Khafi). Zikir Lisan adalah zikir, di mana dengan zikir itu mengingatkan qalbu yang lalai pada ingat Allah Taala. Zikir Jiwa (Nafs) adalah zikir yang terdengar oleh huruf maupun suara, tetapi terdengar oleh rasa dan gerak-gerik dalam batin. 

Zikir Qalbu adalah aktiviti qalbu dengan segala apa yang tersembunyi di dalamnya dari pancaran Kemaha-agungan dan Kemaha-indahanNya. Zikir Roh, tersimpul pada penyaksian Cahaya2 Tajalli Sifat. Zikir Sirr, adalah fokusnya ketersingkapan rahsia2 Ilahiyah.  Zikir Khafi adalah menyelaraskan Cahaya-Cahaya Kemahaindahan Zat Ahadiyah di tempat yang benar. Sedangkan Zikir Akhfal Khafi adalah memandang pada Hakikat Haqqul Yaqin, dan tak ada yg nampak kecuali hanya Allah Taala, sebagaimana firmanNya: “Maka sesungguhnya Dia Maha Tahu yang rahsia dan yang lebih tersembunyi (Thaha:7).”

Perlu diketahui, di sana ada sisi Roh lain yang lebih lembut dibanding roh2 yang ada yang disebut dengan 'Thiflul Maani', iaitu suatu kelembutan yang memotivasi seluruh gerak menuju kepada Allah swt. Para Ulama Sufi menegaskan, Roh ini tidak bersemai pada setiap orang namun lebih bersemai pada kalangan Khusus, sebagaimana firman Allah Taala: “Allah mempertemukan Roh dari perintahNya pada orang yang dikehendaki dari kalangan hamba2Nya (Ghafir:15).”

Roh tersebut yg berganding secara lazim dgn Alam Qudrat dan Musyahadah di Alam Hakikat, sehingga sama sekali tidak berpaling kpd selain Allah swt, spt yg disabdakan oleh Rasulullah saw: “Dunia itu haram bagi Ahli Akhirat, dan Akhirat itu haram bagi Ahli Dunia, dan keduanya haram bagi Ahlullah (Ad-Daylamy).”

Sedangkan Jalan Wushul kepada Allah Taala, melalui peneladanan jejak secara fisik di jalan yang lurus melalui Hukum Syariat, baik malam maupun siang. Sedangkan di satu sisi, harus melakukan zikir kepada Allah Taala, sebagai keharusan yang mesti dilakukan oleh Para Pencari, sebagaimana firmanNya: “Iaitu org2 yg berzikir kepada Allah baik ketika berdiri dan ketika duduk dan ketika tidur, dan bertafakur (Ali Imran: 191).” Yang dimaksudkan dengan berdiri adalah zikir di siang hari, dan makna duduk adalah zikir di malam hari. Begitu pula ketika dalam tidur, dalam suasana tergenggam Ilahi, terhamparkan keleluasaan jiwanya, ketika sehat, sakit, kaya, miskin, mulia dan abadi, dan sebagainya.

No comments:

Post a Comment